IHSG Menguat 2,82 Persen Sepekan, Saham Bank Jadi Penopang

Dwi Prakoso

IHSG menguat 2,82 persen sepekan ditopang saham BBCA BBRI dan BMRI.

RuangInvest.com, JakartaIHSG menguat 2,82 persen sepekan dan ditutup di zona hijau pada perdagangan akhir pekan. Penguatan ini didorong oleh sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan yang kembali menjadi perhatian investor.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik tipis 0,08 persen ke level 6.177,14 pada Jumat (19/6/2026). Meski kenaikan harian relatif terbatas, performa sepanjang pekan menunjukkan tren yang cukup positif di tengah berbagai sentimen global dan domestik.

Saham-saham perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi motor utama yang mendorong kenaikan indeks. Di sisi lain, tekanan dari beberapa saham besar masih membatasi ruang penguatan IHSG.

Saham Perbankan Jadi Penggerak Utama

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan BBCA menjadi kontributor terbesar terhadap penguatan IHSG sepanjang pekan ini. Saham emiten perbankan terbesar tersebut naik 6,33 persen ke level Rp6.300 per saham.

Kenaikan harga BBCA memberikan kontribusi sebesar 35,13 poin terhadap indeks. Angka tersebut menjadikan BBCA sebagai saham paling berpengaruh dalam menopang pergerakan pasar selama sepekan terakhir.

Selain BBCA, BBRI juga mencatat performa positif. Saham bank pelat merah tersebut menguat 2,81 persen dan menyumbang 12,54 poin terhadap IHSG.

Sementara itu, BMRI naik 2,62 persen dengan kontribusi sebesar 8,61 poin. Kombinasi penguatan ketiga saham perbankan tersebut menjadi fondasi utama yang membuat IHSG tetap bertahan di zona hijau.

Penguatan sektor perbankan menunjukkan investor masih menaruh kepercayaan terhadap prospek industri keuangan nasional. Selain itu, sektor ini masih menjadi pilihan utama dalam kondisi pasar yang cenderung fluktuatif.

Emiten Energi dan Infrastruktur Ikut Menopang

Selain saham bank, sejumlah emiten dari sektor energi dan infrastruktur juga memberikan dukungan signifikan terhadap indeks.

PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) menjadi salah satu bintang pasar dengan kenaikan 23,32 persen ke level Rp7.800 per saham. Penguatan tersebut berkontribusi sebesar 26,45 poin terhadap IHSG.

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) juga mencatat kinerja impresif. Saham perusahaan batu bara tersebut naik 13,4 persen dan menyumbang 20,66 poin terhadap indeks.

Di sektor energi baru terbarukan, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melonjak 24,53 persen. Kenaikan ini memberikan tambahan 19,51 poin terhadap pergerakan IHSG.

Tidak hanya itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 15,35 persen dan menyumbang 10,24 poin. Sementara PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) naik 11,35 persen dengan kontribusi 4,34 poin terhadap indeks.

Daftar Saham Penopang IHSG Pekan Ini

Beberapa saham yang menjadi pendorong utama penguatan indeks antara lain:

  • BBCA naik 6,33 persen dan menyumbang 35,13 poin.
  • MORA naik 23,32 persen dan menyumbang 26,45 poin.
  • BYAN naik 13,4 persen dan menyumbang 20,66 poin.
  • BREN naik 24,53 persen dan menyumbang 19,51 poin.
  • BBRI naik 2,81 persen dan menyumbang 12,54 poin.
  • MDKA naik 15,35 persen dan menyumbang 10,24 poin.
  • BMRI naik 2,62 persen dan menyumbang 8,61 poin.
  • TPIA naik 11,35 persen dan menyumbang 4,34 poin.

TLKM Menjadi Pemberat Terbesar Indeks

Meski IHSG menguat 2,82 persen sepekan, tidak semua saham bergerak positif. Beberapa emiten justru menjadi penghambat laju indeks.

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tercatat sebagai pemberat terbesar. Saham TLKM turun 9,79 persen sepanjang pekan dan mengurangi indeks sebesar 29,23 poin.

Selain TLKM, tekanan juga datang dari saham-saham Grup Barito dan beberapa emiten lain. Kondisi tersebut membuat penguatan IHSG tidak berlangsung lebih agresif.

Namun, secara keseluruhan tekanan dari saham-saham yang melemah masih dapat diimbangi oleh kenaikan sejumlah emiten berkapitalisasi besar. Karena itu, indeks tetap berhasil mencatatkan kinerja positif hingga akhir pekan.

Investor Asing Masih Catat Net Sell

Di tengah penguatan pasar, investor asing masih membukukan aksi jual bersih atau net sell. Nilai jual bersih asing di pasar reguler mencapai Rp4,47 triliun sepanjang pekan ini.

Meski demikian, pasar tetap menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Salah satu faktor yang mendapat perhatian pelaku pasar adalah laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review yang dirilis pada Jumat pagi waktu Indonesia.

Phintraco Sekuritas menilai respons investor terhadap laporan tersebut relatif positif. Indonesia tetap dipertahankan dalam kategori Emerging Market sehingga memberikan kepastian bagi pelaku pasar global.

Namun, MSCI masih menyoroti sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya adalah transparansi struktur kepemilikan saham, indikasi perdagangan terkoordinasi, serta keterbatasan informasi berbahasa Inggris bagi investor asing.

Selanjutnya, pasar akan menantikan hasil Annual Market Classification Review yang dijadwalkan diumumkan pada 24 Juni 2026. Keputusan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar modal Indonesia.

Prospek IHSG Pekan Depan

Di sisi lain, nilai tukar rupiah melemah 0,06 persen ke level Rp17.804 per dolar AS. Pelemahan terjadi seiring penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang Asia.

Sentimen tersebut muncul setelah adanya indikasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, masih memiliki peluang untuk menaikkan suku bunga pada tahun ini.

Meskipun begitu, analis melihat pasar saham domestik masih memiliki ruang untuk bergerak stabil. Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak mendatar atau sideways dalam jangka pendek.

Secara teknikal, indeks diperkirakan bergerak pada rentang 6.100 hingga 6.250. Karena itu, investor diperkirakan akan mencermati perkembangan sentimen global sekaligus hasil evaluasi MSCI yang akan diumumkan dalam waktu dekat.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu