RuangInvest.com, Jakarta – MORA catat laba bersih Rp516 miliar sepanjang tahun buku 2025. Kinerja tersebut menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat dibandingkan laba bersih sebesar Rp263 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan laba tersebut mencerminkan keberhasilan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) dalam memperluas bisnis layanan internet dan infrastruktur digital. Selain itu, perseroan juga berhasil meningkatkan jumlah pelanggan di berbagai segmen usaha.
Tidak hanya laba bersih, MORA juga membukukan EBITDA sekitar Rp2 triliun. Angka ini meningkat sekitar 9,8 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya dan menjadi salah satu indikator positif bagi pertumbuhan bisnis perusahaan.
MORA Catat Laba Bersih Rp516 Miliar Berkat Tiga Segmen Utama
Chief Financial Officer (CFO) MORA, Jimmy Kadir, mengatakan pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang 2025 ditopang oleh tiga lini bisnis utama. Ketiga segmen tersebut adalah Fiber to the Home (FTTH), Enterprise, dan Wholesale.
Menurut Jimmy, segmen FTTH atau ritel menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap pertumbuhan pendapatan perusahaan. Jumlah homepass meningkat sekitar 36 persen menjadi lebih dari 1 juta homepass dari sebelumnya 788 ribu homepass.
Sejalan dengan itu, jumlah pelanggan FTTH juga mengalami peningkatan signifikan. Pelanggan ritel tumbuh sekitar 46 persen menjadi lebih dari 330 ribu pelanggan.
Pertumbuhan pelanggan tersebut berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan. Pendapatan dari segmen FTTH meningkat sekitar 38 persen menjadi Rp1,3 triliun sepanjang 2025.
Sementara itu, pelanggan Enterprise juga menunjukkan pertumbuhan positif. Jumlah pelanggan pada segmen ini meningkat sekitar 44 persen menjadi lebih dari 17 ribu pelanggan.
Pendapatan Wholesale Ikut Tumbuh
Selain FTTH dan Enterprise, segmen Wholesale juga memberikan kontribusi penting terhadap kinerja perseroan. Kapasitas jaringan Wholesale meningkat sekitar 18 persen menjadi 38 terabyte.
Karena peningkatan kapasitas tersebut, pendapatan yang berasal dari segmen Wholesale naik sekitar 9 persen menjadi Rp876 miliar. Capaian ini menunjukkan permintaan layanan konektivitas masih terus meningkat di berbagai sektor industri.
Infrastruktur Fiber Optic Terus Diperluas
Di sisi infrastruktur, MORA terus memperkuat jaringan fiber optic untuk mendukung pertumbuhan pelanggan. Hingga 31 Desember 2025, panjang jaringan fiber optic perusahaan mencapai sekitar 58 ribu kilometer.
Selain itu, kapasitas bandwidth juga meningkat sekitar 18 persen menjadi 38 Tbps. Pengembangan infrastruktur ini menjadi fondasi utama bagi perusahaan dalam melayani kebutuhan konektivitas yang semakin tinggi.
Direktur Utama sekaligus Chief Executive Officer (CEO) MORA, Timotius Max Sulaiman, mengatakan pencapaian tersebut mencerminkan keberhasilan strategi perusahaan dalam memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan efisiensi operasional.
Menurutnya, perusahaan mampu menjaga pertumbuhan yang sehat melalui perluasan jaringan fiber optic, percepatan ekspansi FTTH dan FTTX, serta penguatan kapasitas jaringan. Langkah tersebut dilakukan untuk menjawab peningkatan kebutuhan konektivitas dari pelanggan ritel maupun korporasi.
Merger Perkuat Ekosistem Infrastruktur Digital
Pada 22 April 2026, perseroan menyelesaikan proses penggabungan usaha dengan PT Eka Mas Republik. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat ekosistem infrastruktur digital nasional.
Melalui merger tersebut, MORA membentuk platform infrastruktur fiber optic terintegrasi dalam skala besar. Penggabungan usaha ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas cakupan layanan.
Selain itu, merger juga ditujukan untuk memperkuat daya saing perusahaan dan memberikan nilai tambah bagi pelanggan, karyawan, pemegang saham, serta pemangku kepentingan lainnya.
Setelah merger efektif pada 30 April 2026, jumlah homepass gabungan meningkat signifikan menjadi lebih dari 12,7 juta homepass. Panjang jaringan fiber optic backbone dan access juga bertambah menjadi lebih dari 166 ribu kilometer.
Di sisi pelanggan, jumlah pelanggan ritel gabungan mencapai lebih dari 2,6 juta pelanggan. Sementara itu, pelanggan Enterprise tercatat lebih dari 17 ribu pelanggan.
MORA Target Tambah 5 Juta Homepass pada 2026
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, MORA telah menyiapkan sejumlah target ekspansi pada 2026. Perseroan berencana memperluas jaringan FTTH dan Fixed Wireless Access (FWA) secara agresif.
Saat ini, perusahaan telah memiliki lebih dari 200 site FWA aktif yang tersebar di 90 kota dan kabupaten di Indonesia. Ke depan, jumlah tersebut akan terus ditingkatkan.
Target yang disiapkan perusahaan meliputi:
- Penambahan 5 juta homepass baru.
- Perluasan jaringan FTTH ke 186 kota dan kabupaten.
- Pembangunan lebih dari 1.000 site FWA.
- Penambahan sekitar 1,5 juta pelanggan baru sepanjang 2026.
Menurut Timotius, ekspansi tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperkuat posisi di industri telekomunikasi dan layanan internet nasional.
Selain memperluas jaringan akses, perusahaan juga terus mengembangkan infrastruktur backbone melalui Proyek Rising 8. Proyek ini menghubungkan Jakarta, Batam, hingga Singapura menggunakan kabel fiber optic bawah laut sepanjang 1.128,5 kilometer.
Proyek Rising 8 memanfaatkan teknologi sistem repeater kabel bawah laut berkualitas tinggi. Karena itu, proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dan keandalan jaringan dalam mendukung kebutuhan konektivitas regional.
Dengan pertumbuhan pelanggan yang kuat, ekspansi jaringan yang agresif, serta dukungan merger strategis, MORA catat laba bersih Rp516 miliar menjadi salah satu pencapaian penting perusahaan. Capaian tersebut sekaligus memperkuat optimisme perseroan dalam menangkap peluang pertumbuhan industri digital Indonesia pada tahun-tahun mendatang.





