Daftar Isi 5 bagian
Ruanginvest.com – Jakarta, PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) menyiapkan transformasi bisnis menuju sektor waste-to-energy (WTE) melalui anak usahanya, PT Ananta Energi Asia (AEA). Langkah tersebut berkaitan dengan pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau PSEL.
AEA telah masuk ke dalam konsorsium proyek PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya. Selain itu, anak usaha SOFA tersebut memiliki kepemilikan sebesar 10% pada masing-masing perusahaan konsorsium yang mengembangkan kedua proyek tersebut.
Sementara itu, SOFA juga menyiapkan kebutuhan pendanaan untuk mendukung proyek WTE. Perseroan memperkirakan kebutuhan dana mencapai sekitar Rp131 miliar hingga kuartal II 2028.
Saham SOFA Bersiap Masuk Bisnis Waste-to-Energy
SOFA tengah menyiapkan perubahan arah bisnis dari kegiatan usaha yang berjalan menuju sektor lingkungan dan energi. Perseroan menjalankan ekspansi tersebut melalui AEA yang telah terlibat dalam konsorsium proyek PSEL Denpasar Raya dan Bogor Raya.
Kepemilikan 10% pada masing-masing perusahaan konsorsium membuat AEA memiliki posisi dalam pengembangan kedua proyek tersebut. Dengan demikian, keterlibatan ini menjadi bagian dari rencana transformasi bisnis SOFA.
Selain masuk ke sektor WTE, SOFA juga menyiapkan penambahan kegiatan usaha Aktivitas Perusahaan Induk. Langkah tersebut mendukung perubahan arah bisnis perseroan menuju sektor energi dan lingkungan.
Proyek WTE menjadi perhatian karena pengembangan bisnis ini membutuhkan investasi dalam jumlah besar dan waktu hingga tahap operasional. Karena itu, perkembangan proyek serta kebutuhan pendanaannya menjadi bagian penting dalam melihat arah bisnis SOFA.
SOFA Siapkan Pendanaan Rp131 Miliar hingga 2028
SOFA memperkirakan kebutuhan pendanaan selama masa konstruksi proyek mencapai sekitar Rp131 miliar hingga kuartal II 2028. Perseroan menyiapkan beberapa alternatif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Pendanaan dapat berasal dari rights issue, pinjaman bank, maupun kombinasi keduanya. Namun, realisasi skema pendanaan akan menentukan kebutuhan modal SOFA selama proyek memasuki tahap konstruksi.
Sementara itu, proyek WTE Denpasar Raya telah memiliki perjanjian jual beli listrik dengan PLN. Perjanjian tersebut memiliki tenor 30 tahun sejak commercial operation date atau COD.
Proyek tersebut menargetkan tahap operasi sekitar kuartal II 2028. Setelah memasuki tahap operasional, kepemilikan AEA dalam konsorsium membuka potensi aliran dividen jangka panjang bagi SOFA.
Meski demikian, kontribusi proyek terhadap kinerja keuangan perseroan masih bergantung pada perkembangan konstruksi dan realisasi investasi. Oleh karena itu, investor perlu mencermati perkembangan proyek hingga mencapai tahap operasi.
Kinerja SOFA Masih Rugi pada Semester I 2026
Di tengah rencana transformasi bisnis, kegiatan usaha existing SOFA masih mencatatkan kerugian. Pada semester I 2026, perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp5,69 miliar.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa bisnis WTE belum menjadi sumber kontribusi utama terhadap kinerja keuangan SOFA saat ini. Sebab, proyek baru menargetkan operasional pada kuartal II 2028.
Dengan demikian, SOFA masih menghadapi periode transisi sebelum proyek WTE memberikan kontribusi terhadap pendapatan atau arus dividen. Selain itu, kebutuhan pendanaan selama masa konstruksi juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Di sisi lain, transformasi menuju sektor WTE dapat mengubah arah bisnis perseroan dalam jangka panjang. Perkembangan tersebut tetap bergantung pada realisasi proyek dan kemampuan perseroan memenuhi kebutuhan pendanaan.
Broker TP Jadi Top Buyer Saham SOFA
Selain perkembangan bisnis, aktivitas transaksi saham SOFA juga menjadi perhatian pasar. Berdasarkan Broker Summary periode 1 September hingga 29 September 2026, broker TP tercatat sebagai top buyer dengan nilai sekitar Rp3,4 miliar.
Broker TP melakukan akumulasi pada saham SOFA dengan average price sekitar Rp360. Data tersebut menunjukkan aktivitas pembelian dalam periode tersebut.
Sementara itu, broker PD dan CC mencatat aktivitas distribusi pada periode 1 Agustus hingga 30 September 2026. Broker PD mencatat net sell sekitar 93 ribu lot, sedangkan broker CC mencatat sekitar 69 ribu lot.
Berikut gambaran aktivitas broker saham SOFA pada periode tersebut:
- TP: top buyer pada 1-29 September 2026 dengan nilai sekitar Rp3,4 miliar dan average price Rp360.
- PD: net sell sekitar 93 ribu lot pada 1 Agustus-30 September 2026.
- CC: net sell sekitar 69 ribu lot pada 1 Agustus-30 September 2026.
Perbedaan aktivitas broker tersebut dapat menjadi salah satu data yang diperhatikan trader. Namun, data broker perlu dilihat bersama perkembangan harga dan transaksi saham dalam periode yang lebih luas.
Transformasi Bisnis Menjadi Perhatian Investor
Rencana SOFA masuk ke sektor WTE menempatkan proyek Denpasar Raya dan Bogor Raya sebagai bagian penting dari transformasi bisnis perseroan. Selain itu, kebutuhan pendanaan sekitar Rp131 miliar membuat kemampuan perseroan memenuhi kebutuhan modal menjadi faktor yang perlu dicermati.
Proyek Denpasar Raya memiliki perjanjian jual beli listrik dengan PLN selama 30 tahun sejak COD. Sementara itu, target operasional pada kuartal II 2028 menunjukkan bahwa investor masih perlu mengikuti perkembangan proyek dalam beberapa tahun mendatang.
Di sisi lain, SOFA masih mencatat rugi bersih Rp5,69 miliar pada semester I 2026. Karena itu, perkembangan kinerja keuangan, pendanaan, konstruksi proyek, serta aktivitas perdagangan saham menjadi sejumlah aspek yang dapat diperhatikan secara bersamaan.
Pada akhirnya, arah bisnis SOFA akan bergantung pada realisasi transformasi menuju sektor WTE. Perkembangan proyek, kebutuhan modal, dan kinerja keuangan akan menjadi bagian penting dalam melihat perjalanan perseroan menuju target operasional 2028.




