RuangInvest.com, Jakarta – Saham konglomerat RI menjadi sorotan pasar modal setelah mengalami penurunan tajam sepanjang tahun berjalan atau year to date (YTD) hingga Selasa, 26 Mei 2026. Tekanan besar terjadi di tengah isu konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, keluarnya emiten dari indeks global, serta melemahnya likuiditas perdagangan.
Kondisi tersebut memicu aksi jual masif di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejumlah saham yang sebelumnya menjadi primadona investor kini justru mencatatkan koreksi sangat dalam. Bahkan, beberapa saham konglomerasi turun lebih dari 70 persen sejak awal tahun.
Selain itu, revisi aturan indeks terkait high shareholding concentration (HSC) semakin memperburuk sentimen pasar. Investor asing dan domestik mulai mengurangi eksposur pada saham-saham dengan kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi.
Saham Konglomerat RI Tertekan Sepanjang 2026
Data perdagangan menunjukkan saham PT Hillcon Tbk (HILL) menjadi emiten dengan koreksi terdalam sepanjang 2026. Saham yang terafiliasi dengan Hersan Qiu itu anjlok hingga 89,86 persen ke level Rp15 per saham.
Di bawahnya, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinarmas turun 89,31 persen ke posisi Rp432 per saham. Penurunan tajam tersebut membuat kapitalisasi pasar perusahaan ikut tergerus signifikan.
Sementara itu, saham PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) yang terafiliasi dengan Hermanto Tanoko dari Grup Tancorp juga mengalami tekanan besar. Saham RISE merosot 80,41 persen ke level Rp1.195 setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp10.200 pada Oktober 2025.
Tekanan juga terjadi pada saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN). Emiten yang sebagian sahamnya diakuisisi Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo itu turun 78,74 persen ke level Rp825.
Namun, perhatian terbesar investor tertuju pada saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu. Beberapa saham utama grup tersebut mengalami penurunan sangat dalam dalam waktu relatif singkat.
Saham Grup Barito Jadi Sorotan Investor
Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) tercatat anjlok 78,42 persen ke level Rp505. Selain itu, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga turun 72,86 persen menjadi Rp1.900.
Tidak hanya itu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) ikut merosot 72,78 persen ke level Rp2.640. Koreksi besar pada saham Grup Barito membuat investor mulai mempertanyakan stabilitas likuiditas dan valuasi emiten konglomerasi.
Analis menilai tekanan terhadap saham konglomerat RI tidak hanya dipicu sentimen eksternal. Di sisi lain, faktor domestik juga berperan besar dalam mempercepat aksi jual di pasar.
Revisi kebijakan indeks oleh Bursa Efek Indonesia menjadi salah satu pemicu utama. Aturan baru terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi membuat sejumlah saham berpotensi keluar dari indeks utama seperti LQ45 dan IDX80.
Aturan HSC Perburuk Tekanan Pasar
Kebijakan HSC atau high shareholding concentration menjadi perhatian serius pelaku pasar sejak awal tahun. Aturan ini bertujuan meningkatkan kualitas indeks dan menjaga likuiditas perdagangan saham.
Namun, saham dengan kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi dinilai memiliki risiko likuiditas lebih tinggi. Karena itu, investor mulai menghindari saham-saham yang dinilai tidak memiliki free float memadai.
Selain tekanan dari dalam negeri, sentimen global juga memperburuk kondisi pasar saham konglomerasi Indonesia. MSCI dalam review Mei 2026 menghapus beberapa saham besar dari MSCI Global Standard Index.
Beberapa saham yang dikeluarkan antara lain BREN, TPIA, DSSA, dan CUAN. Langkah tersebut dinilai dapat memicu keluarnya dana asing pasif dari pasar Indonesia.
Penghapusan dari MSCI dan FTSE Russell
Tekanan terhadap saham konglomerat RI semakin besar setelah FTSE Russell juga melakukan evaluasi indeks. FTSE Russell menghapus DSSA dari kategori Large Cap Index efektif mulai 22 Juni 2026.
Keputusan itu diperkirakan akan meningkatkan tekanan jual dari investor institusi global. Sebab, banyak dana investasi asing mengikuti komposisi indeks internasional seperti MSCI dan FTSE Russell.
Selain itu, likuiditas saham juga diperkirakan semakin menurun setelah keluarnya emiten dari indeks global. Kondisi tersebut membuat volatilitas harga menjadi lebih tinggi.
Pelaku pasar kini menunggu langkah emiten dan regulator untuk mengembalikan kepercayaan investor. Namun, selama sentimen negatif masih mendominasi, saham konglomerat RI diperkirakan masih bergerak fluktuatif.
Meski begitu, sebagian analis menilai koreksi tajam tersebut juga membuka peluang bagi investor jangka panjang. Terutama bagi investor yang percaya fundamental bisnis emiten masih kuat dalam jangka panjang.
Karena itu, investor disarankan tetap selektif sebelum mengambil keputusan investasi. Selain memperhatikan valuasi, investor juga perlu mencermati likuiditas saham dan potensi perubahan aturan pasar ke depan.





