RuangInvest.com, Jakarta – BBCA jadi motor rebound IHSG dalam dua hari perdagangan terakhir setelah saham bank swasta terbesar di Indonesia itu menjadi salah satu penggerak utama penguatan pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup menguat 2,71 persen ke level 5.902 pada Rabu (10/6/2026), melanjutkan lonjakan 7,57 persen yang terjadi sehari sebelumnya.
Penguatan tersebut menarik perhatian pelaku pasar karena terjadi saat investor asing masih aktif melakukan aksi jual di Bursa Efek Indonesia. Meski begitu, investor domestik terlihat mampu menyerap tekanan jual tersebut dan menjadi penopang utama kenaikan indeks.
Kondisi ini memunculkan optimisme baru terhadap pasar saham domestik. Namun, sejumlah analis menilai reli yang sangat cepat dalam dua hari terakhir masih membutuhkan konfirmasi pada perdagangan berikutnya untuk memastikan apakah tren penguatan dapat berlanjut.
BBCA Jadi Motor Rebound IHSG
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi pusat perhatian investor. Emiten perbankan berkapitalisasi besar tersebut mencatat nilai transaksi terbesar di pasar dengan total Rp4,1 triliun.
Selain itu, volume perdagangan BBCA mencapai 747,4 juta saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 122.371 kali. Angka tersebut menjadikan BBCA sebagai saham paling aktif diperdagangkan sepanjang sesi.
Kinerja tersebut melanjutkan dominasi BBCA pada perdagangan sebelumnya. Pada Selasa, saham ini juga menjadi emiten dengan nilai transaksi terbesar yang mencapai Rp3,86 triliun.
Tidak hanya aktif diperdagangkan, harga saham BBCA juga menunjukkan penguatan signifikan. Setelah naik 6,19 persen pada Selasa, saham BBCA kembali melesat 9,71 persen pada perdagangan Rabu.
Analis Sinarmas Sekuritas, Yosua Zisokhi, menilai penguatan BBCA menjadi salah satu indikator penting dalam proses pemulihan pasar. Menurutnya, saham-saham perbankan besar menjadi tujuan utama investor ketika pasar mulai menunjukkan tanda-tanda rebound.
Saham Blue Chip Jadi Buruan Investor
Yosua menjelaskan bahwa investor institusi biasanya akan masuk ke saham-saham blue chip yang dinilai mengalami penurunan harga berlebihan atau undervalued.
Beberapa saham yang menjadi pilihan utama antara lain:
- BBCA
- BBRI
- BMRI
- BBNI
Menurutnya, saham perbankan memiliki fundamental yang kuat, kinerja keuangan yang stabil, serta rekam jejak pembagian dividen yang konsisten.
Karena itu, ketika valuasi saham dianggap sudah terlalu murah, investor cenderung memanfaatkan momentum untuk melakukan akumulasi.
Investor Domestik Dominan di Tengah Jual Bersih Asing
Salah satu hal yang menarik dari reli pasar dalam dua hari terakhir adalah masih derasnya aksi jual investor asing.
Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan jual bersih atau net foreign sell sebesar Rp3,13 triliun pada Rabu. Tekanan jual terbesar terjadi pada saham BBRI dan TPIA.
Nilai jual bersih asing pada saham BBRI mencapai Rp571,3 miliar. Sementara itu, saham TPIA mencatat jual bersih sebesar Rp395 miliar.
Meski mendapat tekanan jual asing, saham BBRI tetap mampu ditutup naik 3,23 persen ke level Rp2.880. Di sisi lain, TPIA berakhir melemah 7,42 persen ke posisi Rp1.810 setelah sebelumnya sempat melonjak pada sesi awal perdagangan.
Yosua menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor domestik sedang memegang kendali pasar. Menurutnya, kemampuan pasar bertahan di tengah tekanan jual asing merupakan sinyal positif bagi pemulihan kepercayaan investor.
Berdasarkan data pasar, total nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp31,7 triliun. Investor domestik membukukan transaksi beli sebesar Rp20,2 triliun.
Sementara itu, investor asing mencatat pembelian Rp11,5 triliun dan penjualan Rp14,7 triliun sehingga menghasilkan jual bersih Rp3,13 triliun.
Prospek IHSG Masih Perlu Konfirmasi
Meskipun penguatan indeks berlangsung sangat tajam, Yosua mengingatkan bahwa pasar masih berpotensi mengalami volatilitas tinggi dalam jangka pendek.
Menurutnya, kenaikan yang terjadi dalam dua hari terakhir belum disertai arus masuk dana asing yang kuat. Karena itu, peluang terjadinya aksi ambil untung atau profit taking masih terbuka.
Namun demikian, ia menilai tekanan pasar ke depan kemungkinan tidak akan sebesar beberapa pekan sebelumnya. Hal tersebut didukung oleh berbagai langkah yang dilakukan pemerintah dan otoritas moneter.
Bank Indonesia diketahui telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali berturut-turut guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Selain itu, pemerintah juga mengambil sejumlah langkah fiskal untuk mengurangi tekanan terhadap anggaran negara. Komunikasi pemerintah terkait kebijakan strategis, termasuk peran BUMN ekspor dalam sektor sumber daya alam, dinilai semakin jelas.
Menurut Yosua, kombinasi kebijakan yang lebih terarah dan komunikasi yang lebih baik berpotensi memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Ia menambahkan bahwa investor lokal kini mulai lebih fokus pada kualitas fundamental perusahaan dibandingkan hanya mengikuti arus transaksi investor asing.
Apabila kondisi makroekonomi tetap terjaga dan valuasi saham masih menarik, peluang pemulihan pasar dinilai akan semakin besar. Oleh karena itu, pelaku pasar akan terus mencermati pergerakan saham-saham unggulan, terutama sektor perbankan yang saat ini menjadi tulang punggung rebound IHSG.





