Daftar Isi 8 bagian
Ruanginvest.com – Bandung, PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) menyiapkan aksi korporasi besar melalui rights issue untuk mengakuisisi 100% saham PT Frisian Flag Indonesia (FFI). Rencana tersebut memiliki nilai transaksi Rp14,57 triliun dan melibatkan FrieslandCampina International Holding B.V. (FCIH).
ULTJ akan menerbitkan maksimal 7.878.669.985 saham baru dengan harga pelaksanaan Rp2.150 per saham melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) IV. Nilai emisi maksimal mencapai sekitar Rp16,94 triliun.
Sebagian besar saham baru tersebut akan digunakan untuk mengambil alih FFI melalui skema inbreng. Sementara itu, pemegang saham publik tetap memiliki kesempatan menebus HMETD secara tunai. Rencana ini juga membawa perubahan penting dalam struktur pengendalian ULTJ.
Saham ULTJ Siapkan Rights Issue Jumbo
ULTJ mengumumkan rencana PMHMETD IV pada 18 September 2026. Perusahaan menyiapkan maksimal 7,88 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp50 dan harga pelaksanaan Rp2.150 per saham.
Dari jumlah tersebut, sekitar 6,78 miliar saham akan terkait dengan akuisisi FFI. ULTJ akan menerima 24.440 saham FFI yang mewakili 100% kepemilikan perusahaan tersebut. Nilai transaksi mencapai Rp14,57 triliun.
Sementara itu, sekitar 1,10 miliar saham baru menjadi bagian yang dapat ditebus pemegang saham publik secara tunai. Jika seluruhnya terserap, dana yang masuk mencapai sekitar Rp2,37 triliun dan perusahaan akan menggunakannya untuk kebutuhan modal kerja.
Transaksi ini memiliki nilai sekitar 178,24% dari ekuitas ULTJ. KJPP Rengganis, Hamid dan Rekan bertindak sebagai penilai independen dalam transaksi tersebut.
FrieslandCampina Masuk ke Struktur Saham ULTJ
Perubahan kendali ULTJ berlangsung melalui pengalihan HMETD, bukan melalui pembelian saham lama dari keluarga Prawirawidjaja. Enam pemegang saham dari keluarga tersebut saat ini menguasai sekitar 86,01% saham ULTJ.
Enam pemegang saham itu terdiri dari Sabana Prawirawidjaja, PT Prawirawidjaja Prakarsa, Samudera Prawirawidjaja, Nila S, Suhendra Prawirawidjaja, dan Lili Melati. Mereka akan mengalihkan seluruh HMETD kepada FCIH, Blue Waves Group Ventures (BWG), dan Bahtera Wiraniaga Internusa (BWI).
FCIH akan memperoleh porsi terbesar dalam pengalihan tersebut. Perusahaan akan mengeksekusi HMETD dengan menyerahkan saham FFI sesuai porsi kepemilikannya. BWG dan BWI juga mengikuti mekanisme yang sama.
Jika hanya pihak FFI yang menebus HMETD, FCIH dapat memiliki sekitar 30,81% saham ULTJ. Jika seluruh pemegang saham memenuhi haknya, kepemilikan FCIH berada sekitar 28,95%.
Dengan demikian, FrieslandCampina akan mengambil posisi penting dalam struktur kepemilikan ULTJ. Namun, ULTJ tetap mempertahankan statusnya sebagai perusahaan terbuka dan berkantor pusat di Bandung.
Tender Offer Menjadi Tahap Berikutnya
Masuknya FCIH sebagai pengendali baru membawa konsekuensi terhadap pemegang saham publik. FCIH wajib melakukan tender offer sesuai ketentuan POJK 9/2018.
Harga tender offer akan mengikuti formula yang berlaku dalam regulasi. Karena itu, angka Rp2.150 belum dapat menjadi patokan final untuk harga penawaran kepada pemegang saham publik.
Manajemen juga perlu menjaga ketentuan free float setelah aksi korporasi berjalan. Kondisi tersebut penting karena struktur kepemilikan baru dapat mengubah porsi saham yang beredar di masyarakat.
RUPSLB ULTJ akan berlangsung pada 27 Oktober 2026. Sebelumnya, recording date RUPSLB jatuh pada 2 Oktober 2026. Setelah itu, perusahaan akan mengikuti tahapan berikutnya hingga memperoleh pernyataan efektif dari OJK.
Valuasi Akuisisi Frisian Flag
Penilai independen menaksir nilai 100% ekuitas FFI sekitar Rp14,57 triliun. Nilai tersebut hampir sama dengan nilai transaksi yang ULTJ gunakan dalam aksi korporasi.
Di sisi lain, KJPP menaksir nilai wajar 100% ekuitas ULTJ sekitar Rp22,338 triliun. Angka tersebut setara dengan sekitar Rp2.148 per saham. Karena itu, harga pelaksanaan Rp2.150 berada sangat dekat dengan estimasi nilai wajarnya.
Kinerja FFI juga menjadi perhatian. FFI mencatat penjualan Rp12,32 triliun pada 2024 dengan laba bersih Rp334,7 miliar. Pada 2025, penjualan turun menjadi Rp11,81 triliun dan laba bersih mencapai Rp214,4 miliar.
Namun, kinerja tujuh bulan 2026 menunjukkan perubahan. FFI mencatat penjualan Rp7,79 triliun dan laba bersih Rp439,5 miliar. Margin bersih periode tersebut mencapai 5,6%.
Sementara itu, ULTJ mencatat penjualan Rp6,42 triliun dan laba bersih sekitar Rp1,22 triliun pada tujuh bulan 2026. Margin bersih ULTJ mencapai sekitar 19% dalam periode tersebut.
Goodwill dan Dampak terhadap Laba Per Saham
Akuisisi FFI juga membawa potensi goodwill yang besar. Nilai wajar aset neto FFI tercatat sekitar Rp5,44 triliun. Dengan nilai transaksi Rp14,57 triliun, terdapat selisih sekitar Rp9,13 triliun.
Selisih tersebut menjadi goodwill dalam laporan pro forma. Nilainya setara sekitar 29,7% dari total aset gabungan. Karena itu, investor perlu mencermati perkembangan kinerja FFI setelah integrasi.
Selain itu, aksi korporasi akan meningkatkan jumlah saham ULTJ. Ilustrasi berdasarkan data tujuh bulan 2026 menunjukkan EPS sekitar Rp116 sebelum penggabungan. Setelah jumlah saham meningkat menjadi sekitar 17,17 miliar dan laba FFI masuk, EPS berpotensi berada di sekitar Rp96.
Artinya, perhitungan tersebut menunjukkan potensi penurunan EPS sekitar 17%. Namun, angka tersebut masih dapat berubah karena realisasi sinergi, kinerja operasional, serta dampak penyusutan aset.
Sinergi Produk dan Bisnis ULTJ
Masuknya FFI dapat memperluas portofolio produk ULTJ. FFI memiliki produk susu kental manis, susu bubuk, serta nutrisi anak melalui merek Friso.
Sementara itu, ULTJ telah memiliki bisnis susu UHT. Karena itu, kedua perusahaan mempunyai portofolio yang dapat saling melengkapi.
Selain portofolio produk, sinergi dapat muncul dari pengadaan bahan baku, jaringan distribusi, dan biaya pemasaran. Manajemen memproyeksikan margin bersih gabungan meningkat dari 8,89% pada 2026 menjadi 15,65% pada 2031.
Manajemen juga memproyeksikan ROE gabungan naik dari 7,22% menjadi 12,64% dalam periode yang sama. Namun, realisasi proyeksi tersebut bergantung pada kemampuan perusahaan menghasilkan sinergi setelah transaksi selesai.
Kebijakan MBG Tetap Perlu Dicermati
Selain aksi korporasi, kebijakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi faktor yang relevan bagi bisnis ULTJ. Permintaan susu UHT untuk program tersebut turut mendukung pertumbuhan penjualan ULTJ sebesar 34,6% pada Semester I 2026.
Namun, kebijakan MBG juga mengalami penyesuaian. Pada Semester II 2026, anggaran MBG menjadi Rp229 triliun. Badan Gizi Nasional juga mengarahkan penggunaan minimal 80% susu segar lokal pada setiap dapur MBG.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi porsi susu kemasan bermerek dalam program MBG. Di sisi lain, jaringan koperasi peternak yang dimiliki FrieslandCampina dapat menjadi bagian penting dalam rantai pasok susu segar lokal.
Karena itu, investor perlu mengikuti perkembangan kebijakan MBG bersamaan dengan tahapan aksi korporasi ULTJ. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi prospek bisnis perusahaan.
Pergerakan Harga Saham ULTJ Menjelang Aksi Korporasi
Harga saham ULTJ bergerak cukup kuat menjelang pengumuman rights issue. Pada 11 September 2026, saham ULTJ ditutup di Rp1.510. Empat hari kemudian, harga mencapai Rp1.880.
Pada 18 September, bertepatan dengan pengumuman aksi korporasi, ULTJ ditutup di Rp2.060. Volume perdagangan juga mencapai sekitar 123,4 juta saham.
Setelah itu, saham ULTJ masih bergerak di sekitar Rp2.070 pada 22 September. Harga tersebut masih berada di bawah harga pelaksanaan rights issue Rp2.150 dan estimasi nilai wajar sekitar Rp2.148.
Level Rp2.150 menjadi area penting untuk diperhatikan karena sama dengan harga pelaksanaan PMHMETD IV. Sementara itu, area Rp1.880 hingga Rp1.900 dapat menjadi referensi dari pergerakan sebelum pengumuman aksi korporasi.
Selanjutnya, investor juga perlu memperhatikan hasil RUPSLB pada 27 Oktober 2026. Jadwal perdagangan HMETD, periode pelaksanaan, serta tahapan tender offer akan mengikuti informasi resmi perusahaan dan prospektus.
Dengan demikian, aksi korporasi ULTJ membawa perubahan besar pada struktur bisnis dan kepemilikan perusahaan. Akuisisi FFI memberikan tambahan portofolio produk sekaligus membuka peluang sinergi. Namun, investor tetap perlu mencermati dampak dilusi, goodwill, kinerja FFI, kebijakan MBG, serta tahapan rights issue.
Investasi saham mengandung risiko. Setiap investor perlu memahami kondisi perusahaan, mekanisme aksi korporasi, dan risiko pasar sebelum mengambil keputusan investasi.




