Sabtu, 31 Oktober 2026Berita Seputar Investasi Terbaru
RuangInvest.com
Berita Seputar Investasi Terbaru

Laba Bersih DEWA Melonjak 89 Persen Jadi Rp354,28 Miliar

Oleh Dwi Prakoso · Agustus 11, 2026 · 10:43 am
Daftar Isi 6 bagian

RuangInvest.com, Jakarta – Laba bersih DEWA atau PT Darma Henwa Tbk pada semester I-2026 mencatat pertumbuhan signifikan. Perseroan membukukan laba bersih Rp354,28 miliar hingga Juni 2026.

Capaian tersebut melonjak 89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada semester I-2025, DEWA mencatat laba bersih sebesar Rp187,44 miliar.

Kinerja positif tersebut terjadi ketika pertumbuhan pendapatan perseroan relatif terbatas. Pendapatan DEWA hanya meningkat 3,13 persen menjadi Rp3,20 triliun dari Rp3,10 triliun pada semester I-2025.

Laba Bersih DEWA Melonjak 89 Persen

Lonjakan laba bersih DEWA menjadi salah satu sorotan utama dari kinerja keuangan perseroan pada semester I-2026. Pertumbuhan laba mencapai 89 persen secara tahunan.

Kenaikan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Kondisi ini menunjukkan adanya faktor lain yang turut memperkuat kinerja laba perseroan.

Berdasarkan riset Stockbit pada Senin (10/8/2026), kenaikan laba terutama didukung oleh penyesuaian nilai wajar investasi saham. Nilai penyesuaian tersebut mencapai sekitar Rp229 miliar pada kuartal II-2026.

Penyesuaian nilai wajar itu menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan laba. Pasalnya, pada periode yang sama DEWA juga menghadapi kenaikan beban keuangan.

Beban keuangan perseroan meningkat sekitar 95 persen. Kenaikan tersebut terutama berasal dari denda pinjaman bank yang bersifat satu kali atau one-off.

Nilai denda pinjaman bank tersebut mencapai Rp46 miliar. Dengan demikian, pertumbuhan laba tidak sepenuhnya berasal dari ekspansi operasional.

Namun, kontribusi penyesuaian nilai wajar investasi mampu mengompensasi tekanan dari kenaikan beban keuangan. Faktor tersebut kemudian membantu mendorong laba bersih DEWA ke level yang lebih tinggi.

Pendapatan DEWA Tumbuh Tipis

Di sisi pendapatan, DEWA membukukan pertumbuhan yang lebih moderat. Pendapatan semester I-2026 tercatat Rp3,20 triliun.

Angka tersebut naik 3,13 persen dibandingkan Rp3,10 triliun pada semester I-2025. Pertumbuhan ini menunjukkan aktivitas bisnis perseroan tetap berjalan positif.

Sektor jasa pertambangan menjadi penyumbang utama pendapatan. Kontribusi tersebut berasal dari afiliasi perseroan, yaitu PT Kaltim Prima Coal.

Pendapatan dari sektor tersebut mencapai Rp2,34 triliun. Nilai ini menjadi bagian terbesar dari total pendapatan DEWA hingga Juni 2026.

Ketergantungan pada jasa pertambangan membuat perkembangan industri batu bara tetap menjadi faktor penting bagi kinerja perseroan. Selain itu, aktivitas produksi dan volume pekerjaan tambang juga dapat memengaruhi pendapatan.

Meskipun pendapatan hanya tumbuh tipis, perseroan mampu meningkatkan laba bruto secara lebih kuat. Hal ini menjadi salah satu faktor positif dalam laporan keuangan semester I-2026.

Laba Bruto DEWA Naik 23,45 Persen

Selain pertumbuhan laba bersih, peningkatan laba bruto juga menjadi perhatian. Laba bruto DEWA tercatat mencapai Rp612,16 miliar pada semester I-2026.

Jumlah tersebut meningkat 23,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba bruto lebih tinggi daripada kenaikan pendapatan.

Kinerja tersebut didukung oleh penurunan beban pokok pendapatan. Beban pokok pendapatan DEWA turun 0,73 persen menjadi Rp2,59 triliun.

Penurunan beban pokok memberikan ruang lebih besar bagi perseroan untuk mencatatkan laba bruto. Dengan pendapatan yang meningkat, biaya utama justru bergerak turun.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya perbaikan pada tingkat profitabilitas operasional. Namun, investor tetap perlu melihat komponen laba lainnya untuk menilai kualitas pertumbuhan laba secara menyeluruh.

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah penyesuaian nilai wajar investasi. Komponen tersebut memberikan kontribusi besar terhadap laba periode berjalan, tetapi sifatnya berbeda dari pendapatan jasa pertambangan.

Karena itu, kinerja operasional dan laba berulang tetap menjadi perhatian dalam membaca prospek DEWA. Investor perlu membedakan antara pertumbuhan yang berasal dari kegiatan utama dan keuntungan berbasis nilai investasi.

Struktur Keuangan DEWA hingga Juni 2026

Dari sisi neraca, total aset DEWA juga mengalami peningkatan. Hingga Juni 2026, total aset perseroan mencapai Rp17,62 triliun.

Peningkatan aset tersebut menunjukkan skala neraca perseroan tetap berkembang. Namun, pertumbuhan aset juga perlu dilihat bersama perubahan liabilitas dan ekuitas.

Total liabilitas DEWA tercatat sekitar Rp9,5 triliun. Sementara itu, jumlah ekuitas perseroan mencapai Rp8,1 triliun.

Struktur tersebut memperlihatkan bahwa liabilitas masih menjadi bagian penting dalam pembiayaan aset perseroan. Karena itu, perkembangan beban keuangan menjadi faktor yang perlu dicermati.

Terlebih, beban keuangan meningkat 95 persen pada semester I-2026. Meski salah satu penyebabnya adalah denda pinjaman bank yang bersifat one-off, kenaikan tersebut tetap menjadi perhatian bagi investor.

Di sisi lain, pertumbuhan ekuitas dapat menjadi faktor pendukung bagi struktur permodalan. Namun, investor perlu melihat perkembangan utang dan biaya pendanaan pada periode berikutnya.

Faktor yang Perlu Dicermati Investor

Kinerja semester I-2026 memberikan sejumlah informasi penting mengenai kondisi DEWA. Pertumbuhan laba memang terlihat kuat, tetapi komposisi kenaikan laba juga perlu diperhatikan.

Beberapa faktor utama yang dapat menjadi perhatian investor antara lain:

  • Laba bersih: DEWA membukukan laba Rp354,28 miliar, naik 89 persen secara tahunan.
  • Pendapatan: Pendapatan meningkat 3,13 persen menjadi Rp3,20 triliun.
  • Jasa pertambangan: Kontribusi dari PT Kaltim Prima Coal mencapai Rp2,34 triliun.
  • Laba bruto: Laba bruto naik 23,45 persen menjadi Rp612,16 miliar.
  • Beban pokok pendapatan: Beban tersebut turun 0,73 persen menjadi Rp2,59 triliun.
  • Penyesuaian investasi: Penyesuaian nilai wajar investasi saham mencapai Rp229 miliar.
  • Beban keuangan: Beban keuangan naik 95 persen dan dipengaruhi denda pinjaman Rp46 miliar.
  • Aset: Total aset hingga Juni 2026 mencapai Rp17,62 triliun.
  • Liabilitas: Total liabilitas tercatat sekitar Rp9,5 triliun.
  • Ekuitas: Ekuitas perseroan mencapai sekitar Rp8,1 triliun.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan laba DEWA memiliki beberapa pendorong. Perbaikan laba bruto menjadi sinyal positif dari sisi operasional.

Namun, penyesuaian nilai wajar investasi juga memberikan kontribusi besar. Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat persentase pertumbuhan laba bersih.

Prospek DEWA Setelah Semester I-2026

Kinerja semester pertama menjadi pijakan penting bagi DEWA memasuki paruh kedua 2026. Pertumbuhan pendapatan masih menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan.

Jika aktivitas jasa pertambangan tetap kuat, pendapatan perseroan berpotensi mempertahankan tren positif. Selain itu, efisiensi biaya dapat membantu menjaga pertumbuhan laba bruto.

Sementara itu, perkembangan beban keuangan juga perlu mendapat perhatian. Kenaikan biaya pendanaan dapat menekan laba apabila berlangsung secara berkelanjutan.

Meski demikian, denda pinjaman sebesar Rp46 miliar disebut bersifat one-off. Artinya, tekanan tersebut tidak serta-merta mencerminkan beban berulang pada periode mendatang.

Di sisi lain, investor juga perlu memperhatikan kontribusi keuntungan dari investasi. Perubahan nilai wajar dapat memberikan dampak besar terhadap laba, tetapi sifatnya dapat berubah mengikuti kondisi pasar.

Dengan demikian, kinerja DEWA pada semester II-2026 akan menjadi penting untuk melihat keberlanjutan pertumbuhan. Perkembangan pendapatan, margin laba, beban keuangan, serta kontribusi investasi akan menjadi sejumlah indikator utama.

Secara keseluruhan, laporan semester I-2026 menunjukkan kinerja keuangan DEWA yang cukup kuat. Laba bersih tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan pendapatan.

Kenaikan laba bruto juga memberikan sinyal positif dari sisi operasional. Namun, investor tetap perlu mencermati faktor nonoperasional yang ikut menopang laba.

Karena itu, pertumbuhan laba bersih DEWA perlu dibaca secara menyeluruh. Bukan hanya besarannya, tetapi juga sumber dan keberlanjutan pertumbuhan tersebut.

Bagi investor, laporan semester I-2026 dapat menjadi bahan untuk mengevaluasi prospek perseroan. Perkembangan bisnis jasa pertambangan dan pengelolaan struktur keuangan akan menjadi faktor penting ke depan.

Tag:

Suka berbagi informasi finansial :)