Ruanginvest.com – Pasar saham Indonesia, sejumlah saham jual asing mengalami tekanan saat IHSG terkoreksi 1,53 persen dalam sepekan perdagangan.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat net foreign sell terbesar, yakni Rp702,50 miliar. Selanjutnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat jual asing sebesar Rp626,78 miliar.
Selain itu, investor asing juga melepas saham BBNI, BUMI, ADRO, BBRI, TLKM, CPIN, AMMN, dan PACK. Secara keseluruhan, investor asing mencatat net sell Rp3,64 triliun di pasar saham domestik selama sepekan.
BMRI dan BBCA Pimpin Saham Jual Asing
BMRI menjadi saham dengan net foreign sell terbesar dalam sepekan. Investor asing mencatat jual bersih Rp702,50 miliar pada saham tersebut.
Pada periode yang sama, harga saham BMRI turun 2,29 persen. Saham bank tersebut menutup perdagangan di level Rp4.260 per unit.
Sementara itu, BBCA berada di posisi kedua dengan net foreign sell Rp626,78 miliar. Harga saham BBCA berakhir di Rp6.300 per unit atau turun 0,40 persen dalam sepekan.
Selanjutnya, BBNI mencatat net foreign sell Rp204,38 miliar. Saham BBNI turun 2,67 persen menjadi Rp3.650 per unit.
Tekanan jual asing juga terlihat pada BUMI dan ADRO. BUMI mencatat net foreign sell Rp178,66 miliar, sedangkan ADRO mencapai Rp169,73 miliar.
Daftar Saham Jual Asing Terbesar dalam Sepekan
Selain BMRI, BBCA, BBNI, BUMI, dan ADRO, beberapa saham berkapitalisasi besar lain juga masuk daftar jual bersih asing.
BBRI mencatat net foreign sell Rp160,59 miliar. Namun, berbeda dengan mayoritas saham dalam daftar tersebut, BBRI justru menguat 1,22 persen sepanjang pekan ke Rp3.310 per unit.
Kemudian, TLKM mencatat net foreign sell Rp113,41 miliar. Harga saham TLKM turun 1,54 persen menjadi Rp2.560 per unit.
CPIN juga mencatat tekanan jual asing sebesar Rp108,77 miliar. Saham tersebut turun 0,32 persen dalam sepekan dan berakhir di Rp3.150 per unit.
Sementara itu, AMMN mencatat net foreign sell Rp97,43 miliar. Harga saham AMMN terkoreksi 3,70 persen sepanjang pekan menjadi Rp4.680 per unit.
PACK berada di posisi berikutnya dengan net foreign sell Rp85,94 miliar. Namun, harga saham PACK masih menguat 0,89 persen ke Rp565 per unit.
- BMRI: net foreign sell Rp702,50 miliar, harga turun 2,29 persen.
- BBCA: net foreign sell Rp626,78 miliar, harga turun 0,40 persen.
- BBNI: net foreign sell Rp204,38 miliar, harga turun 2,67 persen.
- BUMI: net foreign sell Rp178,66 miliar, harga turun 8,96 persen.
- ADRO: net foreign sell Rp169,73 miliar.
- BBRI: net foreign sell Rp160,59 miliar, harga naik 1,22 persen.
- TLKM: net foreign sell Rp113,41 miliar, harga turun 1,54 persen.
- CPIN: net foreign sell Rp108,77 miliar, harga turun 0,32 persen.
- AMMN: net foreign sell Rp97,43 miliar, harga turun 3,70 persen.
- PACK: net foreign sell Rp85,94 miliar, harga naik 0,89 persen.
IHSG Turun 1,53 Persen dan Asing Catat Net Sell
Tekanan jual asing muncul ketika IHSG menghadapi pelemahan sepanjang pekan. Pada Jumat (18/9), IHSG turun 0,33 persen ke level 6.441,16.
Sebelumnya, IHSG sempat menguat dan menguji level 6.521. Namun, indeks kembali melemah hingga penutupan perdagangan.
Pelemahan juga terjadi di hampir seluruh sektor. Sektor industrial mencatat koreksi terdalam sebesar 1,64 persen.
Selanjutnya, sektor property turun 1,44 persen dan healthcare melemah 1,12 persen. Sementara itu, sektor technology menjadi satu-satunya sektor yang menguat dengan kenaikan 0,27 persen.
Dalam sepekan, IHSG melemah 1,53 persen. Pada periode yang sama, investor asing mencatat net sell Rp3,64 triliun di pasar saham domestik.
Kebijakan Moneter Global Jadi Perhatian Pasar
Menurut Phintraco Sekuritas, perkembangan kebijakan moneter global turut memengaruhi tekanan pasar. Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 1,25 persen.
Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 1995. Bank of Japan mengambil langkah tersebut di tengah upaya menekan risiko inflasi domestik.
Sementara itu, Federal Reserve sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00 persen. Kondisi tersebut menambah perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter global dan tekanan terhadap aset berisiko.
Dengan demikian, pergerakan saham domestik masih menghadapi pengaruh dari perkembangan kebijakan moneter global. Arus jual asing juga menjadi perhatian ketika IHSG bergerak melemah sepanjang pekan.
MNC Sekuritas Soroti Tekanan Jual IHSG
MNC Sekuritas menilai IHSG masih menghadapi tekanan jual. Pada timeframe weekly, indeks terkoreksi 1,53 persen dengan tekanan jual yang masih dominan.
Namun, volume perdagangan mulai mengecil. Kondisi tersebut menjadi bagian dari perhatian MNC Sekuritas dalam melihat pergerakan IHSG pada periode berikutnya.
Dalam skenario terburuk, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih berada pada bagian wave iv dari wave (c). Karena itu, indeks masih rawan menguji area 6.290-6.370.
Di sisi lain, MNC Sekuritas melihat peluang penguatan apabila IHSG mampu bertahan di atas 6.370. Dalam kondisi tersebut, IHSG berpeluang menuju rentang 6.541-6.581.
Pergerakan saham jual asing dan arah IHSG menjadi dua perhatian utama dalam perdagangan berikutnya. Investor juga menghadapi perkembangan kebijakan moneter global yang dapat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko.










