Daftar Isi 5 bagian
RuangInvest.com – Jakarta, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mulai memborong saham setelah koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan lalu. Langkah ini berlangsung di tengah kekhawatiran investor terhadap rencana penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, mengatakan pihaknya mulai membeli sejumlah saham sejak Rabu (21/10/2026) dan melanjutkan aksi tersebut pada Kamis (22/10/2026). Danantara memilih saham berdasarkan fundamental perusahaan, valuasi, serta prospek pertumbuhan bisnis.
Sementara itu, IHSG menunjukkan pemulihan pada perdagangan Kamis. Indeks sempat dibuka di zona merah pada level 5.247, tetapi kemudian berbalik menguat hingga mencapai 5.408 menjelang penutupan sesi pertama. Pergerakan tersebut memberikan gambaran bahwa tekanan pasar mulai mereda, meskipun investor masih mencermati perkembangan isu MSCI.
Danantara Mulai Borong Saham saat Pasar Terkoreksi
Pandu menegaskan bahwa Danantara akan terus mengoleksi saham selama valuasinya menarik dan perusahaan memiliki prospek bisnis yang baik. Menurutnya, keputusan investasi harus mengacu pada kualitas fundamental emiten, bukan semata-mata mengikuti sentimen negatif pasar.
“Jadi per kemarin, hari ini, kita sudah membeli saham-saham yang ada yang menurut kami atractive, dan kita akan terus (koleksi) selama value itu menarik dan punya prospek yang baik,” kata Pandu saat ditemui awak media di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Selain itu, Danantara melihat peluang pada sejumlah perusahaan tercatat yang masih memiliki kinerja bisnis dan prospek pertumbuhan menjanjikan. Pandu menyoroti beberapa perusahaan pelat merah, khususnya di sektor keuangan, yang menurutnya mempunyai fundamental kuat.
Karena itu, koreksi harga saham tidak serta-merta membuat Danantara menjauhi pasar. Sebaliknya, penurunan harga dapat membuka peluang investasi ketika valuasi suatu perusahaan menjadi lebih menarik dibandingkan prospek bisnisnya.
Danantara Nilai Fundamental Emiten Masih Menarik
Pandu menilai pengumuman MSCI mengenai konsultasi penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia belum sepenuhnya mencerminkan kondisi seluruh perusahaan tercatat. Menurutnya, investor perlu membedakan persoalan pada struktur pasar modal dari kualitas bisnis masing-masing emiten.
“MSCI menurut kami ada perbedaan antara dari sisi isu pasar modal dengan perusahaan yang ada di pasar modal itu sendiri, apalagi saham-saham bumn yang dimiliki Danantara memiliki fundamental yang baik dan growth prospek yang baik, dan hari valuasinya cukup baik,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Danantara tetap mempertimbangkan peluang investasi di tengah ketidakpastian. Namun, pendekatan ini tidak berarti seluruh saham otomatis menarik untuk dibeli. Setiap emiten tetap memerlukan penilaian berdasarkan kondisi keuangan, kemampuan menghasilkan laba, prospek industri, dan harga sahamnya.
Di sisi lain, sentimen negatif terhadap pasar modal dapat memengaruhi harga saham secara luas, termasuk saham perusahaan dengan kinerja bisnis yang relatif baik. Oleh sebab itu, investor perlu mencermati perbedaan antara penurunan harga akibat sentimen pasar dan perubahan fundamental perusahaan.
Investasi Danantara Bergantung pada Risiko dan Valuasi
Danantara juga berencana meningkatkan investasi di pasar modal secara bertahap. Pandu menjelaskan bahwa lembaganya tetap berorientasi pada keuntungan dan mempertimbangkan keseimbangan antara potensi imbal hasil dengan risiko investasi.
“Dari sisi DIM tentu kami profit oriented, kami melihat sekarang dari sisi risk reward menarik, kami juga sudah mulai masuk pasar modal, dan itu akan bertambah terus tergantung nanti kondisi pasar,” kata dia.
Dengan demikian, Danantara tidak menetapkan pembelian saham hanya berdasarkan momentum pemulihan indeks. Kondisi pasar, valuasi emiten, dan peluang keuntungan tetap menjadi pertimbangan sebelum lembaga tersebut menambah investasinya.
Pendekatan itu juga memperlihatkan pentingnya disiplin dalam mengelola portofolio. Meskipun harga saham turun dan valuasi terlihat lebih murah, investor tetap perlu memeriksa apakah penurunan tersebut sejalan dengan risiko bisnis atau hanya mencerminkan tekanan sentimen sementara.
IHSG Bangkit setelah Menyentuh Level Terendah Lima Tahun
Tekanan terhadap IHSG meningkat pada pekan sebelumnya setelah MSCI mengumumkan konsultasi terkait kemungkinan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia menjadi standalone market. Kekhawatiran tersebut memicu perhatian investor terhadap prospek pasar saham domestik.
Dalam periode tekanan itu, IHSG sempat menyentuh level 4.907. Level tersebut tercatat sebagai posisi terendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir, menurut data dalam laporan yang menjadi bahan pemberitaan ini.
Namun, pergerakan indeks pada Kamis (22/10/2026) menunjukkan pemulihan. IHSG membuka perdagangan pada level 5.247 di zona merah, lalu bergerak naik hingga 5.408 menjelang penutupan sesi pertama.
Kenaikan tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa tren pelemahan telah berakhir. Pasar masih dapat bergerak volatil karena investor terus menilai dampak isu MSCI, kondisi likuiditas, serta perkembangan kebijakan yang berkaitan dengan transparansi pasar modal Indonesia.
Apa Artinya bagi Investor Saham?
Langkah Danantara mengoleksi saham dapat menjadi perhatian pelaku pasar karena menunjukkan adanya minat investasi ketika harga terkoreksi. Meski begitu, investor ritel tidak seharusnya langsung meniru setiap keputusan pembelian lembaga investasi tersebut.
Investor perlu menyesuaikan strategi dengan tujuan keuangan, toleransi risiko, dan jangka waktu investasi masing-masing. Selain itu, keputusan membeli saham sebaiknya tetap mengacu pada analisis fundamental dan teknikal yang relevan.
Beberapa hal yang perlu dicermati investor di tengah volatilitas pasar antara lain:
- Fundamental perusahaan: periksa pertumbuhan pendapatan, laba, arus kas, utang, dan prospek bisnis emiten.
- Valuasi saham: bandingkan harga saham dengan kinerja dan prospek perusahaan, bukan hanya dengan harga tertingginya.
- Risiko portofolio: hindari menempatkan dana secara berlebihan pada satu saham atau sektor tertentu.
- Perkembangan MSCI: pantau pengumuman resmi dan perubahan kebijakan yang berpotensi memengaruhi minat investor asing.
- Likuiditas dana: sisakan dana yang cukup untuk kebutuhan penting dan hindari penggunaan dana darurat untuk mengejar peluang pasar.
Pada akhirnya, aksi beli Danantara dan pemulihan IHSG menjadi dua perkembangan penting di tengah tekanan pasar modal Indonesia. Namun, arah indeks berikutnya tetap bergantung pada sentimen, kondisi ekonomi, serta respons investor terhadap perkembangan isu MSCI.
Karena itu, investor sebaiknya tidak menjadikan satu sesi penguatan sebagai jaminan pemulihan berkelanjutan. Pendekatan yang disiplin, pemilihan saham berdasarkan fundamental, dan pengelolaan risiko tetap menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan pasar.




