RuangInvest.com, Jakarta – 7 saham murah pilihan BRI Danareksa dinilai masih layak menjadi perhatian investor di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih berfluktuasi. Meskipun kondisi pasar belum sepenuhnya stabil, sejumlah emiten tetap menawarkan valuasi yang menarik dengan fundamental yang kuat.
Dalam riset yang diterbitkan Kamis (30/7/2026), BRI Danareksa Sekuritas menilai kombinasi pertumbuhan laba, pembagian dividen, ekspansi bisnis, hingga prospek jangka menengah menjadi faktor yang membuat beberapa saham tetap memiliki potensi kenaikan harga.
Selain itu, ketujuh emiten tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari batu bara, perbankan, otomotif, konsumsi, telekomunikasi, hingga farmasi. Diversifikasi sektor ini dinilai memberikan pilihan yang lebih luas bagi investor sesuai profil risiko masing-masing.
AADI Pimpin Daftar Saham dengan Valuasi Murah
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menjadi salah satu saham unggulan dalam daftar rekomendasi tersebut. Emiten ini diperdagangkan dengan valuasi sekitar 6 kali price to earnings (P/E), sementara target harga dipatok sebesar Rp12.400 per saham.
BRI Danareksa juga menyoroti pembagian dividen tunai sebesar USD200 juta yang telah dibayarkan pada Juni 2026. Dividen tersebut menghasilkan dividend yield sekitar 5,5 persen, sehingga menjadi daya tarik tambahan bagi investor yang mencari pendapatan pasif.
Meskipun laba bersih tahun 2025 turun menjadi USD760 juta, perusahaan masih memiliki struktur biaya produksi yang kompetitif. Selain itu, saldo laba yang kuat dinilai mampu menjaga fleksibilitas keuangan perseroan dalam jangka menengah.
Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga masuk dalam daftar saham pilihan. Target harga saham ini dipatok sebesar Rp2.630 dengan valuasi sekitar 8 kali P/E.
Pada kuartal I-2026, ADRO membukukan lonjakan laba sebesar 67 persen menjadi USD128 juta. Kinerja tersebut didorong oleh kenaikan harga batu bara serta peningkatan kontribusi laba dari ventura bersama yang melonjak hingga 939 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BBCA dan ASII Dinilai Tetap Menarik
Di sektor perbankan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap menjadi salah satu saham favorit. BRI Danareksa memberikan target harga Rp8.600 per saham dengan valuasi price to book value (PBV) sebesar 2,91 kali.
Hingga semester I-2026, laba bersih BBCA mencapai Rp29,5 triliun atau tumbuh 1,8 persen secara tahunan. Selain itu, penyaluran kredit untuk pertama kalinya berhasil menembus Rp1.036 triliun.
Walaupun pendapatan bunga bersih (NII) turun tipis sebesar 0,6 persen, pertumbuhan pendapatan berbasis komisi sebesar 11 persen mampu menopang kinerja perusahaan. Di sisi lain, dana murah atau CASA juga meningkat 10,2 persen sehingga memperkuat struktur pendanaan bank.
Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) memperoleh target harga Rp6.850 dengan valuasi sekitar 6 kali P/E.
BRI Danareksa menilai reposisi bisnis Astra menuju tiga lini usaha utama menjadi salah satu katalis positif. Selain itu, program pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp8 triliun dan rasio pembayaran dividen sebesar 45-50 persen turut meningkatkan daya tarik saham ini.
Di sisi operasional, laba inti Astra pada semester I-2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp13,5 triliun. Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan penjualan mobil sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
ICBP, TLKM, dan KLBF Punya Prospek Jangka Menengah
Di sektor barang konsumsi, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) memperoleh target harga Rp10.500 dengan valuasi sekitar 9 kali P/E.
Walaupun laba kuartal I-2026 turun sekitar 3 persen menjadi Rp2,57 triliun akibat kerugian selisih kurs, penjualan perusahaan masih tumbuh 8 persen. Pertumbuhan bisnis mi instan juga tetap dinilai solid meskipun biaya bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah masih memberikan tekanan terhadap margin keuntungan.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mendapat target harga Rp3.750 dengan valuasi sekitar 15,6 kali P/E.
Laba bersih Telkom memang turun 21,7 persen menjadi Rp4,34 triliun pada kuartal I-2026 akibat percepatan depresiasi aset. Namun, BRI Danareksa melihat sejumlah indikator operasional masih menunjukkan tren positif.
Average revenue per user (ARPU) layanan seluler meningkat 6,4 persen. Selain itu, arus kas operasi atau operating cash flow (OCF) tumbuh 3,1 persen. Peluang efisiensi pada sejumlah anak usaha juga dinilai dapat menjadi katalis pertumbuhan berikutnya.
Di sektor kesehatan, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) tetap dipandang sebagai saham defensif. Target harga yang diberikan sebesar Rp1.700 per saham dengan valuasi sekitar 9 kali P/E.
Penjualan Kalbe pada kuartal I-2026 tumbuh 10,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun laba bersih relatif stagnan di kisaran Rp1,02 triliun akibat kenaikan harga pokok penjualan, prospek perusahaan dinilai tetap terjaga.
Manajemen juga mempertahankan target kinerja sepanjang 2026. Selain itu, struktur permodalan yang sehat dengan tingkat utang rendah menjadi faktor pendukung bagi keberlanjutan pertumbuhan perusahaan.
Prospek Tetap Menarik di Tengah Volatilitas IHSG
BRI Danareksa menilai volatilitas IHSG tidak selalu menjadi hambatan bagi investor yang berorientasi jangka menengah hingga panjang. Sebaliknya, kondisi tersebut justru dapat dimanfaatkan untuk mengakumulasi saham dengan valuasi menarik dan fundamental yang tetap solid.
Ketujuh emiten yang direkomendasikan berasal dari sektor berbeda sehingga menawarkan diversifikasi portofolio. Selain itu, kombinasi dividen, pertumbuhan laba, ekspansi bisnis, hingga efisiensi operasional menjadi faktor yang dinilai mampu menjaga prospek masing-masing perusahaan.
Meski demikian, investor tetap disarankan mempertimbangkan profil risiko, kondisi pasar, dan tujuan investasi sebelum mengambil keputusan. Dengan strategi yang tepat, peluang memperoleh hasil investasi yang optimal masih terbuka di tengah dinamika pasar saham Indonesia.





