IHSG Berpeluang Tembus 8.000 pada Akhir 2026

Dwi Prakoso

IHSG berpeluang tembus 8.000 pada akhir 2026 menurut riset DBS

RuangInvest.com, JakartaIHSG berpeluang tembus 8.000 pada akhir 2026 meski pasar saham Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Pandangan tersebut disampaikan dalam riset terbaru DBS yang dirilis pada 17 Juni 2026.

Prospek penguatan pasar saham muncul setelah penurunan valuasi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut dinilai menciptakan peluang investasi yang lebih menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelemahan rupiah, serta risiko geopolitik, analis DBS melihat ruang pemulihan yang cukup besar bagi pasar modal Indonesia. Karena itu, target IHSG di level 8.000 dinilai masih realistis untuk dicapai hingga akhir tahun depan.

IHSG Berpeluang Tembus 8.000 Meski Hadapi Tantangan

Analis DBS William Simadiputra menyebut penurunan harga saham yang terjadi sebelumnya telah membuat valuasi pasar menjadi lebih menarik. Menurutnya, sebagian besar sentimen negatif yang selama ini membayangi pasar sudah tercermin dalam harga saham saat ini.

Target IHSG di level 8.000 mencerminkan valuasi sekitar 12,6 kali price to earnings (P/E) tahun buku 2026. Angka tersebut berada sekitar satu standar deviasi di bawah rata-rata historis 10 tahun yang mencapai 15 kali.

William menilai pasar saat ini cenderung terlalu pesimistis terhadap risiko perlambatan ekonomi. Padahal, fundamental laba perusahaan tercatat masih cukup solid.

Ia menegaskan bahwa penyesuaian valuasi yang terjadi telah menciptakan profil risiko dan imbal hasil yang lebih menarik bagi investor. Dengan kata lain, potensi kenaikan pasar dinilai lebih besar dibandingkan risiko penurunan yang tersisa.

Selain itu, DBS hanya memangkas tipis proyeksi pertumbuhan laba bersih emiten pada 2026 menjadi 7,5 persen secara tahunan. Sebelumnya, proyeksi pertumbuhan laba berada di level 7,8 persen.

Stabilisasi Rupiah Jadi Katalis Utama Pasar

DBS menilai pergerakan nilai tukar rupiah akan menjadi faktor paling penting bagi arah pasar saham Indonesia dalam beberapa kuartal mendatang.

Tekanan terhadap rupiah sebelumnya muncul akibat kekhawatiran penyempitan surplus perdagangan. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia dan implementasi skema ekspor baru turut membebani sentimen pasar.

Namun, kondisi tersebut diperkirakan mulai membaik. DBS melihat peluang penurunan harga minyak global serta meredanya ketegangan geopolitik yang selama ini memicu volatilitas pasar.

Sementara itu, dukungan kebijakan dari Bank Indonesia juga diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar. Jika rupiah menguat secara signifikan, valuasi saham Indonesia berpotensi mengalami re-rating yang positif.

Penguatan rupiah biasanya menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan investor terhadap aset domestik. Karena itu, stabilitas mata uang nasional akan menjadi katalis penting bagi upaya IHSG menuju level 8.000.

Laporan Keuangan Kuartal II Jadi Ujian Berikutnya

Selain faktor nilai tukar, musim laporan keuangan kuartal II-2026 akan menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Dengan valuasi saham yang saat ini sudah memperhitungkan skenario perlambatan ekonomi cukup berat, hasil kinerja emiten akan menjadi penentu arah pergerakan indeks berikutnya.

DBS menilai risiko penurunan pasar relatif lebih terbatas dibandingkan beberapa bulan lalu. Sebaliknya, jika kinerja perusahaan melampaui ekspektasi, pasar memiliki ruang untuk mencatat kenaikan valuasi yang lebih tinggi.

Beberapa sektor juga masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Sektor perbankan tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan laba perusahaan. Di sisi lain, sektor konsumer dan komoditas juga dinilai mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi global.

Sektor yang Dinilai Paling Tahan

DBS menyoroti beberapa sektor yang masih memiliki prospek menarik, antara lain:

  • Perbankan dengan kualitas aset yang kuat.
  • Konsumer yang didukung permintaan domestik.
  • Komoditas yang memperoleh manfaat dari harga global yang relatif stabil.
  • Telekomunikasi dengan pertumbuhan layanan digital.
  • Energi yang masih didukung kebutuhan jangka panjang.

Saham Pilihan DBS untuk Menghadapi 2026

Dalam strategi investasinya, DBS tetap mengutamakan perusahaan yang memiliki visibilitas laba tinggi, neraca keuangan sehat, serta model bisnis defensif.

Pilihan utama di sektor perbankan masih jatuh kepada PT Bank Central Asia Tbk. Bank tersebut dinilai memiliki likuiditas yang kuat, pertumbuhan kredit yang konservatif, serta kualitas aset yang unggul dibandingkan banyak pesaingnya.

Selain BBCA, DBS juga menyukai PT Astra International Tbk. Perseroan dinilai memiliki diversifikasi bisnis yang luas serta alokasi modal yang semakin efisien.

Sementara itu, sejumlah saham lain yang masuk dalam daftar pilihan DBS meliputi PT Mayora Indah Tbk, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, PT Indosat Tbk, PT Medco Energi Internasional Tbk, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk, serta PT AKR Corporindo Tbk.

Dengan kombinasi valuasi yang lebih murah, fundamental perusahaan yang tetap solid, serta potensi stabilisasi rupiah, DBS menilai peluang pemulihan pasar saham Indonesia masih terbuka lebar. Jika berbagai katalis tersebut berjalan sesuai harapan, target IHSG di level 8.000 pada akhir 2026 berpotensi menjadi kenyataan.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu