Saham Data Center AI: 3 Sektor yang Patut Dicermati

Dwi Prakoso

saham data center AI dan ekspansi infrastruktur digital Indonesia

RuangInvest.com, Jakarta – Saham data center AI mulai menjadi tema menarik di pasar modal Indonesia setelah Indosat Ooredoo Hutchison Tbk. (ISAT) meluncurkan Zankore by Indosat bersama Ooredoo Group, NVIDIA, dan Nokia. Proyek ini menargetkan kapasitas AI Factory hingga 1 gigawatt (GW), dengan tahap awal sekitar 200 megawatt (MW) pada semester I/2027.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bukan hanya menciptakan peluang bagi perusahaan teknologi. Dampaknya dapat merambat ke bisnis pusat data, kawasan industri, jaringan fiber optik, hingga penyedia listrik.

Menurut saya, inilah alasan mengapa investor perlu melihat tema data center secara lebih luas. Tidak semua emiten yang mendapatkan sentimen positif dari AI merupakan perusahaan data center secara langsung. Sebagian justru berada di rantai pasok yang menopang keberadaan pusat komputasi tersebut.

AI Mengubah Cara Investor Melihat Sektor Data Center

Pertumbuhan AI membutuhkan infrastruktur komputasi yang jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan digital konvensional. Model AI generatif, cloud computing, machine learning, serta berbagai aplikasi berbasis AI membutuhkan server dengan kemampuan komputasi tinggi.

Kondisi itu membuat data center berubah dari sekadar fasilitas penyimpanan data menjadi infrastruktur strategis. DCI Indonesia, misalnya, menyebut tingginya permintaan dari perusahaan AI global membuka peluang ekspansi pusat data di Indonesia. Perseroan pada Maret 2026 menyatakan memiliki 128 MW kapasitas terpasang dan melihat peluang pengembangan lebih dari 2.000 MW.

Di sisi lain, kehadiran Zankore memperlihatkan bahwa kebutuhan tersebut mulai bergerak menuju skala yang lebih besar. Zankore menggunakan arsitektur NVIDIA DSX dan menargetkan sekitar 200 MW kapasitas AI pada semester I/2027, sebelum diarahkan menuju kapasitas 1 GW.

Artinya, investor tidak cukup hanya mencari emiten yang memiliki label “AI”. Yang lebih penting adalah melihat perusahaan mana yang mempunyai aset, kontrak, jaringan, lahan, listrik, dan kemampuan pendanaan untuk menangkap pertumbuhan kebutuhan tersebut.

1. Saham Penyedia Data Center

Kelompok pertama sekaligus yang paling mudah dikaitkan dengan tren ini adalah perusahaan penyedia data center. Beberapa emiten yang patut dicermati adalah DCII, ISAT, TLKM, MGLV, dan DSSA.

DCII: Eksposur Langsung ke Bisnis Pusat Data

PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) merupakan salah satu emiten dengan eksposur paling langsung terhadap pertumbuhan data center di Indonesia.

Dalam paparan publik 2026, DCII menyebut kapasitas terpasang sekitar 128 MW. Kapasitas tersebut berasal dari beberapa fasilitas, termasuk H1 Cibitung, H2 Karawang, E1 Jakarta, dan E2 Surabaya. H1 Cibitung memiliki kapasitas 73 MW dan dapat dikembangkan hingga 220 MW. Sementara H2 Karawang memiliki kapasitas 27 MW dengan potensi pengembangan lebih dari 600 MW.

Yang menarik adalah potensi pengembangan jangka panjangnya. DCII juga mengembangkan kawasan data center di Sky Bintan yang memiliki potensi skalabilitas lebih dari 1.000 MW.

Dari perspektif investasi, DCII menjadi contoh saham yang memiliki hubungan paling langsung dengan tema AI. Namun, hubungan langsung bukan berarti saham otomatis murah. Investor tetap harus memperhatikan valuasi, kebutuhan belanja modal, utilisasi kapasitas, pelanggan, dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas.

ISAT: Dari Telekomunikasi Menuju Infrastruktur AI

ISAT memiliki posisi yang berbeda. Perusahaan bukan hanya operator telekomunikasi, tetapi juga semakin aktif membangun ekosistem infrastruktur digital.

Kolaborasi dengan BDx Indonesia menjadi salah satu bagian dari pengembangan bisnis data center. ISAT juga menjadi pusat perhatian setelah meluncurkan Zankore by Indosat bersama Ooredoo Group, NVIDIA, dan Nokia.

Target Zankore mencapai 1 GW menunjukkan besarnya ambisi pengembangan infrastruktur AI di Indonesia. Tahap awalnya ditargetkan sekitar 200 MW dan menggunakan NVIDIA GB300 NVL72.

Menurut saya, Zankore menjadi salah satu katalis penting bagi ISAT. Namun, investor sebaiknya tidak langsung menyamakan kapasitas AI Factory dengan pendapatan atau laba perusahaan. Proyek berkapasitas besar tetap membutuhkan investasi, listrik, jaringan, pelanggan, serta waktu untuk mencapai utilisasi ekonomis.

TLKM: Menggabungkan Data Center dan Fiber Optik

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) mempunyai keunggulan karena berada di dua rantai penting sekaligus, yaitu pusat data dan konektivitas.

Melalui NeutraDC, Telkom mengembangkan portofolio hyperscale data center, enterprise data center, dan edge data center. Perseroan juga memiliki target meningkatkan kapasitas data center secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

Keunggulan TLKM semakin menarik setelah transformasi infrastruktur melalui InfraNexia. Per 7 Agustus 2026, InfraNexia mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer sistem komunikasi kabel laut domestik.

Kombinasi tersebut membuat TLKM memiliki eksposur yang relatif luas. Perseroan tidak hanya mendapatkan peluang dari pertumbuhan pusat data, tetapi juga dari meningkatnya kebutuhan konektivitas antarpusat data.

MGLV: Emiten Baru dengan Eksposur Data Center

PT NexAI Digital Infrastructure Tbk. (MGLV) menjadi salah satu nama yang menarik karena transformasi bisnisnya menuju infrastruktur data center.

MGLV berencana mengakuisisi aset Nextier Aksara Center dan Nextier GenAI Center. Aset tersebut masing-masing memiliki rencana kapasitas sekitar 36 MW di Cikarang dan 60 MW di Batang. Jika terealisasi, total kapasitas yang dikembangkan mencapai sekitar 96 MW.

Menariknya, perusahaan juga telah menyebut adanya perjanjian dengan ISAT dan Megaspeed International Indonesia terkait penggunaan fasilitas tersebut. Namun, detail nilai kontrak perlu diperhatikan setelah transaksi dan konsolidasi aset benar-benar terealisasi.

Bagi investor, MGLV merupakan saham dengan potensi pertumbuhan tinggi sekaligus risiko eksekusi yang juga besar. Perubahan bisnis, kebutuhan modal, struktur pendanaan, serta realisasi akuisisi menjadi faktor yang harus dipantau.

DSSA: Diversifikasi dari Komoditas ke Infrastruktur Digital

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) juga memperkuat bisnis infrastruktur digital. Melalui SM+, DSSA mengembangkan fasilitas data center yang AI-ready. Salah satunya adalah SMX01 di Jakarta dengan kapasitas awal 18 MW dan kemampuan ekspansi hingga 60 MW. Proyek tersebut dikembangkan bersama KIRA SG One dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2026.

Bagi DSSA, perkembangan ini menarik karena memberikan sumber pertumbuhan baru di luar bisnis pertambangan. Segmen infrastruktur digital dan teknologi juga semakin penting dalam strategi diversifikasi perusahaan.

2. Saham Kawasan Industri Bisa Ikut Mendapat Manfaat

Sektor kedua yang menurut saya sering luput dari perhatian adalah kawasan industri. Data center membutuhkan lahan dengan karakteristik khusus. Lokasi harus memiliki akses listrik yang memadai, konektivitas fiber, keamanan, akses jalan, serta kepastian pengembangan jangka panjang.

Karena itu, pemilik kawasan industri yang mampu menyediakan lahan dan infrastruktur pendukung dapat memperoleh manfaat dari ekspansi pusat data.

DMAS: Salah Satu Penerima Manfaat Paling Jelas

PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS) menjadi salah satu contoh paling menarik. Kawasan Deltamas di Cikarang telah menarik pembeli dari sektor data center. Pada semester I/2026, DMAS mencatat pendapatan usaha sekitar Rp1,8 triliun dan laba bersih Rp1,19 triliun. Kinerja tersebut didorong oleh penjualan lahan industri, terutama kepada sektor pusat data.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa manfaat tren data center tidak selalu muncul dalam bentuk pendapatan sewa server. Pemilik lahan juga dapat menikmati pertumbuhan permintaan akibat pembangunan pusat komputasi.

Inilah alasan DMAS perlu dilihat sebagai bagian dari rantai ekosistem data center, bukan sekadar saham properti.

SSIA: Mendapat Eksposur dari Pembangunan Data Center

PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) juga memiliki keterkaitan dengan tema ini karena kawasan Suryacipta City of Industry menjadi lokasi pengembangan data center.

Namun, investor perlu membedakan antara perusahaan yang memiliki banyak proyek data center dan perusahaan yang baru memperoleh satu proyek atau transaksi lahan.

Eksposur seperti ini tetap menarik, tetapi dampaknya terhadap laba dan arus kas harus dihitung berdasarkan nilai transaksi serta waktu pengakuan pendapatan.

BEST: Lahan untuk Pengembangan Data Center

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST) juga mempunyai hubungan dengan ekspansi data center melalui lahan yang digunakan DCII.

Keterkaitan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan pusat data dapat menciptakan efek ekonomi berantai. Pengembang kawasan memperoleh pendapatan dari lahan, sementara perusahaan data center menggunakan lahan tersebut untuk membangun fasilitas.

Namun, investor sebaiknya tidak hanya melihat potensi kapasitas data center di atas lahan. Yang lebih penting adalah kapan kapasitas tersebut dibangun dan bagaimana pengaruhnya terhadap permintaan lahan serta pendapatan BEST.

KIJA: Potensi dari Cikarang dan Kendal

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) juga masuk radar karena pernah mencatat penjualan lahan 4 hektare kepada perusahaan sektor data center.

Pada 2025, KIJA membukukan marketing sales Rp3,6 triliun. Penjualan tersebut berasal dari Cikarang dan Kendal, dengan permintaan dari investor domestik maupun asing.

Namun, menurut saya KIJA perlu ditempatkan sebagai eksposur tidak langsung terhadap tren data center. Bisnis utamanya tetap kawasan industri. Karena itu, investor perlu melihat seberapa besar kontribusi proyek data center dibandingkan keseluruhan marketing sales dan pendapatan perusahaan.

3. Saham Pemilik Fiber Optik

Sektor ketiga adalah fiber optik. Data center tidak dapat berdiri sendiri. Pusat komputasi membutuhkan koneksi berkapasitas tinggi untuk menghubungkan server dengan pengguna, cloud, perusahaan, pusat data lain, serta jaringan internasional.

Karena itu, perusahaan dengan jaringan fiber optik yang luas berpotensi mendapatkan manfaat dari peningkatan lalu lintas data.

TOWR: Jaringan Fiber Berskala Besar

PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) merupakan salah satu perusahaan infrastruktur telekomunikasi yang mempunyai jaringan fiber optik dalam skala besar.

Data perusahaan pada 2025 menunjukkan jaringan fiber optic mencapai lebih dari 170.000 kilometer.

Selain bisnis fiber, TOWR juga mulai melihat peluang data center melalui anak usaha iForte. Hal ini membuat perseroan memiliki eksposur terhadap pertumbuhan kebutuhan konektivitas sekaligus pusat data.

MORA: Efek Konsolidasi Fiber

PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) juga menarik diperhatikan setelah merger dengan Eka Mas Republik. Penggabungan tersebut memperkuat skala bisnis konektivitas dan jaringan perusahaan.

Bagi MORA, peluang utama dari tren AI bukan semata-mata menjadi operator AI Factory. Perannya lebih dekat dengan penyedia jaringan yang memungkinkan pertukaran data berkapasitas besar.

Dengan demikian, pertumbuhan AI dapat menjadi katalis tidak langsung bagi kebutuhan bandwidth dan jaringan fiber.

TLKM dan ISAT: Pemain Konektivitas Utama

TLKM dan ISAT juga memiliki aset fiber yang besar. TLKM bahkan telah memisahkan sebagian besar infrastruktur jaringan ke InfraNexia sebagai bagian dari strategi monetisasi dan penguatan bisnis wholesale connectivity.

InfraNexia kini mengelola sekitar 112.000 kilometer fiber optik dan 26.000 kilometer kabel laut domestik.

Sementara itu, ISAT juga melakukan restrukturisasi kepemilikan aset fiber melalui entitas patungan. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan telekomunikasi mulai melihat infrastruktur jaringan sebagai aset strategis yang dapat dikembangkan dan dimonetisasi.

Jangan Terjebak Narasi AI Semata

Menurut saya, risiko terbesar dalam membaca tema saham data center AI adalah terlalu cepat menghubungkan kapasitas proyek dengan kenaikan laba.

Kapasitas 1 GW, misalnya, merupakan angka yang sangat besar. Namun, kapasitas tersebut tetap membutuhkan waktu untuk dibangun, membutuhkan listrik, dan harus diisi pelanggan agar menghasilkan pendapatan.

Hal serupa berlaku untuk lahan kawasan industri. Penjualan lahan kepada perusahaan data center memang positif. Namun, investor tetap perlu mengetahui nilai transaksi, margin, waktu pengakuan pendapatan, serta kemampuan perusahaan mempertahankan permintaan.

Pada saham fiber optik, investor juga perlu melihat tingkat utilisasi jaringan. Jaringan yang panjang tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan laba tinggi jika pemanfaatannya rendah atau harga layanan mengalami tekanan.

Karena itu, saya melihat tema AI sebagai katalis pertumbuhan, bukan alasan tunggal untuk membeli saham.

Apa yang Perlu Dipantau Investor?

Ada beberapa indikator penting yang menurut saya perlu diperhatikan ketika menganalisis saham terkait data center AI:

  • Kapasitas terpasang, bukan hanya kapasitas yang direncanakan.
  • Utilisasi data center, karena kapasitas kosong belum menghasilkan pendapatan optimal.
  • Kontrak pelanggan, terutama hyperscaler dan perusahaan teknologi besar.
  • Belanja modal, karena pembangunan data center membutuhkan investasi sangat besar.
  • Ketersediaan listrik, terutama untuk fasilitas AI dengan kepadatan komputasi tinggi.
  • Koneksi fiber optik, termasuk jaringan domestik dan kabel bawah laut.
  • Kepemilikan lahan, terutama di kawasan industri dengan akses listrik dan konektivitas.
  • Struktur utang, khususnya bagi emiten yang sedang melakukan ekspansi agresif.
  • Pertumbuhan pendapatan dan EBITDA, untuk melihat apakah ekspansi benar-benar menghasilkan uang.
  • Valuasi saham, karena prospek bagus tidak selalu berarti harga saham murah.

Kesimpulan

Menurut saya, tren saham data center AI di Indonesia masih berada pada fase awal. Kehadiran Zankore by Indosat menjadi salah satu sinyal paling jelas bahwa kebutuhan komputasi AI mulai masuk ke tahap pembangunan infrastruktur berskala besar. Proyek tersebut menargetkan 200 MW pada tahap awal dan kapasitas hingga 1 GW.

Namun, peluang tersebut tidak hanya dimiliki oleh operator data center. Ekspansi AI juga membutuhkan lahan, listrik, jaringan fiber optik, kabel bawah laut, sistem pendingin, serta berbagai infrastruktur pendukung.

Karena itu, saya membagi saham terkait tren ini menjadi tiga kelompok besar. Pertama, penyedia data center seperti DCII, ISAT, TLKM, MGLV, dan DSSA. Kedua, pemilik kawasan industri seperti DMAS, SSIA, BEST, dan KIJA. Ketiga, pemilik infrastruktur fiber optik seperti TOWR, MORA, TLKM, dan ISAT.

Dari ketiga kelompok tersebut, investor tetap perlu membedakan antara eksposur langsung dan tidak langsung. DCII, misalnya, mempunyai hubungan langsung dengan kapasitas pusat data. Sementara DMAS mendapatkan manfaat dari penjualan lahan kepada perusahaan pusat data. TOWR dan TLKM memiliki eksposur melalui jaringan konektivitas.

Pada akhirnya, narasi AI hanyalah titik awal analisis. Investor tetap perlu melihat laporan keuangan, valuasi, arus kas, utang, kebutuhan capex, kontrak pelanggan, serta realisasi proyek. Saham dengan cerita AI yang menarik belum tentu menjadi saham dengan imbal hasil terbaik jika harga yang dibayar terlalu mahal.

Bagi investor jangka panjang, pendekatan yang lebih rasional adalah mencari perusahaan yang mampu mengubah pertumbuhan kebutuhan AI menjadi pendapatan dan laba secara berkelanjutan. Dengan cara tersebut, tren data center AI dapat dilihat bukan sekadar sebagai hype pasar, melainkan sebagai perubahan struktural dalam ekonomi digital Indonesia.

FAQ

Apa itu saham data center AI?

Saham data center AI adalah saham emiten yang mempunyai hubungan bisnis dengan pembangunan dan pengoperasian pusat data untuk kebutuhan komputasi AI. Hubungannya dapat langsung maupun tidak langsung.

Apa saja saham data center di Indonesia?

Beberapa emiten yang memiliki eksposur langsung atau kuat terhadap bisnis data center antara lain DCII, ISAT, TLKM, MGLV, dan DSSA.

Apakah saham kawasan industri juga terkait data center?

Ya. Data center membutuhkan lahan dengan akses listrik, jaringan telekomunikasi, dan infrastruktur yang memadai. Karena itu, perusahaan kawasan industri seperti DMAS, SSIA, BEST, dan KIJA dapat memperoleh manfaat dari peningkatan permintaan lahan.

Mengapa fiber optik penting untuk data center AI?

Fiber optik dibutuhkan untuk menghubungkan data center dengan pengguna, cloud, jaringan perusahaan, pusat data lain, serta jaringan internasional. Semakin besar kebutuhan pertukaran data, semakin penting kapasitas konektivitas.

Apakah saham data center AI pasti naik?

Tidak. Pertumbuhan industri tidak otomatis membuat harga saham naik. Investor tetap perlu mempertimbangkan valuasi, kinerja keuangan, utang, capex, utilisasi aset, kontrak pelanggan, dan risiko eksekusi proyek.

Saham mana yang paling langsung terkena dampak tren data center?

DCII memiliki eksposur yang sangat langsung karena bisnis utamanya adalah pusat data. Namun, ISAT, TLKM, MGLV, dan DSSA juga memiliki proyek atau strategi pengembangan data center yang perlu diperhatikan.

Apakah kapasitas 1 GW Zankore berarti ISAT langsung mendapatkan pendapatan sebesar itu?

Tidak. Angka 1 GW merupakan target kapasitas AI Factory. Pendapatan dan laba tetap bergantung pada pembangunan fasilitas, ketersediaan listrik, investasi, utilisasi kapasitas, pelanggan, serta model bisnis yang diterapkan.

Catatan: Artikel ini merupakan opini dan bahan edukasi, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Investor perlu melakukan analisis fundamental dan mempertimbangkan profil risikonya masing-masing.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
10 Saham Top Gainers Pekan Ini, ALKA dan MDIA Melonjak Hampir 90%

10 Saham Top Gainers Pekan Ini, ALKA dan MDIA Melonjak Hampir 90%

Kunjungi Artikel