Daftar Isi 4 bagian
Ruanginvest.com – Mitsubishi ubah strategi ASEAN setelah produsen mobil China memperkuat persaingan di kawasan. Perusahaan asal Jepang itu akan mengurangi porsi model baru yang secara khusus menyasar Asia Tenggara, meski wilayah ini selama bertahun-tahun menjadi salah satu tumpuan penjualannya.
Perubahan tersebut muncul saat kinerja Mitsubishi menunjukkan tekanan di sejumlah pasar. Penjualan di Thailand turun sekitar separuh dalam lima tahun terakhir, sementara pertumbuhan penjualan di Filipina melambat sejak awal tahun fiskal 2026 pada April.
Ketergantungan pada ASEAN mulai dikoreksi
CEO Mitsubishi Motors Takao Kato mengakui perusahaan terlalu berfokus pada kebutuhan pasar ASEAN dalam rencana jangka menengah sebelumnya. Dalam pemaparan visi jangka menengah dan panjang pada akhir Mei, ia mengatakan perusahaan perlu meninjau kembali arah pengembangan produknya. Nikkei Asia mengutip pernyataan Kato pada Minggu, 25 Oktober.
Mitsubishi memiliki sejarah panjang di kawasan ini. Perusahaan memulai produksi di Thailand pada 1966, kemudian memperluas kehadirannya ke Indonesia, Vietnam, dan negara lain sebelum banyak pesaing masuk. Jejak awal tersebut membantu ASEAN berkembang menjadi bagian penting dalam bisnis global Mitsubishi.
Dalam satu dekade terakhir, porsi Asia Tenggara terhadap penjualan global Mitsubishi naik dari 20 persen menjadi 31 persen. Namun, perkembangan itu juga membuat perusahaan semakin bergantung pada kawasan tertentu. Sejak 2020, produsen mobil listrik China merebut pangsa pasar di Asia Tenggara dan menambah tekanan bagi pemain lama.
Perubahan persaingan berjalan bersamaan dengan pergeseran kebutuhan konsumen dan pilihan kendaraan. Mitsubishi belum meluncurkan mobil listrik di Thailand, salah satu pasar pentingnya di kawasan. Sementara itu, perlambatan pertumbuhan di Filipina memberi sinyal bahwa kinerja kuat di suatu pasar belum tentu menjamin momentum yang sama pada periode berikutnya.
Hanya satu model baru berfokus ke kawasan
Dalam rencana terbaru, Mitsubishi akan meluncurkan 13 model selama enam tahun hingga tahun fiskal 2031. Dari jumlah tersebut, hanya satu model yang secara khusus diarahkan ke Asia Tenggara, yaitu generasi baru Xpander. Model yang menjadi basisnya pertama kali meluncur pada 2017.
Jumlah itu berbeda dari rencana jangka menengah sebelumnya, yang menargetkan empat model baru untuk kawasan pada tahun fiskal 2023 hingga 2025. Kini Mitsubishi menempatkan sebagian besar pengembangan produk pada pasar maju. Sekitar 10 model akan diarahkan ke pasar tersebut, termasuk minicar dan kendaraan listrik.
Perubahan alokasi itu menunjukkan bahwa Mitsubishi ingin menyebarkan fokus bisnis ke luar Asia Tenggara. Namun, arah baru tersebut tidak berarti perusahaan sepenuhnya meninggalkan kawasan. Xpander generasi baru tetap masuk dalam rencana, sementara produk dan pasar lain dapat dilayani melalui strategi berbeda, termasuk kerja sama dengan produsen lain.
Salah satu contohnya adalah kolaborasi OEM untuk mobil listrik kompak yang dirakit oleh Foxconn asal Taiwan. Mitsubishi berencana memasarkan kendaraan tersebut di Australia dan Selandia Baru tahun ini. Dengan memanfaatkan mitra, perusahaan dapat memperluas penawaran kendaraan listrik tanpa hanya mengandalkan pengembangan model sendiri.
Meski begitu, pergeseran prioritas produk membawa tantangan tersendiri bagi basis pelanggan Mitsubishi di ASEAN. Produk baru kerap menjadi cara produsen menjaga daya tarik merek dan menghadapi perubahan pilihan konsumen. Karena rencana terbaru hanya mencantumkan satu model yang berfokus pada kawasan, efektivitas Xpander generasi baru akan menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan kehadiran perusahaan.
Target global lebih rendah dari rencana sebelumnya
Mitsubishi menargetkan penjualan global 900.000 unit pada tahun yang berakhir Maret 2030. Sasaran itu naik 13 persen dibandingkan penjualan pada tahun fiskal 2025. Namun, target tersebut masih jauh di bawah puncak 1,24 juta unit yang dicapai pada tahun fiskal 2018.
Angka terbaru juga lebih rendah daripada target 1,1 juta unit dalam rencana sebelumnya. Dengan demikian, Mitsubishi tidak hanya mengubah tujuan pasar, tetapi juga menetapkan sasaran volume yang lebih konservatif. Perusahaan menempatkan pertumbuhan dalam kerangka yang lebih rendah dibandingkan capaian tertingginya.
Fokus pada pasar maju tetap memiliki risiko. Laporan Nikkei Asia menilai skala bisnis Mitsubishi bisa menjadi lebih kecil jika perusahaan mengalihkan perhatian dari ASEAN. Pangsa pasar perusahaan di Amerika Serikat dan Jepang hanya beberapa persen, sedangkan jaringan dealernya lebih sedikit daripada pesaing.
Jaringan tersebut menyusut setelah Mitsubishi mengurangi jumlah dealer selama bertahun-tahun menghadapi kinerja lemah sejak 2000. Karena itu, perusahaan perlu mengembangkan produk yang mampu bersaing sekaligus menjaga jangkauan penjualan di pasar tujuan. Tantangannya bukan sekadar menentukan negara sasaran, melainkan memastikan Mitsubishi dapat menjangkau konsumen di sana.
Perubahan kepemilikan menambah sorotan
Di sisi lain, berakhirnya kesepakatan kunci dengan pemegang saham utama membuka perhatian baru terhadap struktur kepemilikan Mitsubishi Motors. Kesepakatan itu melibatkan pihak seperti Nissan dan Mitsubishi Corp. Pembatasan penjualan saham berlaku selama 10 tahun setelah investasi Nissan pada 2016.
Kesepakatan tersebut berakhir pada 20 Oktober. Setelah itu, pemegang saham dapat menjual kepemilikannya jika persyaratan tertentu terpenuhi, termasuk memperoleh persetujuan Mitsubishi Motors. Namun, hingga laporan tersebut disampaikan, belum ada pemegang saham utama yang menunjukkan niat untuk segera mengurangi kepemilikannya.
Harga saham Mitsubishi Motors turun lebih dari 30 persen dibandingkan penutupan pada 20 Oktober 2016. Seorang pemegang saham besar dari grup Mitsubishi mengatakan perusahaan semestinya benar-benar berdiri sendiri seiring meningkatnya kritik terhadap kepemilikan silang. Pernyataan itu menambah konteks bagi perusahaan yang kini juga sedang menata ulang fokus produk dan pasar.
Ke depan, Mitsubishi menghadapi dua pekerjaan yang saling terkait: memperbaiki daya saing produk dan menjaga skala bisnis. ASEAN tetap penting berkat sejarah serta kontribusinya terhadap penjualan, tetapi persaingan kendaraan China mengubah perhitungan perusahaan. Rencana 13 model hingga tahun fiskal 2031 akan menjadi ujian apakah fokus yang lebih seimbang dapat mendukung target global Mitsubishi.




