RuangInvest.com, Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan bahwa investor perlu lebih selektif. Pada perdagangan Rabu (19/8/2026), IHSG ditutup melemah 0,86 persen ke level 6.394,12. Koreksi tersebut terjadi setelah indeks sempat bergerak lebih tinggi pada perdagangan intraday.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pasar saham belum sepenuhnya keluar dari fase penuh ketidakpastian. Ketika IHSG berada di sekitar area resistance, kegagalan menembus level penting dapat membuat tekanan jual kembali muncul.
Namun, pelemahan indeks tidak otomatis berarti seluruh saham kehilangan peluang. Justru dalam kondisi seperti ini, pendekatan yang lebih selektif dapat menjadi pilihan. Sejumlah saham konglomerasi masih memperlihatkan struktur teknikal yang menarik untuk dicermati, khususnya bagi investor yang memiliki strategi momentum trading.
IHSG Masih Membutuhkan Konfirmasi Penguatan
Menurut saya, posisi IHSG saat ini lebih tepat dibaca sebagai fase yang membutuhkan konfirmasi. Penutupan di 6.394,12 menunjukkan bahwa indeks masih menghadapi tekanan setelah gagal mempertahankan penguatan sebelumnya.
Level 6.377 menjadi salah satu support minor yang patut diperhatikan. Area tersebut berdekatan dengan MA20 daily. Selama support ini mampu bertahan, peluang IHSG untuk kembali mencoba penguatan masih terbuka.
Sebaliknya, jika support minor tersebut mengalami breakdown, risiko koreksi lebih dalam perlu diantisipasi. Area 6.078 dapat menjadi support yang lebih kuat karena berada di sekitar MA20 daily dan berdekatan dengan trendline.
Dengan kondisi tersebut, strategi mengejar harga secara agresif justru memiliki risiko lebih besar. Investor sebaiknya menunggu konfirmasi pada masing-masing saham sebelum menentukan posisi.
Di tengah kondisi indeks yang belum sepenuhnya meyakinkan, tujuh saham konglomerasi berikut menarik untuk masuk daftar pantauan.
BRMS: Double Bottom Menunggu Breakout Rp670
Saham pertama adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dari Grup Bakrie. Secara teknikal, BRMS masih berada di sekitar area demand dengan support Rp595.
Menariknya, terlihat potensi pembentukan pola double bottom. Namun, pola tersebut belum dapat dianggap terkonfirmasi sebelum harga mampu menembus neckline di sekitar Rp670.
BRMS juga memiliki sensitivitas terhadap pergerakan harga emas. Jika harga emas terus menguat, sentimen tersebut berpotensi menjadi katalis tambahan bagi saham berbasis bisnis emas.
Karena itu, menurut saya, BRMS lebih menarik dipantau daripada dikejar. Selama support Rp595 bertahan, peluang akumulasi masih terbuka. Breakout Rp670 dengan volume yang memadai dapat menjadi konfirmasi penguatan berikutnya.
Jika breakout berhasil, area Rp835 dapat menjadi target teknikal lanjutan.
ENRG: Pola Inverse Head and Shoulders dengan Risiko Rights Issue
Saham kedua adalah PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Secara teknikal, saham ini masih bergerak sideways. Namun, terdapat potensi pola inverse head and shoulders yang menarik untuk dicermati.
Level Rp1.445 menjadi resistance sekaligus neckline penting. Breakout pada area tersebut dapat menjadi sinyal bahwa fase akumulasi mulai berubah menjadi tren kenaikan.
Akan tetapi, ENRG memiliki faktor tambahan yang tidak boleh diabaikan, yaitu rights issue. Perseroan menawarkan maksimal 13,28 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp310 per saham dan rasio 2:1. Aksi tersebut berpotensi menghimpun dana sekitar Rp4,12 triliun. Perdagangan dan pelaksanaan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 20-28 Agustus 2026.
Rights issue dapat menjadi katalis positif apabila dana digunakan secara produktif. Namun, aksi korporasi tersebut juga berpotensi meningkatkan volatilitas dan menyebabkan dilusi bagi pemegang saham yang tidak menggunakan haknya.
Artinya, pola teknikal ENRG memang menarik, tetapi trader tetap harus memperhitungkan risiko aksi korporasi.
DEWA: Struktur Uptrend Mulai Lebih Terlihat
PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menjadi saham Bakrie berikutnya yang patut diperhatikan. Dibandingkan BRMS dan ENRG, posisi teknikal DEWA terlihat lebih terkonfirmasi.
DEWA telah mengalami breakout dari pola double bottom. Setelah itu, muncul golden cross yang memperkuat indikasi perubahan tren.
Harga saham sempat menguji resistance Rp492. Kini perhatian bergeser ke area support Rp440 sebagai support minor. Jika level tersebut gagal dipertahankan, support berikutnya berada di sekitar Rp418.
Menurut saya, koreksi ke area tersebut belum tentu menjadi sinyal negatif. Selama struktur higher low tetap terbentuk, koreksi justru dapat menjadi fase konsolidasi sebelum melanjutkan tren.
Karena itu, DEWA relatif lebih menarik untuk dipantau dari sisi struktur tren dibandingkan saham yang masih menunggu breakout.
TPIA: Konsolidasi Setelah Koreksi Dalam
Dari Grup Prajogo Pangestu, terdapat PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Saham ini menarik, tetapi memiliki tingkat risiko yang tidak boleh diremehkan.
TPIA sebelumnya mengalami koreksi sangat dalam dan kemudian memasuki fase sideways. Kondisi tersebut membuat area harga di bawah Rp2.000 menarik untuk diamati sebagai demand area secara bertahap.
Namun, menarik secara teknikal bukan berarti bebas risiko. Saham dengan volatilitas tinggi dapat bergerak cepat ke dua arah. Oleh sebab itu, strategi masuk bertahap lebih rasional daripada mengambil posisi besar sekaligus.
TPIA sebaiknya menunggu tanda bahwa tekanan jual benar-benar mereda. Konfirmasi volume dan perubahan struktur harga menjadi faktor penting sebelum mengambil keputusan.
CDIA: Support Rp570 Menjadi Level Kunci
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga berasal dari Grup Prajogo Pangestu. Secara teknikal, saham ini sedang berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami koreksi besar.
Area Rp570 menjadi support kuat yang layak diperhatikan. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang terbentuknya fase akumulasi masih terbuka.
Resistance Rp800 menjadi area penting berikutnya. Jika berhasil ditembus, struktur harga dapat memberikan ruang bagi momentum kenaikan baru.
Sebaliknya, breakdown Rp570 perlu dianggap sebagai sinyal peringatan. Jika support tersebut hilang, risiko berlanjutnya tren penurunan akan meningkat.
Dengan demikian, CDIA masih lebih cocok dimasukkan ke dalam watchlist. Konfirmasi support menjadi faktor utama sebelum mempertimbangkan momentum trading.
DSSA: Golden Cross Menunjukkan Akumulasi
Saham berikutnya adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari Grup Sinarmas. Saham ini menarik karena mulai memperlihatkan struktur teknikal yang lebih rapi setelah melalui fase koreksi panjang.
DSSA sempat membentuk bottom di area sekitar Rp400. Setelah itu, harga bergerak lebih teratur dan mengikuti MA20 daily.
Kemunculan golden cross menjadi salah satu sinyal yang menarik. Kondisi tersebut dapat menunjukkan perubahan momentum dari fase pelemahan menuju fase akumulasi.
Support Rp920 menjadi area penting untuk diperhatikan. Jika mampu bertahan, area tersebut dapat menjadi demand zone. Sementara itu, resistance Rp1.135 menjadi level yang perlu ditembus untuk memperkuat momentum.
Menurut saya, DSSA belum berada pada kondisi yang ideal untuk mengejar harga. Strategi yang lebih rasional adalah menunggu koreksi sehat atau konfirmasi breakout.
EMTK: Breakout Rp605 Jadi Penentu
Terakhir, ada PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dari Grup Emtek. Saham ini masih berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami penurunan cukup dalam.
Support Rp470 menjadi batas penting. Selama level tersebut bertahan, peluang terbentuknya akumulasi masih terbuka.
Sementara itu, Rp605 merupakan resistance utama. Breakout pada level tersebut dapat menjadi konfirmasi bahwa momentum mulai berubah menjadi bullish.
Jika breakout berhasil, area Rp645 menjadi target lanjutan yang menarik untuk diperhatikan. Level tersebut juga berdekatan dengan MA100 sehingga berpotensi menjadi area pengujian berikutnya.
Bagi trader, EMTK lebih menarik dipantau selama konsolidasi daripada dipaksakan untuk dibeli sebelum ada konfirmasi.
Tujuh Saham Konglomerasi dan Level yang Perlu Dipantau
Secara sederhana, peta teknikal tujuh saham tersebut dapat dirangkum sebagai berikut:
- BRMS: support Rp595, resistance Rp670, target lanjutan Rp835.
- ENRG: resistance Rp1.445 sebagai neckline, dengan perhatian khusus pada rights issue.
- DEWA: support Rp440 dan Rp418, resistance Rp492.
- TPIA: area demand di bawah Rp2.000, tetapi risiko volatilitas relatif tinggi.
- CDIA: support kuat Rp570 dan resistance Rp800.
- DSSA: support Rp920 dan resistance Rp1.135.
- EMTK: support Rp470, resistance Rp605, dengan potensi lanjutan Rp645.
Dari tujuh saham tersebut, DEWA dan DSSA terlihat memiliki struktur teknikal yang relatif lebih terkonfirmasi. BRMS dan ENRG masih membutuhkan breakout level penting. Sementara TPIA dan CDIA membutuhkan perhatian ekstra terhadap risiko volatilitas.
Jangan Menjadikan Nama Konglomerat sebagai Alasan Membeli
Satu hal yang menurut saya penting adalah jangan menjadikan afiliasi konglomerasi sebagai alasan utama membeli saham.
Nama besar grup usaha memang dapat meningkatkan perhatian pasar. Namun, harga saham tetap dipengaruhi oleh kinerja perusahaan, sentimen sektor, likuiditas, aksi korporasi, kondisi indeks, serta psikologi investor.
Dalam momentum trading, level harga menjadi lebih penting daripada sekadar siapa pemilik atau pengendali perusahaan.
Investor juga perlu membedakan antara saham yang sedang dalam fase akumulasi dan saham yang sudah mengonfirmasi tren naik. Perbedaan tersebut menentukan tingkat risiko ketika posisi dibuka.
Karena itu, pendekatan terbaik dalam kondisi IHSG seperti sekarang adalah menunggu konfirmasi. Support harus bertahan dan resistance harus ditembus dengan dukungan volume yang memadai.
Kesimpulan
Pelemahan IHSG ke 6.394,12 menunjukkan bahwa pasar masih menghadapi tekanan. Kondisi ini membuat strategi trading perlu dilakukan dengan lebih selektif.
Tujuh saham konglomerasi, yakni BRMS, ENRG, DEWA, TPIA, CDIA, DSSA, dan EMTK, masih memiliki struktur teknikal yang menarik untuk dicermati. Namun, masing-masing mempunyai karakter risiko dan level konfirmasi yang berbeda.
Menurut saya, investor tidak perlu terburu-buru mengejar harga. Justru disiplin menunggu breakout, menjaga support, dan mengatur ukuran posisi menjadi lebih penting.
Saham dengan pola teknikal menarik tetap dapat gagal naik jika kondisi pasar berubah. Karena itu, level support dan resistance sebaiknya digunakan sebagai alat manajemen risiko, bukan sebagai jaminan keuntungan.
Catatan: Analisis teknikal merupakan opini dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Investor perlu mempertimbangkan profil risiko dan melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.
FAQ
Apa saja tujuh saham konglomerasi yang menarik dicermati?
Tujuh saham yang dibahas adalah BRMS, ENRG, DEWA, TPIA, CDIA, DSSA, dan EMTK. Saham-saham tersebut memiliki struktur teknikal yang berbeda.
Saham mana yang sudah mengalami breakout?
DEWA menjadi salah satu saham yang struktur teknikalnya sudah lebih terkonfirmasi karena telah mengalami breakout dari pola double bottom dan membentuk golden cross.
Apa resistance penting BRMS?
Resistance penting BRMS berada di sekitar Rp670. Breakout level tersebut dapat menjadi konfirmasi pola double bottom, dengan target teknikal lanjutan di sekitar Rp835.
Mengapa ENRG perlu lebih hati-hati?
ENRG memiliki faktor rights issue yang dapat meningkatkan volatilitas. Perseroan menawarkan maksimal 13,28 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp310 dan rasio 2:1.
Apa support penting CDIA?
Level Rp570 menjadi support kuat yang perlu diperhatikan. Selama area tersebut bertahan, peluang konsolidasi dan akumulasi masih terbuka.
Apakah saham konglomerasi pasti akan naik?
Tidak. Afiliasi dengan grup konglomerasi bukan jaminan kenaikan harga. Pergerakan saham tetap dipengaruhi fundamental, teknikal, sentimen pasar, likuiditas, dan aksi korporasi.










