Daftar Isi 4 bagian
Ruanginvest.com, Jakarta – Aksi jual investor asing masih membayangi pasar saham domestik sepanjang pekan ini. Sejumlah saham berkapitalisasi besar masuk dalam daftar net sell asing terbesar, dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) berada di posisi teratas.
Tekanan jual tersebut terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak terbatas dan akhirnya ditutup di zona merah pada akhir perdagangan pekan. Selain itu, investor juga mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah agenda ekonomi penting yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
Di sisi lain, sentimen global turut memengaruhi pergerakan pasar. Pelaku pasar mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama setelah perhatian tertuju pada pidato Chairman Federal Reserve dalam Simposium Jackson Hole.
BBRI Menjadi Net Sell Asing Terbesar Pekan Ini
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan net sell asing terbesar sepanjang pekan. Nilai jual bersih investor asing pada saham perbankan tersebut mencapai Rp473 miliar.
Sejalan dengan tekanan jual tersebut, saham BBRI ditutup di level Rp3.190 per saham. Sementara itu, kinerja sahamnya melemah 1,24 persen dalam periode sepekan.
Besarnya aksi jual pada saham BBRI menunjukkan investor asing masih melakukan penyesuaian portofolio. Namun, saham ini tetap menjadi salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.
ISAT, AMMN, TPIA, dan BUMI Juga Dilepas Investor Asing
Di posisi kedua terdapat PT Indosat Tbk (ISAT). Saham emiten telekomunikasi tersebut mencatatkan net sell asing sebesar Rp231,79 miliar.
Selain itu, harga saham ISAT ditutup di level Rp2.530 per saham. Dalam sepekan, saham ini terkoreksi cukup dalam, yakni sebesar 6,99 persen.
Selanjutnya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat jual bersih asing senilai Rp172,67 miliar. Saham AMMN berakhir di level Rp4.410 per saham atau turun 1,56 persen sepanjang pekan.
Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) membukukan net sell asing sebesar Rp138,44 miliar. Saham TPIA ditutup di Rp1.965 per saham dan melemah 3,20 persen selama sepekan.
Kemudian, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga masuk dalam daftar saham yang paling banyak dilepas investor asing. Nilai net sell pada saham ini mencapai Rp132,15 miliar. Adapun saham BUMI ditutup di level Rp190 per saham dan turun 3,06 persen dalam sepekan.
- BBRI: net sell Rp473 miliar, turun 1,24 persen.
- ISAT: net sell Rp231,79 miliar, turun 6,99 persen.
- AMMN: net sell Rp172,67 miliar, turun 1,56 persen.
- TPIA: net sell Rp138,44 miliar, turun 3,20 persen.
- BUMI: net sell Rp132,15 miliar, turun 3,06 persen.
IHSG Terkoreksi di Tengah Profit Taking
Secara umum, tekanan jual asing turut mewarnai pergerakan IHSG sepanjang pekan. Pada perdagangan Jumat (28/8), IHSG ditutup melemah 0,06 persen ke level 6.518,12.
Dengan demikian, indeks acuan pasar saham Indonesia tersebut mencatatkan koreksi mingguan sebesar 0,12 persen. Selain itu, investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp320,52 miliar di pasar reguler selama sepekan.
Menurut Phintraco Sekuritas, IHSG sebelumnya sempat menunjukkan penguatan. Bahkan, indeks berhasil mencapai level intraday tertinggi di 6.566 pada perdagangan Jumat.
Namun, aksi profit taking menjelang akhir pekan membuat penguatan tersebut tidak bertahan lama. Akibatnya, IHSG kembali bergerak ke wilayah negatif hingga penutupan perdagangan.
Selain faktor domestik, perhatian pelaku pasar terhadap pidato Chairman Federal Reserve dalam Simposium Jackson Hole turut memengaruhi sentimen perdagangan. Oleh karena itu, investor cenderung membatasi pengambilan risiko dalam jangka pendek.
Pasar Menanti Data Ekonomi dan Rebalancing MSCI
Memasuki pekan depan, pasar akan dihadapkan pada sejumlah agenda ekonomi penting dari dalam negeri. Investor akan mencermati rilis data PMI Manufacturing, neraca perdagangan, serta inflasi yang dijadwalkan pada 1 September.
Selain itu, pelaku pasar juga akan memperhatikan periode efektif rebalancing indeks MSCI pada 31 Agustus 2026. Momentum tersebut kerap memengaruhi arus dana dan volume transaksi pada sejumlah saham tertentu.
Sementara itu, investor diperkirakan akan bersikap lebih selektif menjelang September. Bulan tersebut dikenal memiliki tingkat volatilitas yang relatif lebih tinggi dibandingkan periode lainnya.
Karena itu, banyak pelaku pasar memilih menunggu kepastian arah pergerakan pasar sebelum meningkatkan eksposur investasi. Sikap hati-hati tersebut berpotensi membuat perdagangan berlangsung lebih fluktuatif dalam jangka pendek.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak konsolidatif pada kisaran 6.400 hingga 6.600 pada pekan depan. Dengan demikian, investor diperkirakan masih akan mencermati berbagai sentimen domestik maupun global yang dapat memengaruhi arah pasar.




