Daftar Isi 6 bagian
RuangInvest.com – Jakarta, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan kriteria evaluasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan menambahkan saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) sebagai kategori pengecualian. Kebijakan ini akan berlaku efektif pada 2 November 2026.
BEI mengambil langkah tersebut untuk membuat komposisi IHSG lebih mewakili dinamika pasar saham Indonesia. Selain itu, penyesuaian ini mengacu pada ketentuan mengenai penerapan free float dalam penghitungan indeks serta penetapan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi pada perusahaan tercatat.
Berdasarkan informasi keterbukaan BEI yang dikutip pada Kamis (22/10/2026), perubahan tersebut mencakup kriteria seleksi saham, jadwal evaluasi, hari efektif, dan mekanisme evaluasi insidental. Sementara itu, BEI tetap mempertahankan metode penghitungan indeks yang berlaku saat ini.
BEI Ubah Kriteria Evaluasi IHSG Mulai November 2026
Dalam aturan sebelumnya, BEI memasukkan seluruh saham perusahaan tercatat ke dalam kriteria seleksi IHSG, kecuali saham yang masuk Papan Akselerasi. Melalui kebijakan terbaru, BEI menambahkan saham yang masuk kategori HSC ke dalam daftar pengecualian tersebut.
Dengan demikian, saham yang masuk kategori HSC tidak lagi memenuhi kriteria seleksi IHSG berdasarkan ketentuan baru ini. Langkah tersebut berkaitan dengan upaya BEI meningkatkan keterwakilan indeks terhadap kondisi pasar yang sebenarnya.
Kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam perubahan tersebut. Pasalnya, konsentrasi kepemilikan dapat memengaruhi jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan secara bebas di pasar.
Namun, investor perlu membedakan perubahan kriteria seleksi indeks dari perubahan fundamental perusahaan. Kebijakan ini mengatur kelayakan saham dalam evaluasi IHSG dan tidak secara otomatis menunjukkan bahwa kinerja keuangan emiten tertentu memburuk.
Metode Penghitungan IHSG Tetap Menggunakan Free Float
Selain mengubah kriteria seleksi, BEI juga mempertahankan metode penghitungan IHSG. Bursa tetap menggunakan metode Capped Free Float Adjusted Market Capitalization Weighted dengan batas pembobotan atau cap sebesar 9 persen.
Metode tersebut memperhitungkan kapitalisasi pasar berdasarkan saham yang tersedia untuk diperdagangkan secara bebas atau free float. Sementara itu, batas pembobotan membantu membatasi pengaruh saham tertentu dalam komposisi indeks.
Karena itu, perubahan terbaru tidak mengubah metode dasar penghitungan IHSG. Fokus kebijakan terletak pada saham yang memenuhi kriteria seleksi dan penyesuaian jadwal evaluasi indeks.
Bagi investor, informasi mengenai free float dan konsentrasi kepemilikan dapat menjadi bahan tambahan saat menilai karakteristik saham. Meski begitu, investor tetap perlu mempertimbangkan likuiditas, kinerja keuangan, valuasi, dan prospek bisnis emiten sebelum mengambil keputusan investasi.
Jadwal Evaluasi IHSG Berubah Menjadi Januari, April, Juli, dan Oktober
BEI juga mengubah periode evaluasi IHSG. Sebelumnya, bursa menjadwalkan evaluasi pada Maret, Juni, September, dan Desember.
Dalam ketentuan baru, BEI menggeser jadwal evaluasi ke Januari, April, Juli, dan Oktober. Perubahan tersebut turut menggeser jadwal hari efektif penerapan hasil evaluasi indeks.
Sebelumnya, BEI menetapkan hari bursa pertama pada Januari, April, Juli, dan Oktober sebagai waktu efektif. Selanjutnya, berdasarkan aturan baru, hari efektif jatuh pada hari bursa pertama Februari, Mei, Agustus, dan November.
Perubahan jadwal ini membuat investor perlu memperhatikan kalender evaluasi indeks terbaru. Terlebih lagi, penyesuaian komposisi indeks dapat memengaruhi strategi pengelola portofolio yang menjadikan IHSG sebagai acuan investasi.
BEI Tambahkan Mekanisme Evaluasi Insidental Saham HSC
Perubahan berikutnya menyangkut evaluasi insidental. Dalam ketentuan sebelumnya, BEI belum mengatur secara khusus mekanisme penyesuaian IHSG ketika saham masuk atau keluar dari kategori HSC di luar periode evaluasi reguler.
Melalui kebijakan terbaru, BEI menetapkan bahwa saham yang masuk atau keluar dari kategori HSC di luar jadwal evaluasi indeks akan segera mengalami penyesuaian dalam IHSG. Dengan demikian, perubahan status tersebut tidak harus menunggu periode evaluasi berikutnya.
Mekanisme ini menjadi salah satu aspek penting dalam aturan baru. Sebab, status HSC suatu saham dapat berubah di luar jadwal evaluasi reguler, sehingga bursa membutuhkan mekanisme penyesuaian yang mengikuti perubahan tersebut.
Meski begitu, investor perlu mencermati pengumuman resmi BEI untuk mengetahui saham yang masuk atau keluar dari kategori HSC. Informasi tersebut membantu investor memahami perubahan komposisi indeks dan kemungkinan dampaknya terhadap strategi investasi.
Dasar Aturan Free Float dan Kepemilikan Saham Terkonsentrasi
BEI menjelaskan bahwa penyesuaian kriteria evaluasi IHSG merujuk pada Pengumuman PT Bursa Efek Indonesia Nomor Peng-00148/BEI.POP/05-2021 tanggal 31 Mei 2021 mengenai Penerapan Free Float dalam Penghitungan Indeks.
Selain itu, kebijakan tersebut merujuk pada Surat Keputusan Bersama Direksi PT Bursa Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia. Dokumen itu memiliki nomor Kep-00047/BEI/03-2026 dan KEP-0024/DIR/KSEI/0426, yang mengatur Penetapan Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi pada Perusahaan Tercatat.
Kedua ketentuan tersebut menjadi landasan bagi penyesuaian kriteria seleksi indeks. Sementara itu, tanggal efektif 2 November 2026 menandai dimulainya penerapan aturan baru tersebut.
Dampak Perubahan Kriteria IHSG bagi Investor
Perubahan kriteria evaluasi IHSG membuat investor perlu memperhatikan status saham yang mereka miliki. Khususnya, investor perlu mencermati pengumuman mengenai kategori HSC dan kelayakan saham dalam komposisi indeks.
Selain itu, perubahan komposisi indeks berpotensi memengaruhi pengelola dana yang menggunakan indeks sebagai acuan portofolio. Namun, dampak terhadap transaksi dan harga saham tertentu bergantung pada kondisi pasar, likuiditas, serta keputusan masing-masing pelaku investasi.
Investor sebaiknya tidak langsung menjual saham hanya karena muncul perubahan kriteria indeks. Sebaliknya, investor perlu menilai alasan perubahan status saham, kondisi fundamental emiten, volume perdagangan, dan profil risiko pribadi.
Pada akhirnya, penyesuaian ini menegaskan perhatian BEI terhadap free float dan konsentrasi kepemilikan saham dalam evaluasi indeks. Investor dapat mengikuti pengumuman resmi bursa untuk memahami implementasi kebijakan tersebut mulai November 2026.




