Price to Earning Ratio: Cara Menilai Valuasi Saham dengan Tepat

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – Price to earning ratio menjadi salah satu rasio investasi yang paling sering digunakan investor untuk menilai valuasi saham. Rasio ini membantu melihat apakah harga suatu saham tergolong mahal, murah, atau masih berada pada level yang wajar berdasarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba.

Dalam praktiknya, banyak investor menggunakan price to earning ratio sebagai langkah awal sebelum melakukan analisis fundamental yang lebih mendalam. Dengan memahami rasio ini, investor dapat menghindari keputusan investasi yang hanya didasarkan pada pergerakan harga saham semata.

Selain itu, price to earning ratio juga memberikan gambaran mengenai ekspektasi pasar terhadap prospek pertumbuhan perusahaan di masa depan. Karena itu, rasio ini menjadi indikator penting dalam proses seleksi saham, baik bagi investor pemula maupun yang sudah berpengalaman.

Apa Itu Price to Earning Ratio?

Price to earning ratio (PER) adalah rasio yang membandingkan harga saham dengan laba per saham atau earnings per share (EPS). Rasio ini menunjukkan berapa kali investor bersedia membayar setiap satu rupiah laba yang dihasilkan perusahaan.

Secara sederhana, semakin tinggi nilai PER, semakin besar harapan pasar terhadap pertumbuhan laba perusahaan pada masa mendatang. Sebaliknya, PER yang rendah dapat menunjukkan bahwa saham sedang berada pada valuasi yang relatif murah atau pasar memiliki pandangan yang lebih konservatif terhadap prospek perusahaan.

Karena kemudahan penggunaannya, price to earning ratio sering menjadi alat screening awal untuk menemukan saham yang menarik sebelum investor meneliti laporan keuangan secara lebih detail.

Kelebihan Price to Earning Ratio

Popularitas price to earning ratio tidak terlepas dari kemampuannya memberikan gambaran valuasi saham secara cepat dan praktis. Berikut beberapa kelebihannya:

  • Mudah dipahami oleh investor pemula karena rumusnya sederhana.
  • Memudahkan perbandingan saham dalam sektor industri yang sama.
  • Efektif digunakan sebagai alat screening awal saham.
  • Mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan perusahaan.
  • Membantu investor menilai apakah harga saham sudah terlalu mahal atau masih wajar.

Selain itu, PER dapat digunakan untuk melihat perubahan valuasi suatu perusahaan dari waktu ke waktu. Investor dapat membandingkan nilai PER saat ini dengan rata-rata historis perusahaan untuk mengetahui apakah saham sedang diperdagangkan di atas atau di bawah valuasi normalnya.

Kekurangan Price to Earning Ratio

Meskipun bermanfaat, price to earning ratio tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan investasi.

Beberapa kelemahan PER yang perlu dipahami antara lain:

  • Tidak relevan untuk perusahaan yang sedang merugi.
  • Tidak memperhitungkan tingkat pertumbuhan laba secara langsung.
  • Sulit digunakan untuk membandingkan perusahaan dari sektor berbeda.
  • Rentan terpengaruh fluktuasi laba jangka pendek.

Karena itu, investor sebaiknya mengombinasikan PER dengan indikator fundamental lainnya seperti Return on Equity (ROE), Price to Book Value (PBV), margin laba, dan pertumbuhan pendapatan.

Dengan pendekatan tersebut, penilaian terhadap saham akan menjadi lebih komprehensif dan akurat.

Jenis-Jenis Price to Earning Ratio

Dalam analisis saham, terdapat dua jenis price to earning ratio yang paling umum digunakan investor.

Trailing Twelve Months (TTM) PER

TTM PER dihitung menggunakan laba per saham dari empat kuartal terakhir atau 12 bulan terakhir.

Karena menggunakan data historis yang sudah dipublikasikan, jenis PER ini dianggap lebih objektif. Investor dapat melihat bagaimana pasar menghargai kinerja perusahaan berdasarkan laba yang benar-benar telah dihasilkan.

Selain itu, TTM PER juga berguna untuk memantau perubahan valuasi saham dari waktu ke waktu. Jika rasio terus meningkat, harga saham mungkin semakin mahal dibandingkan kemampuan menghasilkan laba.

Forward PER

Forward PER menggunakan proyeksi laba masa depan sebagai dasar perhitungan.

Jenis rasio ini banyak digunakan investor yang fokus pada pertumbuhan perusahaan. Forward PER mencerminkan harapan pasar terhadap peningkatan laba yang akan datang.

Namun, karena berbasis estimasi, tingkat ketidakpastiannya lebih tinggi dibandingkan TTM PER. Jika proyeksi laba tidak tercapai, maka hasil analisis dapat menjadi kurang akurat.

Price to Earning Ratio Rumus dan Cara Menghitungnya

Rumus price to earning ratio sangat sederhana:

Price to Earning Ratio = Harga Saham ÷ Earnings Per Share (EPS)

Harga saham diperoleh dari harga pasar saat ini. Sementara itu, EPS dihitung dari laba bersih perusahaan yang dibagi jumlah saham beredar.

Berikut contoh perhitungannya.

Saham PT Maju Sejahtera diperdagangkan pada harga Rp3.600 per lembar. Perusahaan mencatatkan laba bersih Rp180 miliar dengan jumlah saham beredar sebanyak 900 juta lembar.

Langkah pertama menghitung EPS:

EPS = Rp180.000.000.000 ÷ 900.000.000

EPS = Rp200

Langkah kedua menghitung PER:

PER = Rp3.600 ÷ Rp200

PER = 18 kali

Artinya, investor bersedia membayar Rp18 untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan perusahaan. Angka tersebut kemudian digunakan untuk menilai apakah valuasi saham masih menarik dibandingkan perusahaan sejenis.

Berapa Nilai Price to Earning Ratio yang Baik?

Tidak ada angka baku yang berlaku untuk semua perusahaan. Setiap sektor memiliki karakteristik, risiko, dan tingkat pertumbuhan yang berbeda.

Oleh sebab itu, PER harus dibandingkan dengan:

  • PER historis perusahaan.
  • PER perusahaan sejenis.
  • Rata-rata PER sektor industri.
  • PER pasar secara keseluruhan.

Meski demikian, terdapat beberapa acuan umum yang sering digunakan investor.

PER di Bawah 15 Kali

PER di bawah 15 kali sering dianggap menarik oleh investor yang menerapkan strategi value investing.

Namun, investor tetap perlu memastikan kondisi fundamental perusahaan berada dalam keadaan sehat. PER rendah tidak selalu berarti saham murah, karena bisa saja terdapat masalah bisnis yang belum terlihat.

PER di Bawah 7 Kali

PER yang sangat rendah dapat menjadi peluang maupun peringatan.

Di satu sisi, saham mungkin sedang undervalued. Namun di sisi lain, perusahaan bisa saja menghadapi penurunan kinerja yang serius.

Karena itu, analisis lanjutan terhadap arus kas, utang, dan prospek bisnis tetap diperlukan.

PER Negatif

PER negatif menunjukkan perusahaan sedang mengalami kerugian.

Dalam kondisi ini, PER tidak lagi relevan sebagai alat valuasi karena laba per saham bernilai negatif. Investor umumnya akan lebih berhati-hati terhadap perusahaan yang mencatatkan PER negatif dalam jangka panjang.

Price to Earning Ratio Penting untuk Analisis Saham

Price to earning ratio merupakan salah satu rasio investasi yang membantu investor menilai apakah harga saham sudah mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba.

Meskipun sederhana, PER mampu memberikan gambaran awal mengenai valuasi saham dan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan perusahaan. Namun, rasio ini tidak boleh digunakan secara terpisah tanpa mempertimbangkan indikator fundamental lainnya.

Karena itu, investor perlu mengombinasikan price to earning ratio dengan analisis menyeluruh terhadap kondisi keuangan, prospek bisnis, dan risiko perusahaan. Dengan pendekatan tersebut, keputusan investasi dapat dibuat secara lebih objektif dan terukur.

Pada akhirnya, investasi yang baik tidak hanya berfokus pada harga saham saat ini, tetapi juga pada nilai dan potensi pertumbuhan yang dimiliki perusahaan dalam jangka panjang. Dengan memahami PER secara benar, investor dapat membangun portofolio yang lebih sehat sekaligus mengelola risiko secara lebih bijak melalui diversifikasi investasi.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu