Ruanginvest.com – Jakarta, saham Grup Prajogo Pangestu menghadapi tekanan besar sepanjang 2026. Enam emiten dalam ekosistem tersebut sama-sama mengalami koreksi hingga dua digit.
Kondisi tersebut tentu membuat investor bertanya. Apakah penurunan harga hanya mencerminkan memburuknya prospek bisnis? Atau justru koreksi dalam mulai membuka ruang bagi rebound?
Menurut pandangan kami, jawabannya tidak bisa disamaratakan. Setiap emiten memiliki bisnis, agenda ekspansi, kinerja keuangan, serta risiko yang berbeda. Karena itu, investor perlu melihat satu per satu sebelum mengambil keputusan.
Koreksi Dalam Belum Tentu Berarti Prospek Memburuk
Enam emiten yang berada dalam ekosistem Grup Prajogo Pangestu terdiri dari BREN, BRPT, CDIA, CUAN, PTRO, dan TPIA. Masing-masing menjalankan bisnis berbeda, mulai dari energi terbarukan, petrokimia, infrastruktur, pertambangan, hingga jasa pertambangan.
Namun, pergerakan harga saham keenam perusahaan tersebut menunjukkan tekanan yang cukup besar. Berdasarkan data sejak awal tahun hingga perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, TPIA mencatat koreksi paling dalam hingga 71,43 persen.
Selanjutnya, CUAN dan BREN mengalami penurunan sekitar 64 persen. Sementara itu, PTRO dan CDIA turun lebih dari 50 persen. BRPT menjadi saham dengan koreksi paling kecil di antara keenam emiten tersebut, tetapi tetap turun sekitar 43 persen.
Angka tersebut memang terlihat mengkhawatirkan. Namun, menurut pandangan kami, penurunan harga tidak otomatis berarti seluruh prospek bisnis ikut memburuk.
Sebaliknya, koreksi besar dapat membuka peluang teknikal jika fundamental perusahaan tetap berkembang. Kondisi ini semakin menarik ketika valuasi mulai meninggalkan level ekstrem sebelumnya.
BREN menjadi salah satu contohnya. Rasio price to book value atau PBV saham tersebut pernah mencapai ratusan kali. Kini, PBV BREN berada di kisaran 36 kali. Level tersebut memang belum bisa disebut murah, tetapi jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sebelumnya.
Meski begitu, valuasi yang lebih rendah saja belum cukup untuk menjadi alasan membeli saham. Investor tetap membutuhkan katalis fundamental. Karena itu, ekspansi bisnis dan kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan serta laba akan menjadi faktor penting berikutnya.
Saham Grup Prajogo Pangestu Masih Berada dalam Fase Ekspansi
Satu hal menarik dari keenam emiten tersebut adalah agresivitas aksi korporasi. Grup ini masih memperluas bisnis melalui akuisisi, penambahan aset, pembangunan kapasitas, serta masuk ke sektor baru.
Menurut kami, kondisi tersebut menunjukkan karakter grup yang masih berada dalam fase pertumbuhan. Perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan dari bisnis lama, tetapi juga mencari sumber pendapatan baru.
Namun, strategi ekspansi selalu memiliki dua sisi. Di satu sisi, ekspansi dapat memperbesar skala bisnis. Di sisi lain, investasi besar dapat meningkatkan biaya, penyusutan, bunga, dan kebutuhan modal.
Kinerja TPIA dan CDIA memberikan gambaran mengenai tantangan tersebut. Keduanya mencatat pertumbuhan pendapatan, tetapi laba bersih justru mengalami tekanan karena biaya dan efek keuntungan satu kali pada periode sebelumnya.
Karena itu, investor tidak cukup melihat pertumbuhan pendapatan. Investor juga perlu melihat apakah aset baru mampu menghasilkan kontribusi laba secara berkelanjutan.
Jika ekspansi berhasil meningkatkan produktivitas aset, pertumbuhan pendapatan dapat berlanjut ke laba. Sebaliknya, jika ekspansi hanya memperbesar aset tanpa peningkatan profitabilitas, valuasi saham tetap menghadapi tekanan.
TPIA: Ekspansi Besar, Tetapi Tantangan Laba Masih Nyata
TPIA menjadi salah satu emiten dengan cerita ekspansi paling agresif. Perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan bisnis petrokimia domestik. TPIA juga memperluas bisnis ke energi, infrastruktur, dan mobilitas di Asia Tenggara.
Pada April 2025, TPIA bersama Glencore mengakuisisi aset Shell Energy and Chemicals Park di Singapura. Kemudian, pada Agustus 2026, TPIA mengakuisisi bisnis dealer otomotif dan ritel bahan bakar Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia senilai SG$265 juta atau sekitar Rp3,1 triliun.
Ekspansi tersebut membuka sumber pendapatan baru di luar petrokimia. Selain itu, kebijakan pembebasan bea masuk 0 persen untuk impor LPG industri dan bahan baku plastik berpotensi membantu biaya bahan baku.
TPIA juga mulai menjajaki bisnis hijau melalui studi kelayakan proyek Waste-to-Energy di Serang Raya. Dengan demikian, perusahaan memiliki sejumlah opsi pertumbuhan di masa depan.
Namun, kinerja laba masih menjadi perhatian. Pendapatan Semester I/2026 mencapai US$5,3 miliar, tetapi laba bersih turun 77,2 persen secara tahunan menjadi US$371,2 juta.
Penurunan tersebut terutama berkaitan dengan keuntungan akuntansi satu kali dari akuisisi aset Shell pada tahun sebelumnya. Selain itu, tekanan margin petrokimia serta kenaikan biaya penyusutan dan bunga turut memengaruhi laba Kuartal II/2026.
Menurut kami, TPIA menarik dari sisi cerita pertumbuhan, tetapi investor perlu bersabar. Perusahaan harus membuktikan bahwa ekspansi besar tersebut mampu menghasilkan laba yang lebih kuat.
Secara teknikal, TPIA masih bergerak dalam fase konsolidasi. Area di bawah 2.000 hingga sekitar support 1.690 menjadi zona yang menarik untuk dicermati. Sementara itu, resistance 2.690 menjadi target penguatan jangka pendek.
Volatilitas TPIA juga cukup tinggi setelah saham tersebut keluar dari MSCI. Karena itu, menurut kami, investor perlu mengatur porsi dengan disiplin jika ingin memanfaatkan peluang rebound.
CDIA: Pertumbuhan Bertahap Bisa Menjadi Kekuatan
CDIA memiliki karakter yang berbeda dari TPIA. Anak usaha TPIA tersebut fokus pada infrastruktur dan memiliki bisnis listrik, air industri, kepelabuhanan, logistik, serta penyimpanan bahan kimia.
Sepanjang 2026, CDIA menambah armada kapal Boreas dan Novah. Perusahaan juga mengakuisisi bisnis logistik maritim dan mengembangkan fasilitas penyimpanan bitumen di Merak.
Ekspansi tersebut mulai terlihat pada pendapatan. Semester I/2026 mencatat pendapatan US$82,1 juta, tumbuh 22,8 persen. EBITDA juga naik 25,3 persen menjadi US$31,6 juta.
Namun, laba bersih turun 74 persen menjadi US$19,3 juta. Biaya operasional armada baru, kenaikan penyusutan aset, serta efek keuntungan satu kali pada tahun sebelumnya menjadi faktor utama tekanan tersebut.
Menurut kami, investor sebaiknya melihat CDIA sebagai cerita pertumbuhan jangka panjang. Bisnis infrastruktur memiliki peluang menghasilkan pendapatan berulang ketika aset baru mulai bekerja secara optimal.
Ruang ekspansi CDIA juga masih terbuka. Tank storage, jaringan pipa, penambahan armada hingga 20 kapal, proyek energi surya, dan fasilitas air industri menjadi beberapa area pertumbuhan yang menarik untuk dicermati.
Secara teknikal, CDIA berada dekat area support MA20 harian. Level 560 menjadi support kuat yang perlu diperhatikan. Selama level tersebut bertahan, peluang akumulasi masih terbuka dengan resistance sekitar 800 sebagai target.
Sebaliknya, penembusan support 560 dapat membuka risiko penurunan lanjutan. Karena itu, investor perlu menggunakan level tersebut sebagai batas penting dalam strategi trading.
BREN: Bisnis Stabil Bertemu Ambisi Ekspansi Regional
BREN memiliki posisi berbeda karena bisnis utamanya berasal dari energi terbarukan. Melalui Star Energy Geothermal dan Barito Wind, perusahaan mengelola pembangkit listrik panas bumi dan tenaga angin.
Hingga pertengahan 2026, kapasitas panas bumi BREN mencapai 926 MW setelah retrofit PLTP Wayang Windu selesai. Selain itu, perusahaan menyiapkan tambahan kapasitas melalui Salak Unit 7, Wayang Windu Unit 3, dan Darajat Unit 3.
Menariknya, BREN juga mulai melihat peluang regional. Pada Juli 2026, perusahaan mengajukan penawaran awal senilai US$5 miliar atau sekitar Rp90 triliun untuk mengakuisisi Energy Development Corp atau EDC di Filipina.
Rencana tersebut masih berada pada tahap awal dan belum mengikat secara hukum. Namun, jika terealisasi, transaksi tersebut berpotensi meningkatkan kapasitas BREN secara signifikan.
Kinerja Semester I/2026 juga memberikan gambaran positif. Pendapatan naik 11,5 persen menjadi US$334,44 juta. EBITDA tumbuh 13,1 persen menjadi US$293 juta, sedangkan laba bersih meningkat 29 persen menjadi US$106 juta.
Menurut kami, kombinasi kontrak penjualan listrik jangka panjang dengan PLN dan ekspansi kapasitas membuat BREN memiliki cerita pertumbuhan yang cukup jelas. Namun, investor tetap perlu memperhatikan valuasinya.
Secara teknikal, BREN masih berada di demand area. Support kuat 3.050 menjadi level penting. Selama level tersebut bertahan, tren konsolidasi masih memiliki peluang berlanjut.
Selain itu, posisi saham sudah berada di zona oversold. Kondisi tersebut membuka peluang technical rebound menuju resistance 4.270. Namun, rebound teknikal tetap berbeda dengan perubahan tren fundamental.
CUAN: Diversifikasi Menjadi Senjata Utama
CUAN bergerak di sektor pertambangan, energi, dan jasa kontraktor. Portofolionya kini mencakup batubara, emas, batu gamping, serta jasa pertambangan melalui PTRO.
Sejak 2025, CUAN memperluas bisnis secara agresif. Melalui PT Kreasi Jasa Persada dan PTRO, perusahaan mengambil alih PT Singaraja Putra Tbk. atau SINI untuk memperkuat cadangan batubara dan infrastruktur logistik.
Selain itu, ekspansi berlanjut ke komoditas lain. PTRO berinvestasi di Tolu Minerals di Papua Nugini. Grup tersebut juga mengembangkan proyek pembangkit listrik berkapasitas 680 MW di Feni Haltim, Maluku Utara.
Pertumbuhan bisnis mulai terlihat pada Semester I/2026. Pendapatan CUAN mencapai US$678,2 juta, naik dari sekitar US$309,6 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih yang menjadi bagian pemegang saham induk juga meningkat lebih dari 150 persen menjadi US$18,4 juta. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari konsolidasi bisnis jasa pertambangan PTRO dan peningkatan volume ekspor batubara.
Menurut kami, daya tarik CUAN terletak pada upaya diversifikasi. Perusahaan tidak ingin hanya bergantung pada siklus batubara. Emas, tembaga, nikel, dan infrastruktur energi dapat menjadi sumber pertumbuhan berikutnya.
Secara teknikal, CUAN masih berada di demand area dengan support 750. Sementara itu, resistance 930 menjadi level yang dapat dicermati untuk trading jangka pendek.
Namun, volatilitas CUAN tetap tinggi. Sentimen terhadap saham lain dalam ekosistem Grup Prajogo Pangestu juga berpotensi memengaruhi pergerakannya. Karena itu, strategi trading perlu memperhitungkan risiko tersebut.
PTRO: Beralih dari Pemilik Aset Menjadi Penyedia Jasa
PTRO menjadi bagian penting dalam ekspansi CUAN. Perusahaan menjalankan bisnis jasa pertambangan, EPC, dan logistik maritim.
Transaksi terkait SINI menarik untuk dicermati. Setelah melepas kepemilikan di PT Kemilau Mulia Sakti, PTRO menjadi standby buyer dalam rights issue SINI.
SINI kemudian menggunakan dana rights issue untuk mengakuisisi aset tambang yang sebelumnya dimiliki PTRO. Dengan struktur tersebut, PTRO memperoleh dana dari pelepasan aset sekaligus tetap memiliki peluang memperoleh pendapatan melalui kontrak jasa pertambangan.
Dua kontrak jasa pertambangan dari anak usaha SINI memiliki nilai total Rp9,3 triliun dan durasi sepanjang usia tambang. Menurut kami, struktur seperti ini menarik karena PTRO dapat mempertahankan peluang pendapatan tanpa harus terus menanggung kepemilikan aset tambang yang sama.
PTRO juga memperluas bisnis ke mineral lain. Perusahaan berinvestasi sebesar 23,75 juta dolar Australia di Tolu Minerals untuk masuk ke bisnis emas dan tembaga di Papua Nugini.
Selain itu, PTRO mengembangkan bisnis pendukung industri nikel dan pembangkit listrik 680 MW di Feni Haltim. Dengan demikian, portofolio perusahaan mulai bergerak lebih luas dari sekadar jasa pertambangan batubara.
Pada Semester I/2026, pendapatan konsolidasian PTRO menembus US$550 juta dan laba bersih tetap tumbuh solid. Kondisi tersebut memperkuat cerita ekspansi perusahaan.
Secara teknikal, PTRO masih mengalami konsolidasi. Namun, pola higher low mulai muncul beberapa kali dan pergerakan harga mengikuti trendline MA50 harian dengan cukup rapi.
Support 4.560 menjadi area yang menarik untuk dicermati. Sementara itu, resistance 5.550 dapat menjadi target ketika harga berhasil memantul dari area permintaan tersebut.
BRPT: Holding dengan Banyak Mesin Pertumbuhan
BRPT memiliki posisi strategis karena menjadi perusahaan induk dalam ekosistem bisnis Prajogo Pangestu. Portofolionya mencakup petrokimia melalui TPIA, energi terbarukan melalui BREN, serta infrastruktur dan logistik melalui CDIA.
Karena itu, perkembangan anak usaha akan sangat memengaruhi cerita investasi BRPT. Ketika TPIA memperluas bisnis, BREN meningkatkan kapasitas, dan CDIA menambah aset, BRPT memperoleh eksposur terhadap berbagai sumber pertumbuhan tersebut.
Dalam dua tahun terakhir, BRPT semakin agresif mengembangkan bisnis regional melalui TPIA. Ekspansi tersebut mencakup aset SECP di Singapura, bisnis energi dan infrastruktur, aset avtur di Bandara Changi, serta bisnis ritel bahan bakar dan otomotif Cycle & Carriage.
Kinerja Semester I/2026 menunjukkan skala bisnis yang semakin besar. Pendapatan konsolidasian BRPT melonjak 76,1 persen menjadi US$5,68 miliar.
Namun, laba bersih yang menjadi bagian pemegang saham induk turun 64,8 persen menjadi US$190 juta. Keuntungan satu kali dari akuisisi kilang Shell pada tahun sebelumnya tidak berulang. Selain itu, margin petrokimia masih menghadapi tekanan.
Menurut kami, investor perlu membedakan antara penurunan laba karena faktor satu kali dan pelemahan bisnis inti. BRPT saat ini memiliki portofolio yang semakin beragam. Energi panas bumi, infrastruktur, logistik, dan utilitas industri dapat menjadi mesin pertumbuhan baru.
Secara teknikal, BRPT masih berada di demand area dan bergerak dalam fase konsolidasi. Support 1.690 menjadi level penting. Selama harga bertahan di atas area tersebut, peluang menuju resistance 2.000 masih terbuka.
Sudut Pandang: Jangan Hanya Memburu Saham yang Sudah Anjlok
Menurut kami, kesalahan terbesar investor dalam kondisi seperti ini adalah menganggap penurunan harga sebagai alasan tunggal untuk membeli. Harga yang turun memang membuat valuasi lebih menarik. Namun, investor tetap perlu mencari alasan fundamental yang dapat menopang pemulihan harga.
Enam saham dalam Grup Prajogo Pangestu memperlihatkan kondisi yang berbeda. TPIA memiliki ekspansi besar, tetapi laba menghadapi tekanan. CDIA membangun aset untuk pertumbuhan jangka panjang. BREN memiliki bisnis energi dengan pertumbuhan kinerja yang solid.
Sementara itu, CUAN mengandalkan diversifikasi, PTRO memperkuat jasa pertambangan dan mineral, sedangkan BRPT memiliki peran sebagai holding dengan eksposur terhadap banyak sektor.
Karena itu, strategi investor sebaiknya tidak menyamaratakan keenam saham tersebut. Investor dapat menilai kualitas bisnis, perkembangan ekspansi, kinerja laba, valuasi, serta posisi teknikal masing-masing emiten.
Dari sisi teknikal, beberapa saham memang sudah mendekati area demand. Kondisi oversold juga membuka peluang rebound. Namun, technical rebound tidak selalu berarti tren turun telah berakhir.
Oleh karena itu, level support dan resistance tetap penting. Investor yang memiliki strategi trading dapat menjadikan level tersebut sebagai acuan. Sementara itu, investor jangka panjang perlu memberikan perhatian lebih besar pada kemampuan ekspansi menghasilkan laba.
Pada akhirnya, koreksi besar justru membuat pemilihan saham semakin penting. Investor tidak harus membeli seluruh saham yang sudah turun. Menurut kami, investor sebaiknya memilih emiten dengan kombinasi fundamental, prospek ekspansi, dan teknikal yang paling sesuai dengan toleransi risikonya.
Kesimpulan
Saham Grup Prajogo Pangestu memang mengalami koreksi tajam sepanjang 2026. TPIA mencatat penurunan paling dalam hingga 71,43 persen, sedangkan BRPT turun sekitar 43 persen hingga perdagangan 28 Agustus 2026.
Namun, koreksi tersebut tidak serta-merta menghapus cerita pertumbuhan masing-masing perusahaan. Enam emiten tersebut masih menjalankan berbagai aksi korporasi dan ekspansi yang dapat memperbesar skala bisnis.
Menurut pandangan kami, peluang rebound mulai menarik untuk dicermati, terutama ketika beberapa saham sudah berada di area demand dan mengalami tekanan jual besar. Meski begitu, investor tetap perlu membedakan peluang teknikal dengan prospek fundamental.
Dengan demikian, pertanyaan utamanya bukan sekadar apakah saham-saham tersebut sudah murah. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah ekspansi yang mereka jalankan mampu menghasilkan pendapatan dan laba yang lebih besar pada masa mendatang.
FAQ
Apakah saham Grup Prajogo Pangestu menarik setelah mengalami koreksi?
Menurut pandangan kami, peluang rebound mulai menarik untuk dicermati. Namun, investor tetap perlu menilai setiap emiten secara terpisah karena kondisi fundamental dan teknikalnya berbeda.
Saham Grup Prajogo Pangestu mana yang mengalami koreksi paling dalam?
Hingga perdagangan 28 Agustus 2026, TPIA mengalami koreksi paling dalam, yaitu 71,43 persen sejak awal tahun.
Apakah valuasi yang turun menjadi alasan membeli saham?
Tidak selalu. Valuasi yang lebih rendah dapat membuka peluang, tetapi investor tetap perlu melihat kinerja bisnis, prospek ekspansi, pertumbuhan laba, serta risiko perusahaan.
Apa level teknikal penting untuk TPIA?
Area di bawah 2.000 hingga sekitar support 1.690 menjadi zona yang menarik untuk dicermati. Sementara itu, resistance 2.690 menjadi target penguatan jangka pendek.
Apa support penting BREN?
Support kuat BREN berada di 3.050. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang konsolidasi dan technical rebound masih terbuka dengan resistance 4.270 sebagai target terdekat.
Apakah CUAN dan PTRO memiliki prospek pertumbuhan?
Keduanya memiliki agenda ekspansi yang cukup luas. CUAN memperluas bisnis ke berbagai komoditas dan energi, sedangkan PTRO memperkuat jasa pertambangan serta mulai masuk ke bisnis emas dan tembaga.










