IHSG Turun 35 Persen, Samuel Sarankan Strategi Investasi Defensif

Dwi Prakoso

RuangInvest.com – JakartaIHSG turun 35 persen dari puncaknya sepanjang semester I-2026 dan diperkirakan masih menghadapi tekanan berat pada paruh kedua tahun ini. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai mengalihkan fokus ke strategi investasi yang lebih defensif.

Meski valuasi saham Indonesia telah berada di level yang sangat murah, sejumlah faktor eksternal dan domestik dinilai belum mendukung pemulihan pasar secara berkelanjutan. Kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), pelemahan rupiah, hingga ketidakpastian arah kebijakan pemerintah masih menjadi perhatian utama investor.

Dalam laporan outlook semester II-2026 bertajuk The Best Offense is Defense, Samuel Sekuritas menilai belum ada katalis yang cukup kuat untuk mendorong reli pasar saham dalam waktu dekat. Karena itu, perusahaan sekuritas tersebut merekomendasikan pendekatan investasi yang lebih berhati-hati.

IHSG Turun 35 Persen Dipengaruhi Kenaikan Suku Bunga

Samuel Sekuritas menilai tantangan terbesar pasar saat ini berasal dari perubahan sikap Bank Indonesia yang telah memasuki siklus kenaikan suku bunga. Berbeda dengan periode sebelumnya yang bertujuan mengendalikan inflasi, kebijakan kali ini lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

BI diperkirakan lebih mengutamakan stabilitas dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan tersebut memang dapat membantu menjaga daya tarik aset rupiah. Namun, di sisi lain kebijakan itu berpotensi membatasi ruang ekspansi ekonomi dan pertumbuhan laba perusahaan.

Samuel membandingkan kondisi sekarang dengan siklus kenaikan suku bunga pada 2018. Saat itu, BI juga menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah sekaligus meredam arus keluar modal asing.

Hasilnya, IHSG cenderung bergerak mendatar selama periode kenaikan suku bunga berlangsung. Sementara itu, investor asing tetap melakukan aksi jual, meski laju penjualannya lebih lambat dibanding sebelumnya.

Menurut Samuel, persoalan utamanya bukan sekadar kenaikan suku bunga. Kebijakan tersebut memberi sinyal bahwa BI kini lebih mengutamakan stabilitas dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, daya tarik Indonesia sebagai pasar berkembang ikut berkurang di mata investor global.

Kebijakan Pemerintah Masih Menjadi Perhatian Investor

Selain tekanan dari sisi moneter, Samuel juga menilai persepsi investor terhadap kebijakan pemerintah menjadi faktor lain yang membebani pasar saham.

Menurut laporan tersebut, berbagai kebijakan yang diluncurkan dalam beberapa bulan terakhir dinilai meningkatkan policy risk premium. Kondisi itu membuat investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi sebelum menempatkan dana di Indonesia.

Beberapa faktor yang menjadi perhatian investor antara lain:

  • Kekhawatiran terhadap disiplin fiskal pemerintah.
  • Perubahan desain sejumlah program pemerintah.
  • Sentralisasi modal dan ekspor sumber daya alam.
  • Pembentukan Danantara beserta kewenangannya.
  • Perubahan kebijakan yang berlangsung cepat sebelum implementasinya memiliki kepastian.

Selain itu, ketidakpastian tersebut membuat sebagian investor asing memilih mengurangi eksposur pada pasar saham domestik. Sentimen negatif pun masih membayangi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

Pelemahan Rupiah Diperkirakan Berlanjut

Di sisi lain, Samuel menilai pelemahan rupiah bukan sekadar fenomena sementara. Tekanan terhadap mata uang Garuda diperkirakan bersifat struktural karena selisih pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat semakin menyempit.

Selain itu, selisih imbal hasil obligasi kedua negara juga semakin kecil. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlangsung dalam jangka panjang.

Samuel menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif rendah serta lingkungan suku bunga riil yang rendah menjadi alasan utama mengapa depresiasi rupiah diperkirakan masih berlanjut.

Valuasi Murah Belum Menjadi Katalis Pemulihan

Meski pasar menghadapi berbagai tantangan, Samuel melihat valuasi saham Indonesia kini sudah berada pada level yang sangat murah.

Rasio Price to Earnings (P/E) IHSG berada di kisaran 13,6 kali. Angka tersebut sekitar 27 persen lebih murah dibandingkan rata-rata pasar negara berkembang atau MSCI Emerging Markets. Selain itu, valuasi tersebut juga sekitar 34 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata historis dalam 10 tahun terakhir.

Namun, valuasi murah belum cukup menjadi alasan untuk agresif membeli saham. Samuel menilai pasar saat ini diperdagangkan pada level yang setara dengan periode krisis, tetapi belum memiliki katalis yang mampu menopang kenaikan harga saham secara berkelanjutan.

Sementara itu, investor asing masih terus melakukan aksi jual, termasuk pada saham-saham perbankan besar yang selama ini menjadi penopang utama IHSG.

Samuel Rekomendasikan Strategi Investasi Defensif

Terkait evaluasi MSCI, Samuel menilai sebagian besar dampak negatif sudah tercermin dalam harga saham. Meskipun Indonesia masih menghadapi persoalan transparansi kepemilikan saham dan free float, peluang penurunan status menjadi Frontier Market dinilai relatif kecil.

Fokus investor kini tertuju pada evaluasi MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026. Hasil evaluasi tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu sentimen penting bagi pasar modal Indonesia.

Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Samuel merekomendasikan investor menerapkan strategi investasi defensif pada semester II-2026.

Rekomendasi alokasi aset yang disarankan meliputi:

  • Saham sebesar 15 persen atau diturunkan dari sebelumnya 20 persen.
  • Obligasi sebesar 40 persen.
  • Emas sebesar 10 persen.
  • Kas sebesar 30 persen, terutama dalam bentuk deposito dolar Amerika Serikat.

Menurut Samuel, komposisi tersebut dinilai lebih mampu menghadapi ketidakpastian pasar yang masih tinggi. Selain itu, strategi defensif memberikan ruang bagi investor untuk menjaga nilai portofolio sambil menunggu munculnya katalis baru yang mampu mendorong pemulihan pasar saham.

Dengan kondisi IHSG turun 35 persen, tekanan terhadap rupiah yang masih berlangsung, serta ketidakpastian kebijakan yang belum mereda, pendekatan investasi yang lebih berhati-hati dinilai menjadi pilihan paling rasional hingga situasi pasar menunjukkan perbaikan yang lebih jelas.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu