Saham Data Center di Indonesia: Peluang Investasi Menarik, tetapi Jangan Hanya Melihat Tren AI

Dwi Prakoso

Saham Data Center di Indonesia: Peluang Investasi Menarik, tetapi Jangan Hanya Melihat Tren AI
Ilustrasi: saham data center di Indonesia

Ruanginvest.comJakarta, saham data center di Indonesia semakin menarik perhatian seiring pertumbuhan layanan digital, cloud computing, dan kecerdasan artifisial atau AI. Menurut saya, peluang tersebut memang layak investor cermati. Namun, investor sebaiknya tidak langsung menyamakan pertumbuhan kebutuhan data center dengan kenaikan harga saham.

Data center kini menopang banyak aktivitas digital sehari-hari. Media sosial, pembayaran digital, perbankan, layanan penyimpanan awan, streaming, hingga aplikasi AI membutuhkan infrastruktur komputasi dan penyimpanan data.

Karena itu, perkembangan ekonomi digital menciptakan rantai bisnis yang lebih luas daripada sekadar perusahaan pengelola pusat data. Operator data center, penyedia energi, pengembang kawasan industri, perusahaan konstruksi, serta penyedia fiber dan menara dapat mengambil peran masing-masing.

Mengapa Saham Data Center di Indonesia Menarik Dicermati?

Fakta yang paling mudah terlihat datang dari meningkatnya aktivitas digital. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi pada Juli 2026. Angka tersebut tumbuh 28,69% secara tahunan.

Selain itu, penggunaan AI menambah kebutuhan komputasi. Sistem AI membutuhkan kemampuan pemrosesan yang besar. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap server berkemampuan tinggi, GPU atau akselerator, listrik, dan sistem pendinginan ikut meningkat.

Telkom Indonesia juga menyoroti perkembangan AI, cloud, dan analitik data berskala besar. Perkembangan tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur data center, termasuk AI-Ready Data Center.

Menurut saya, perkembangan ini memberikan alasan kuat untuk melihat data center sebagai tema investasi jangka panjang. Meski begitu, investor perlu membedakan antara pertumbuhan industrinya dan kinerja masing-masing emiten.

Pasalnya, pembangunan data center membutuhkan belanja modal yang besar. Perusahaan harus menambah fasilitas, kapasitas listrik, sistem pendinginan, perangkat pendukung, serta jaringan ketika ingin meningkatkan kapasitas.

Saham Data Center di Indonesia Tidak Hanya Operator Pusat Data

Salah satu hal penting dalam melihat saham data center di Indonesia adalah memahami rantai bisnisnya. Investor tidak harus terpaku pada perusahaan yang mengoperasikan fasilitas pusat data.

Operator memang berada di posisi paling dekat dengan bisnis tersebut. DCI Indonesia Tbk. atau DCII, misalnya, mengoperasikan data center di beberapa lokasi dengan total 9 data center dan 132 MW shell capacity.

Telkom Indonesia Tbk. atau TLKM juga mengembangkan bisnis data center melalui NeutraDC. Selain itu, beberapa emiten lain yang tercantum dalam rantai operator data center antara lain Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET), dan Indosat Tbk. (ISAT).

Namun, kebutuhan pusat data juga membuka peluang bagi perusahaan energi. Data center membutuhkan pasokan listrik stabil karena server, jaringan, pendinginan, keamanan, dan fasilitas pendukung harus berjalan terus-menerus.

Dalam konteks tersebut, beberapa emiten yang berperan dalam sektor energi antara lain Cikarang Listrindo Tbk. (POWR), Barito Renewables Tbk. (BREN), Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO), Arkora Hydro Tbk. (ARKO), dan Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS).

Selanjutnya, pembangunan data center juga membutuhkan kawasan yang mendukung kebutuhan listrik, jaringan, air, jalan, keamanan, dan infrastruktur lainnya. Karena itu, pengembang kawasan industri dapat mengambil posisi dalam rantai bisnis tersebut.

Puradelta Lestari Tbk. (DMAS), misalnya, mengembangkan Data Center Zone sekitar 300 hektare di Kota Deltamas, Cikarang. Kawasan tersebut memiliki dukungan jaringan fiber optik dan pasokan listrik premium dari PLN sebesar 993 MVA. Hingga akhir 2025, kawasan itu memiliki 15 tenant data center.

Selain DMAS, emiten yang masuk dalam kelompok kawasan industri dan konstruksi antara lain Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA), Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST), Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA), dan Total Bangun Persada Tbk. (TOTL).

Di sisi lain, data center membutuhkan konektivitas agar data dapat bergerak dari pengguna menuju pusat data dan kembali kepada pengguna. Fiber optik, jaringan terrestrial, kabel bawah laut, serta menara telekomunikasi menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

Beberapa emiten yang berperan dalam fiber dan menara antara lain Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA), Ketrosden Triasmitra Tbk. (KETR), Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR), dan Dayamitra Telekomunikas Tbk. (MTEL).

Peluang Besar Tetap Membutuhkan Analisis Emiten

Menurut saya, investor perlu melihat tema data center secara lebih luas. Pertumbuhan AI memang dapat meningkatkan kebutuhan terhadap kapasitas komputasi. Namun, peluang tersebut tidak otomatis membuat semua saham dalam rantai bisnis data center memiliki prospek yang sama.

Operator data center menghadapi kebutuhan modal besar ketika mereka menambah kapasitas. Sementara itu, perusahaan energi menghadapi karakter bisnis yang berbeda. Pengembang kawasan industri juga memiliki model pendapatan dan kebutuhan investasi yang berbeda dari operator pusat data.

Dengan demikian, investor perlu memahami sumber pendapatan setiap emiten sebelum mengambil keputusan. Jangan hanya melihat label sebagai saham teknologi atau saham data center.

Selain itu, investor perlu memperhatikan hubungan antara kebutuhan data center dan kapasitas bisnis perusahaan. Perusahaan mungkin berada dalam rantai ekosistem data center, tetapi kontribusi bisnis tersebut terhadap kinerja perusahaan dapat berbeda.

Saya melihat pendekatan berbasis rantai bisnis lebih masuk akal daripada mencari satu saham yang dianggap sebagai satu-satunya penerima manfaat. Pendekatan ini membantu investor memahami siapa yang menyediakan pusat data, siapa yang memasok energi, siapa yang menyediakan kawasan, dan siapa yang menopang konektivitasnya.

Terlebih lagi, kebutuhan AI dapat mengubah standar fasilitas data center. Beban komputasi yang tinggi membutuhkan dukungan listrik dan pendinginan yang sesuai. Karena itu, perkembangan teknologi juga dapat menciptakan kebutuhan infrastruktur baru di dalam ekosistem tersebut.

Di sisi lain, investor tetap perlu menghindari keputusan yang hanya mengandalkan tren. Tema investasi yang sedang populer dapat menarik perhatian pasar. Namun, investor tetap perlu menilai fundamental, kemampuan ekspansi, kebutuhan modal, serta peran nyata perusahaan dalam rantai bisnisnya.

Sudut Pandang: Data Center Lebih Tepat Dilihat sebagai Ekosistem

Menurut pandangan saya, kekuatan utama tema data center terletak pada ekosistemnya. Pusat data membutuhkan banyak komponen agar dapat beroperasi secara berkelanjutan.

Server membutuhkan listrik. Perangkat tersebut juga menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendinginan. Kemudian, data membutuhkan jaringan agar dapat bergerak dengan cepat. Pada saat yang sama, seluruh fasilitas membutuhkan lokasi dan bangunan yang sesuai.

Karena itu, peluang investasi tidak hanya muncul pada operator. Perusahaan energi, kawasan industri, konstruksi, fiber, dan menara juga dapat mengambil peran dalam perkembangan infrastruktur digital.

Namun, saya tidak melihat pendekatan tersebut sebagai alasan untuk membeli seluruh saham yang terkait. Investor tetap perlu menilai kualitas masing-masing perusahaan. Fokus utama seharusnya tetap pada bagaimana perusahaan menghasilkan pendapatan dan seberapa besar data center berkontribusi terhadap bisnisnya.

Dengan cara tersebut, investor dapat menghindari kesalahan umum dalam investasi berbasis tema. Investor tidak sekadar membeli cerita tentang AI atau digitalisasi. Sebaliknya, investor mencari hubungan yang jelas antara perkembangan industri dan peluang bisnis perusahaan.

Kesimpulan

Saham data center di Indonesia memiliki tema pertumbuhan yang menarik karena aktivitas digital, cloud, dan AI terus membutuhkan infrastruktur komputasi. Namun, investor perlu memahami bahwa data center bukan bisnis yang berdiri sendiri.

Operator pusat data, perusahaan energi, pengembang kawasan industri, konstruksi, fiber, dan menara saling terhubung dalam ekosistem tersebut. Oleh karena itu, investor dapat menggunakan pendekatan rantai bisnis untuk melihat peluang secara lebih menyeluruh.

Meski begitu, tema industri bukan pengganti analisis saham. Investor tetap perlu melihat karakter bisnis, kebutuhan modal, peran perusahaan, dan fundamental masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan investasi.

FAQ Saham Data Center di Indonesia

Apa yang dimaksud dengan saham data center di Indonesia?

Saham data center di Indonesia merujuk pada emiten yang memiliki peran dalam ekosistem pusat data. Perannya dapat mencakup operator data center, energi, kawasan industri, konstruksi, fiber, hingga menara telekomunikasi.

Apakah saham data center hanya berasal dari operator pusat data?

Tidak. Ekosistem data center membutuhkan banyak infrastruktur pendukung. Karena itu, perusahaan energi, kawasan industri, konstruksi, fiber, dan menara juga dapat mengambil peran.

Mengapa AI meningkatkan kebutuhan data center?

AI membutuhkan kemampuan komputasi yang tinggi. Akibatnya, fasilitas data center perlu menyiapkan server berkemampuan tinggi, dukungan listrik, serta sistem pendinginan yang sesuai dengan beban komputasi tersebut.

Apa saja contoh saham yang masuk rantai bisnis data center?

Contohnya antara lain DCII dan TLKM pada kelompok operator. Sementara itu, POWR, BREN, PGEO, ARKO, dan PGAS masuk dalam kelompok energi. DMAS, SSIA, BEST, KIJA, dan TOTL terkait kawasan industri serta konstruksi. Untuk fiber dan menara, contohnya MORA, KETR, TOWR, dan MTEL.

Apakah pertumbuhan data center otomatis membuat saham terkait naik?

Tidak. Pertumbuhan industri tidak otomatis menentukan pergerakan harga saham. Investor tetap perlu menganalisis fundamental, model bisnis, kebutuhan modal, dan kontribusi bisnis data center pada masing-masing emiten.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
Dividen SMKL 2025 Rp3 per Saham, Simak Jadwal Lengkapnya

Dividen SMKL 2025 Rp3 per Saham, Simak Jadwal Lengkapnya

Kunjungi Artikel