IPO Proline (PRDL) Bidik Dana Hingga Rp62,75 Miliar

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – IPO Proline PRDL resmi dimulai setelah PT Prodia Diagnostic Line Tbk membuka masa penawaran awal atau book building pada Kamis (18/6/2026). Anak usaha PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) tersebut menargetkan penghimpunan dana hingga Rp62,75 miliar dari pasar modal.

Perseroan akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode emiten PRDL. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat bisnis alat kesehatan dan memperluas kapasitas operasional di tengah pertumbuhan industri kesehatan nasional.

Melalui penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO), perusahaan menawarkan ratusan juta saham kepada investor publik. Selain itu, PRDL juga menyiapkan program kepemilikan saham bagi karyawan melalui skema Employee Stock Allocation (ESA).

IPO Proline PRDL Tawarkan 522,9 Juta Saham

Dalam prospektus yang diterbitkan pada Kamis (18/6/2026), IPO Proline PRDL menawarkan sebanyak 522,9 juta saham baru. Jumlah tersebut setara dengan 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum perdana selesai dilakukan.

Perseroan menetapkan kisaran harga penawaran awal antara Rp100 hingga Rp120 per saham. Dengan rentang harga tersebut, perusahaan berpotensi mengantongi dana segar sekitar Rp52,29 miliar hingga Rp62,75 miliar.

Dana yang diperoleh dari IPO nantinya diharapkan dapat mendukung pengembangan bisnis perusahaan. Selain itu, tambahan modal juga dapat memperkuat posisi keuangan perseroan dalam menghadapi persaingan industri alat kesehatan yang semakin kompetitif.

Sementara itu, minat investor terhadap sektor kesehatan dinilai masih cukup tinggi. Hal tersebut didorong oleh meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan serta penggunaan alat diagnostik modern di berbagai fasilitas kesehatan.

Mayoritas Dana IPO Digunakan Melunasi Utang

Salah satu fokus utama penggunaan dana IPO Proline PRDL adalah memperbaiki struktur permodalan perusahaan.

Manajemen mengalokasikan sekitar Rp35,67 miliar atau setara 57 persen dari dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi untuk pelunasan utang perbankan.

Utang yang akan dilunasi terdiri dari pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Pan Indonesia Tbk.

Pelunasan Utang BCA dan Panin

Untuk pinjaman BCA, perseroan akan mempercepat pelunasan utang sebesar Rp21,5 miliar. Pinjaman tersebut sebelumnya digunakan untuk pembangunan kantor, gudang, dan laboratorium di kawasan Cikarang, Jawa Barat.

Sementara itu, pinjaman kepada Panin yang akan dilunasi mencapai Rp14,12 miliar. Dana tersebut sebelumnya digunakan untuk pembelian tanah dan bangunan yang menjadi fasilitas produksi perusahaan.

Manajemen menilai langkah ini akan membantu menekan beban bunga sehingga likuiditas perusahaan menjadi lebih sehat.

Hingga akhir 2025, total liabilitas Proline tercatat sebesar Rp111,37 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp94,2 miliar atau 85 persen merupakan utang bank.

Karena itu, pelunasan sebagian utang dinilai penting untuk meningkatkan fleksibilitas keuangan perusahaan ke depan.

Dana IPO Juga Dialokasikan untuk Ekspansi

Selain membayar utang, perseroan menyiapkan dana untuk belanja modal atau capital expenditure (capex).

Sekitar 28,92 persen dana IPO akan digunakan untuk berbagai kebutuhan pengembangan fasilitas dan peningkatan kapasitas operasional.

Beberapa rencana investasi yang akan dilakukan meliputi:

  • Pembelian mesin produksi.
  • Pengadaan peralatan kalibrasi.
  • Penambahan kendaraan operasional.
  • Pengembangan system software.
  • Relayout area produksi.
  • Penambahan alat untuk Laboratorium Biomolekuler.

Investasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Di sisi lain, sekitar 8,51 persen dana IPO akan digunakan sebagai modal kerja.

Alokasi modal kerja mencakup pembelian bahan baku, biaya product development, serta aktivitas pemasaran dan penjualan.

Apabila terdapat dana yang belum digunakan, perusahaan menyatakan akan menempatkannya pada instrumen keuangan yang aman, likuid, dan memiliki risiko rendah.

Program ESA Jadi Bagian Aksi Korporasi

Bersamaan dengan IPO Proline PRDL, perusahaan juga menggelar program Employee Stock Allocation atau ESA. Program ini memberikan kesempatan kepada karyawan untuk memiliki saham perusahaan.

Jumlah saham yang dialokasikan melalui ESA mencapai maksimal 36,6 juta saham. Angka tersebut setara dengan 7 persen dari total saham yang ditawarkan dalam IPO.

Harga pelaksanaan ESA akan mengikuti harga final IPO. Dengan demikian, pegawai dapat membeli saham dengan nilai yang sama seperti investor publik yang berpartisipasi dalam penawaran umum.

Kebijakan tersebut sering digunakan perusahaan yang akan melantai di bursa. Tujuannya adalah meningkatkan keterlibatan karyawan sekaligus menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham.

Profil Singkat Proline

PT Prodia Diagnostic Line Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang alat kesehatan In Vitro Diagnostic (IVD). Perusahaan berdiri pada tahun 2010 dan menjadi bagian dari ekosistem bisnis kesehatan Grup Prodia.

Selain memproduksi reagen dan instrumen IVD, perusahaan juga menjalankan layanan laboratorium kalibrasi. Layanan tersebut digunakan untuk memastikan alat ukur berfungsi sesuai standar dan dapat digunakan secara akurat.

Bisnis Alat Kesehatan Jadi Andalan Perseroan

Sebagai produsen alat kesehatan, PRDL memiliki portofolio produk yang cukup beragam. Perusahaan memproduksi dan merakit alat kesehatan menggunakan merek sendiri, merek distributor, maupun merek prinsipal.

Produk yang dipasarkan dikelompokkan ke dalam beberapa kategori utama, yaitu:

  • Kimia Klinik
  • Hematologi
  • Imunologi
  • Biomolekular
  • Instrumen laboratorium

Saat ini perseroan memiliki sekitar 1.083 Stock Keeping Unit (SKU) aktif. Jumlah tersebut menunjukkan luasnya cakupan produk yang dimiliki perusahaan dalam mendukung kebutuhan laboratorium dan fasilitas kesehatan.

Selain itu, sektor diagnostik laboratorium terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan pemeriksaan kesehatan yang cepat dan akurat. Karena itu, peluang pertumbuhan bisnis perusahaan masih terbuka lebar dalam beberapa tahun mendatang.

Jadwal IPO Proline PRDL dan Pencatatan Saham

Dalam proses penawaran umum perdana ini, perseroan menunjuk Sucor Sekuritas sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek atau Lead Underwriter. Di sisi lain, perusahaan juga masih membuka peluang keterlibatan penjamin emisi lain dalam aksi korporasi tersebut.

Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, masa book building berlangsung pada 18 hingga 23 Juni 2026. Setelah itu, perseroan akan memasuki tahap penawaran umum kepada investor.

Berikut jadwal IPO Proline PRDL:

  • Masa penawaran awal: 18โ€“23 Juni 2026
  • Masa penawaran umum: 1โ€“7 Juli 2026
  • Pencatatan saham di BEI: 9 Juli 2026

Dengan target dana maksimal Rp62,75 miliar, IPO Proline PRDL menjadi salah satu penawaran saham perdana yang menarik perhatian pasar pada pertengahan tahun 2026. Investor kini akan mencermati perkembangan proses book building hingga penetapan harga final sebelum saham PRDL resmi diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu