RuangInvest.com, Jakarta – IHSG naik Juli 2026 dengan performa yang cukup impresif setelah mengakhiri perdagangan pekan terakhir bulan Juli di zona hijau. Penguatan indeks terjadi meski investor asing masih aktif melakukan aksi jual bersih pada sejumlah saham unggulan.
IHSG ditutup menguat 0,80 persen ke level 6.236,13 pada perdagangan Jumat (31/7/2026). Secara mingguan, indeks juga membukukan kenaikan sebesar 0,64 persen, menandakan sentimen pasar yang mulai membaik.
Kenaikan tersebut sekaligus menjadi pencapaian penting karena sepanjang Juli 2026, IHSG melonjak hingga 10,51 persen secara bulanan atau month on month (MoM). Capaian itu mengakhiri tren pelemahan yang berlangsung selama enam bulan berturut-turut.
IHSG Ditopang Kenaikan Seluruh Sektor
Perdagangan pada Jumat ditutup dengan seluruh sektor berada di zona hijau. Kondisi ini menunjukkan optimisme investor kembali meningkat di berbagai lini industri.
Sektor teknologi menjadi motor utama penguatan dengan kenaikan mencapai 2,36 persen. Selain itu, sektor lain juga ikut menopang pergerakan indeks sehingga IHSG mampu mempertahankan tren positif hingga penutupan perdagangan.
Penguatan yang terjadi sepanjang Juli menjadi salah satu reli bulanan terbaik dalam beberapa waktu terakhir. Momentum tersebut menunjukkan minat beli domestik masih cukup kuat meskipun pasar dibayangi berbagai sentimen global.
Di sisi lain, pemulihan IHSG juga didukung oleh membaiknya kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional. Karena itu, sebagian investor mulai kembali melakukan akumulasi pada saham-saham pilihan.
Investor Asing Masih Catat Net Sell
Meskipun IHSG menguat, investor asing masih membukukan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp1,40 triliun di pasar reguler sepanjang pekan terakhir Juli.
Tekanan jual tersebut terutama menyasar saham-saham yang terafiliasi dengan kelompok konglomerasi besar. Fenomena ini menunjukkan bahwa penguatan indeks lebih banyak didorong oleh kekuatan investor domestik.
Grup Barito milik Prajogo Pangestu menjadi kelompok usaha yang paling banyak dilepas investor asing selama sepekan.
Rinciannya meliputi:
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): net sell Rp413,12 miliar.
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): net sell Rp95,22 miliar.
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): net sell Rp67,70 miliar.
Menariknya, meskipun mencatat aksi jual asing terbesar, saham TPIA tetap mampu naik 2,86 persen menjadi Rp2.160 per saham dalam sepekan. Hal ini menunjukkan tekanan jual asing masih dapat diimbangi oleh permintaan dari investor domestik.
Saham Grup Besar Ikut Tertekan
Selain Grup Barito, sejumlah saham dari konglomerasi lain juga mengalami tekanan jual investor asing.
Grup Bakrie menjadi salah satu yang terkena dampaknya. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat net sell sebesar Rp172,93 miliar, sedangkan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengalami net sell Rp85,10 miliar.
Sementara itu, saham yang berafiliasi dengan Grup Salim juga tidak luput dari aksi jual. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dibukukan mengalami net sell asing sebesar Rp187,23 miliar.
Grup Sinarmas turut masuk dalam daftar melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan nilai net sell Rp91,08 miliar.
Selain itu, saham Grup Merdeka juga mengalami tekanan. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatat aksi jual bersih investor asing sebesar Rp253,46 miliar.
Tidak hanya saham konglomerasi swasta, emiten BUMN dan saham berkapitalisasi besar juga ikut dilepas. PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) mencatat net sell Rp203,16 miliar.
Selanjutnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dibukukan mengalami net sell Rp147,82 miliar. Adapun PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatat aksi jual asing sebesar Rp84,68 miliar.
Prospek Investor Setelah IHSG Menguat
Kenaikan IHSG sepanjang Juli menjadi sinyal positif bagi pasar modal Indonesia. Namun, aksi jual asing yang masih berlangsung menunjukkan investor tetap perlu mencermati dinamika pasar secara hati-hati.
Selama aliran dana domestik masih mampu menopang perdagangan, peluang IHSG untuk mempertahankan tren penguatan tetap terbuka. Meskipun begitu, investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada pergerakan indeks, tetapi juga memperhatikan fundamental masing-masing emiten.
Beberapa hal yang dapat menjadi perhatian investor antara lain:
- Memantau arus dana asing pada pekan-pekan berikutnya.
- Memilih saham dengan fundamental dan kinerja keuangan yang kuat.
- Tidak terburu-buru mengejar saham yang sudah naik terlalu tinggi.
- Menerapkan diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko.
- Menunggu konfirmasi tren apabila ingin menambah posisi investasi.
Selain itu, musim laporan keuangan emiten juga berpotensi menjadi katalis berikutnya bagi pergerakan pasar. Emiten yang mampu membukukan pertumbuhan laba berpeluang menarik kembali minat investor.
Secara keseluruhan, penguatan IHSG naik Juli 2026 menjadi kabar positif setelah enam bulan mengalami tekanan. Walaupun investor asing masih mencatat net sell pada sejumlah saham konglomerasi, ketahanan pasar domestik menunjukkan fondasi yang cukup kuat. Apabila sentimen positif terus berlanjut dan didukung kinerja emiten yang solid, peluang IHSG untuk melanjutkan pemulihan dalam beberapa waktu ke depan masih terbuka.





