RuangInvest.com, Jakarta – BBCA jadi saham bank paling defensif di tengah dinamika pasar saham Indonesia. Penilaian tersebut disampaikan analis DBS Group Research yang menilai fundamental bisnis PT Bank Central Asia Tbk (BCA) masih lebih kuat dibandingkan sejumlah bank besar lainnya.
Di tengah ketidakpastian pasar dan tingginya volatilitas yang masih membayangi sektor keuangan, saham BBCA kembali menunjukkan daya tariknya bagi investor. Kinerja operasional yang solid menjadi salah satu alasan utama mengapa bank swasta terbesar di Indonesia itu tetap menjadi pilihan utama pelaku pasar.
Selain itu, penguatan harga saham BBCA dalam beberapa hari terakhir turut memperkuat optimisme investor terhadap prospek jangka panjang perseroan. Meskipun pertumbuhan kredit belum sepenuhnya sesuai target perusahaan, berbagai indikator keuangan masih menunjukkan ketahanan yang baik.
BBCA Jadi Saham Bank Paling Defensif Menurut DBS
Dalam laporan riset yang dikutip dari Dow Jones Newswires, Selasa (16/6/2026), DBS Group Research mempertahankan pandangan positif terhadap BCA. Lembaga riset tersebut menilai BCA memiliki posisi yang lebih defensif dibandingkan bank-bank besar lainnya di Indonesia.
Salah satu faktor utama yang menjadi keunggulan BCA adalah basis pendanaannya yang kuat. Hal itu tercermin dari rasio dana murah atau current account and savings account (CASA) yang termasuk tertinggi di industri perbankan nasional.
CASA merupakan indikator penting yang menunjukkan kemampuan bank menghimpun dana berbiaya rendah. Semakin tinggi rasio CASA, semakin rendah biaya dana yang harus ditanggung bank. Karena itu, bank memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga profitabilitas.
DBS menilai keunggulan tersebut membuat BCA mampu mempertahankan margin keuntungan yang sehat meskipun kondisi ekonomi dan pasar keuangan mengalami berbagai tekanan.
Selain itu, struktur pendanaan yang efisien memberikan fleksibilitas lebih besar bagi perusahaan dalam mengelola pertumbuhan bisnis ke depan.
Pendapatan Nonbunga Jadi Penopang Kinerja
Meskipun pertumbuhan kredit BCA selama lima bulan pertama 2026 tercatat lebih lambat dibandingkan panduan manajemen, kinerja perseroan tetap dinilai solid.
DBS mencatat bahwa pendapatan berbasis komisi atau noninterest income berhasil menjadi salah satu penopang utama kinerja perusahaan. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari peningkatan aktivitas transaksi valuta asing serta perdagangan.
Pendapatan nonbunga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas laba bank. Ketika pertumbuhan kredit melambat, sumber pendapatan alternatif seperti biaya transaksi dan layanan keuangan dapat membantu menopang kinerja secara keseluruhan.
Selain itu, diversifikasi sumber pendapatan membuat ketergantungan terhadap pendapatan bunga menjadi lebih rendah. Kondisi ini menjadi nilai tambah bagi BCA dibandingkan sejumlah pesaingnya.
Atas dasar berbagai pertimbangan tersebut, DBS tetap mempertahankan rekomendasi beli atau buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp8.000 per saham.
Prospek Profitabilitas Masih Terjaga
Menurut DBS, kemampuan BCA dalam menjaga profitabilitas masih relatif kuat. Hal itu didukung oleh biaya dana yang rendah berkat dominasi dana murah dalam struktur pendanaannya.
Dengan kondisi tersebut, tekanan terhadap margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) dinilai masih dapat dikelola dengan baik. Karena itu, prospek keuntungan perusahaan tetap menarik dalam jangka menengah hingga panjang.
Saham BBCA Melonjak Enam Hari Beruntun
Di pasar reguler Bursa Efek Indonesia, Rabu (17/6/2026) pukul 09.20 WIB, saham BBCA tercatat menguat 3,98 persen ke level Rp6.525 per saham.
Kenaikan tersebut memperpanjang reli saham BBCA menjadi enam hari perdagangan berturut-turut. Dalam sepekan terakhir, harga saham bank berkode emiten BBCA itu telah melonjak sekitar 26,70 persen.
Penguatan tajam tersebut terjadi setelah sebelumnya saham BBCA mengalami tekanan akibat derasnya arus keluar dana asing atau foreign outflow. Kondisi tersebut sempat mendorong harga saham turun hingga menyentuh level terendah sejak akhir Mei 2020.
Namun, seiring membaiknya sentimen pasar, investor kembali memburu saham-saham berfundamental kuat yang sebelumnya mengalami koreksi berlebihan.
BBCA menjadi salah satu saham yang paling banyak mendapat perhatian karena dinilai memiliki kualitas bisnis yang tetap terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi.
BBCA Jadi Pilihan Saat Pasar Mulai Pulih
Analis Sinarmas Sekuritas, Yosua Zisokhi, sebelumnya menyebut pergerakan saham BBCA menjadi salah satu indikator penting dalam fase pemulihan pasar saat ini.
Menurutnya, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai rebound setelah mengalami tekanan jual yang ekstrem, investor institusi umumnya akan kembali masuk ke saham-saham blue chip yang dinilai murah secara valuasi.
Beberapa saham perbankan besar menjadi pilihan utama karena memiliki fundamental yang kuat dan rekam jejak kinerja yang konsisten.
Beberapa saham yang banyak menjadi perhatian investor antara lain:
- BBCA
- BBNI
- BMRI
- BBRI
Yosua menilai saham-saham tersebut memiliki kualitas aset yang baik, kinerja keuangan yang solid, serta konsisten membagikan dividen kepada pemegang saham.
Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa volatilitas pasar masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek. Karena itu, investor tetap perlu memperhatikan manajemen risiko dan perkembangan sentimen global maupun domestik.
Dengan dukungan fundamental yang kuat, rasio CASA yang tinggi, serta kemampuan menjaga profitabilitas, BBCA jadi saham bank paling defensif yang masih menarik untuk dicermati investor. Prospek jangka panjang yang positif membuat saham ini tetap menjadi salah satu pilihan utama di sektor perbankan Indonesia, meskipun gejolak pasar belum sepenuhnya mereda.





