RuangInvest.com, Jakarta – IPO Esa Medika 2026 menjadi salah satu aksi korporasi yang menarik perhatian pasar modal pada pertengahan tahun ini. Perusahaan penyedia alat kesehatan, PT Esa Medika Mandiri Tbk, resmi mengumumkan rencana penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) dengan target dana mencapai Rp269 miliar.
Perseroan dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2026. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung ekspansi bisnis di sektor alat kesehatan yang terus berkembang.
Dalam prospektus awal yang diterbitkan pada Minggu (21/6/2026), perusahaan menawarkan saham baru kepada investor dengan kisaran harga Rp446 hingga Rp515 per saham. Melalui aksi korporasi tersebut, Esa Medika berharap dapat meningkatkan kapasitas usaha serta memperluas jangkauan bisnisnya di Indonesia.
IPO Esa Medika 2026 Tawarkan 522,86 Juta Saham
Dalam proses penawaran umum perdana ini, PT Esa Medika Mandiri Tbk berencana menerbitkan sekitar 522,86 juta saham baru. Jumlah tersebut setara dengan 30 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Dengan rentang harga penawaran Rp446-Rp515 per saham selama masa book building, perseroan berpotensi menghimpun dana segar sekitar Rp233 miliar hingga Rp269 miliar.
Aksi korporasi ini menjadi langkah strategis perusahaan untuk memperkuat posisi di industri alat kesehatan nasional. Selain itu, kebutuhan alat kesehatan di Indonesia masih menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup positif seiring peningkatan layanan kesehatan dan investasi pemerintah di sektor tersebut.
Alokasi Dana IPO Fokus pada Modal Kerja
Sebagian besar dana hasil IPO Esa Medika 2026 akan digunakan untuk memperkuat modal kerja perusahaan. Perseroan mengalokasikan sekitar 68,7 persen dana hasil penawaran umum untuk kebutuhan operasional dan pengadaan alat kesehatan.
Rincian penggunaan dana tersebut meliputi:
- 6,6 persen untuk pembelian alat kesehatan terkait proyek softloan Kementerian Kesehatan.
- 93,4 persen untuk memperkuat persediaan atau stok alat kesehatan.
- Pembelian Electro Cauter terkait proyek Bank Dunia senilai Rp45,6 miliar.
- Pembelian instrumen bedah merek Medicon sekitar Rp30 miliar.
- Pembelian electrosurgical unit merek Bowa senilai Rp30 miliar.
- Pembelian lampu operasi merek Simeon sebesar Rp23 miliar.
- Pembelian benang bedah sekitar Rp21,4 miliar.
Manajemen menilai penguatan stok menjadi langkah penting untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan proyek-proyek kesehatan yang sedang berjalan. Karena itu, sebagian besar dana IPO diarahkan untuk mendukung ketersediaan produk.
Transaksi Afiliasi Jadi Perhatian
Dalam prospektus awal, perusahaan juga mengungkapkan adanya beberapa transaksi afiliasi terkait pengadaan alat kesehatan.
Pembelian electrosurgical unit merek Bowa dan lampu operasi merek Simeon dilakukan melalui PT Sonnen Utama Nasional. Nilai transaksi masing-masing mencapai Rp30 miliar dan Rp23 miliar.
Sementara itu, pembelian benang bedah senilai Rp21,4 miliar dilakukan melalui PT Esa Wego Indonesia. Perseroan menegaskan bahwa transaksi tersebut telah dicantumkan secara terbuka dalam dokumen prospektus sebagai bentuk transparansi kepada calon investor.
Dana IPO Digunakan untuk Melunasi Utang
Selain memperkuat modal kerja, Esa Medika juga akan menggunakan sebagian dana hasil IPO untuk memperbaiki struktur keuangan perusahaan.
Sekitar 18,5 persen atau senilai Rp50 miliar akan dialokasikan untuk melunasi sebagian utang kepada Bank Ina Perdana.
Berdasarkan data perusahaan, saat ini perseroan masih memiliki kewajiban berupa kredit modal kerja sebesar Rp42,9 miliar dan kredit investasi sekitar Rp15,3 miliar.
Pelunasan sebagian pinjaman tersebut diharapkan dapat mengurangi beban bunga sekaligus meningkatkan fleksibilitas keuangan perusahaan pada masa mendatang.
Pengembangan Pabrik Baru di Cikupa
Sementara itu, sekitar 11,8 persen dana hasil IPO akan digunakan untuk pengembangan usaha melalui pembangunan gedung pabrik baru di kawasan Cikupa.
Ekspansi ini dilakukan untuk mendukung rencana produksi produk baru yang memerlukan fasilitas manufaktur tambahan. Perusahaan menargetkan pembangunan fasilitas tersebut dapat diselesaikan paling lambat pada kuartal IV tahun 2026.
Keberadaan pabrik baru diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas portofolio produk yang dipasarkan perusahaan. Selain itu, fasilitas tersebut juga berpotensi mendukung efisiensi operasional dalam jangka panjang.
Langkah ekspansi ini menunjukkan optimisme manajemen terhadap prospek industri alat kesehatan nasional. Dengan dukungan dana dari IPO Esa Medika 2026, perseroan berharap dapat memperkuat daya saing sekaligus menangkap peluang pertumbuhan yang masih terbuka lebar di sektor kesehatan Indonesia.
Bagi investor, IPO ini menjadi salah satu penawaran saham baru yang patut dicermati. Selain menawarkan potensi pertumbuhan bisnis, perusahaan juga memiliki rencana penggunaan dana yang relatif jelas, mulai dari penguatan modal kerja, pelunasan utang, hingga ekspansi fasilitas produksi.





