Ruanginvest.com – Jakarta, saham murah dengan fundamental menarik kembali menarik perhatian investor ketika pasar menghadapi tekanan. Namun, harga per lembar yang rendah tidak otomatis membuat sebuah saham layak dibeli.
Investor perlu membedakan saham yang murah secara nominal dengan saham yang murah berdasarkan valuasi. Perbedaan ini penting karena harga Rp100 per saham belum tentu lebih murah daripada saham yang diperdagangkan pada harga Rp5.000.
Menurut pandangan saya, investor sebaiknya tidak menjadikan harga per lembar sebagai pertimbangan utama. Justru, kualitas fundamental, valuasi, arus kas, utang, serta prospek bisnis perlu menjadi dasar sebelum mengambil keputusan investasi.
Mengapa Saham Murah dengan Fundamental Menarik Layak Diperhatikan?
Tekanan pasar sering membuat harga sejumlah saham turun cukup dalam. Kondisi tersebut memang meningkatkan risiko, tetapi juga dapat membuka peluang bagi investor yang mampu memilah emiten secara disiplin.
Saham dengan harga nominal terjangkau dapat membantu investor dengan modal terbatas membangun portofolio secara bertahap. Selain itu, investor tetap memiliki kesempatan melakukan diversifikasi ke beberapa sektor tanpa membutuhkan modal yang terlalu besar.
Namun, harga murah tidak boleh menjadi alasan utama untuk membeli saham. Investor perlu melihat apakah penurunan harga terjadi karena sentimen pasar sementara atau karena bisnis perusahaan memang mengalami pelemahan.
Di sinilah konsep undervalued menjadi penting. Saham undervalued memiliki harga pasar yang berada di bawah penilaian terhadap nilai intrinsik perusahaan, sedangkan saham murah secara nominal hanya menunjukkan harga per lembar yang rendah.
Bedakan Saham Undervalued dari Value Trap
Value trap menjadi salah satu risiko terbesar ketika investor hanya melihat harga saham. Harga yang terus turun memang terlihat menarik, tetapi kondisi tersebut bisa mencerminkan masalah fundamental yang belum selesai.
Sebaliknya, saham undervalued masih dapat memiliki bisnis yang sehat. Pasar mungkin memberikan valuasi rendah karena sentimen, tekanan ekonomi, atau faktor sementara lainnya.
Menurut saya, investor sebaiknya mencari kombinasi antara valuasi menarik dan fundamental yang masih kuat. Dengan demikian, peluang pemulihan harga tidak hanya bergantung pada spekulasi.
- Saham undervalued dapat mengalami tekanan harga meski fundamental masih solid.
- Value trap biasanya menghadapi masalah pada laba, pendapatan, arus kas, atau daya saing bisnis.
- Tren laba yang stabil atau meningkat dapat menjadi salah satu pertimbangan penting.
- Arus kas bebas positif dapat membantu investor menilai kualitas bisnis secara lebih menyeluruh.
- Katalis pertumbuhan perlu memiliki dasar yang jelas, bukan sekadar harapan terhadap kenaikan harga.
Karena itu, PER dan PBV rendah saja belum cukup. Investor perlu menggabungkan beberapa indikator sebelum menyimpulkan bahwa sebuah saham benar-benar murah.
Indikator Fundamental untuk Menyaring Saham Murah
Investor dapat memulai penyaringan menggunakan beberapa indikator fundamental. Setiap rasio memiliki fungsi berbeda, sehingga penggunaannya sebaiknya tidak berdiri sendiri.
- PER: bandingkan dengan rata-rata sektor untuk melihat kewajaran valuasi.
- PBV: rasio di bawah 1 dapat terlihat menarik jika perusahaan masih memiliki kemampuan menghasilkan laba yang baik.
- ROE: rasio ini membantu melihat kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham.
- DER: rasio ini membantu menilai tingkat utang, terutama pada perusahaan non-bank.
- Dividend yield: dividen dapat menjadi pertimbangan tambahan bagi investor yang mencari arus kas dari investasi saham.
Selain rasio tersebut, investor sebaiknya melihat perkembangan laba dan pendapatan selama beberapa tahun. Selanjutnya, perhatikan juga arus kas serta kondisi industri tempat perusahaan beroperasi.
Pendekatan seperti ini membantu investor menghindari keputusan yang hanya mengandalkan harga saham. Bahkan, saham dengan harga rendah dapat tetap berisiko tinggi jika bisnisnya terus kehilangan daya saing.
Sektor yang Menarik untuk Dicermati pada 2026
Beberapa sektor memiliki karakteristik yang membuatnya menarik untuk masuk radar investor. Namun, setiap sektor tetap memiliki risiko dan katalis yang berbeda.
Perbankan
Sektor perbankan menjadi salah satu area yang menarik ketika valuasi saham bank mengalami tekanan. BBRI, misalnya, berada di kisaran Rp2.950–3.000 pada awal Juni 2026 dan turun sekitar 52% dari puncaknya.
Pada kuartal I/2026, BBRI mencatat laba bersih sekitar Rp15,49 triliun. Angka tersebut tumbuh 13,73% secara tahunan, sementara pendapatan meningkat 5,94% menjadi Rp52,83 triliun.
Sementara itu, BRIS mencatat laba kuartal I/2026 sebesar Rp2,2 triliun. Laba tersebut tumbuh 17,1% secara tahunan, sedangkan pendapatan naik 18% menjadi Rp6,48 triliun.
Menurut saya, angka tersebut menunjukkan mengapa investor perlu melihat fundamental sebelum menilai sebuah saham hanya dari pergerakan harga. Tekanan harga belum tentu langsung mencerminkan penurunan kualitas bisnis.
Energi dan Pertambangan
Sektor energi dan pertambangan juga menawarkan sejumlah emiten yang menarik untuk dicermati. Namun, investor perlu memahami bahwa sektor ini sangat berkaitan dengan siklus harga komoditas.
BRMS mencatat laba bersih kuartal I/2026 sebesar US$17,5 juta. Laba tersebut meningkat 21,3% secara tahunan dan mendapat dukungan dari kenaikan harga emas.
Sementara itu, PTBA mencatat lonjakan laba bersih sebesar 105% secara tahunan menjadi Rp801,79 miliar pada kuartal I/2026. Laba bruto juga meningkat 47% menjadi Rp1,54 triliun.
Performa tersebut menarik karena PTBA tetap mencatat pertumbuhan laba ketika harga batu bara global berada dalam tekanan. Dari sudut pandang investor, kondisi tersebut dapat menjadi alasan untuk melihat efisiensi operasional, bukan sekadar mengikuti tren komoditas.
Telekomunikasi dan Gas
Sektor telekomunikasi dan gas dapat menjadi pilihan lain bagi investor yang mencari bisnis dengan karakter lebih defensif. Dividen juga dapat menjadi faktor tambahan dalam menilai daya tarik emiten pada sektor tersebut.
TLKM memutuskan membagikan dividen Rp21,9 triliun atau 123% dari laba bersih 2025. Nilai tersebut setara sekitar Rp221 per saham dengan pembayaran paling lambat 10 Juli 2026 bagi investor yang tercatat dalam DPS pada 19 Juni 2026.
Kemudian, PGAS mencatat laba bersih kuartal I/2026 sebesar US$90,45 juta. Laba tersebut tumbuh 31,43% secara tahunan.
RUPST PGAS juga menyetujui dividen Rp125,6 per saham. Nilai tersebut setara dengan 80% laba bersih tahun buku 2025.
Menurut saya, dividen memang dapat memperkuat daya tarik sebuah saham. Namun, investor tetap perlu menilai keberlanjutan laba dan kemampuan perusahaan menghasilkan kas sebelum menjadikan dividen sebagai alasan utama membeli saham.
Cara Menilai Saham Murah Sebelum Membeli
Investor tidak harus langsung memilih saham setelah menemukan harga yang terlihat murah. Sebaliknya, proses penyaringan dapat dilakukan secara bertahap agar keputusan menjadi lebih terukur.
- Tentukan sektor yang benar-benar dipahami.
- Bandingkan harga saham dengan PER dan PBV sektor terkait.
- Periksa perkembangan laba selama tiga tahun terakhir.
- Perhatikan pendapatan dan arus kas perusahaan.
- Periksa tingkat utang melalui DER, khususnya pada perusahaan non-bank.
- Cari katalis pertumbuhan yang memiliki dasar bisnis yang jelas.
- Sebarkan modal ke beberapa saham agar risiko tidak terkonsentrasi.
Selanjutnya, investor perlu membandingkan hasil penyaringan dengan kondisi industri. Sebuah perusahaan dapat terlihat murah secara valuasi, tetapi tetap menghadapi tekanan besar jika industrinya mengalami penurunan struktural.
Karena itu, menurut saya, penyaringan saham sebaiknya tidak berhenti pada angka rasio. Investor juga perlu memahami bagaimana perusahaan menghasilkan uang dan apa yang dapat mengubah prospek bisnisnya.
Risiko Memburu Saham dengan Harga Rendah
Strategi mencari saham murah tetap memiliki risiko. Bahkan, harga rendah terkadang menunjukkan bahwa pasar sudah memperhitungkan masalah tertentu.
Likuiditas menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan. Saham dengan volume transaksi tipis dapat menyulitkan investor ketika ingin menjual pada kondisi pasar yang kurang mendukung.
Selain itu, saham berharga rendah juga dapat lebih sensitif terhadap sentimen negatif. Perubahan ekspektasi pasar dapat memicu pergerakan harga yang besar dalam waktu singkat.
Risiko delisting juga perlu menjadi perhatian, terutama ketika perusahaan memiliki fundamental lemah atau menghadapi persoalan bisnis yang serius. Oleh karena itu, investor perlu memeriksa kondisi perusahaan secara menyeluruh sebelum membeli.
Menurut saya, manajemen risiko harus berjalan bersama strategi mencari saham murah. Investor dapat menentukan batas kerugian dan menghindari penggunaan dana yang tidak siap menanggung risiko investasi.
Sudut Pandang: Harga Murah Bukan Alasan untuk Terburu-buru
Saya melihat peluang pada saham murah bukan dari nominal harganya, tetapi dari jarak antara harga pasar dan kualitas bisnis. Semakin jelas fundamental perusahaan, semakin masuk akal investor mempertimbangkan apakah tekanan harga hanya bersifat sementara.
Namun, pendekatan tersebut tetap membutuhkan kesabaran. Pasar tidak selalu langsung mengakui nilai sebuah perusahaan setelah investor membeli sahamnya.
Selain itu, investor perlu menerima kemungkinan bahwa analisisnya bisa keliru. Karena itu, diversifikasi dan pengelolaan risiko tetap penting meskipun sebuah saham terlihat sangat menarik secara fundamental.
Pada akhirnya, saham murah dengan fundamental menarik memang dapat memberikan peluang bagi investor. Namun, peluang tersebut baru memiliki dasar yang kuat jika investor menggabungkan valuasi, kualitas bisnis, arus kas, utang, prospek industri, serta risiko.
Kesimpulan
Saham murah tidak selalu berarti saham yang undervalued. Harga per lembar hanya menunjukkan nominal, sedangkan valuasi membantu investor menilai apakah harga tersebut masuk akal dibandingkan kinerja dan nilai perusahaan.
Karena itu, investor sebaiknya menggunakan PER, PBV, ROE, DER, dividend yield, tren laba, dan arus kas sebagai bagian dari proses penyaringan. Selain itu, investor perlu memahami katalis dan risiko yang dapat memengaruhi prospek emiten.
Menurut saya, pendekatan terbaik bukan mencari saham dengan harga paling rendah. Fokus yang lebih sehat adalah menemukan perusahaan dengan fundamental memadai dan valuasi yang masih memberikan ruang bagi potensi pertumbuhan.
FAQ Saham Murah dengan Fundamental Menarik
Apa perbedaan saham murah dan saham undervalued?
Saham murah mengacu pada harga nominal per lembar yang rendah. Sementara itu, saham undervalued mengacu pada saham yang memiliki harga pasar di bawah penilaian terhadap nilai intrinsiknya.
Apakah PER rendah berarti saham pasti murah?
Tidak. Investor perlu membandingkan PER dengan sektor dan melihat kualitas laba perusahaan. PER rendah dapat muncul karena pasar memperkirakan kinerja perusahaan akan melemah.
Mengapa investor perlu melihat arus kas?
Arus kas membantu investor melihat kemampuan perusahaan menghasilkan uang dari kegiatan bisnisnya. Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan angka laba ketika menilai fundamental.
Apakah saham harga rendah selalu cocok untuk investor bermodal kecil?
Belum tentu. Modal kecil memang membuat harga per lembar terlihat penting, tetapi kualitas bisnis dan risiko tetap menjadi pertimbangan utama.
Apa risiko terbesar ketika mencari saham murah?
Salah satu risiko utamanya adalah value trap. Investor dapat membeli saham karena terlihat murah, padahal bisnis perusahaan terus mengalami pelemahan.










