9 Saham Pilihan Kiwoom Sekuritas untuk Dicermati pada September 2026

Dwi Prakoso

9 Saham Pilihan Kiwoom Sekuritas untuk Dicermati pada September 2026
Ilustrasi: 9 Saham Pilihan Kiwoom Sekuritas untuk Dicermati pada September 2026

Ruanginvest.comJakarta, September menjadi salah satu periode yang penuh tantangan bagi pasar saham Indonesia. Namun, di tengah risiko September Effect, sejumlah saham masih memiliki prospek menarik untuk dicermati investor. Kiwoom Sekuritas Indonesia memilih sembilan saham pilihan September 2026 dengan katalis dan prospek yang berbeda.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyampaikan pilihan tersebut melalui riset KSI Research Monthly Outlook September 2026. Daftar saham itu mencakup sektor komoditas, perbankan, telekomunikasi, infrastruktur, konsumer, properti, peternakan, hingga farmasi.

Kiwoom menilai tekanan pada September lebih berpotensi menjadi fase konsolidasi dalam tren re-rating IHSG. Pandangan tersebut berbeda dari anggapan bahwa September Effect selalu menandai perubahan tren pasar secara struktural.

Proyeksi IHSG pada September 2026

Sebelumnya, Kiwoom memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 6.300-6.650 sepanjang September 2026. Secara historis, September memang menjadi salah satu bulan yang kurang bersahabat bagi indeks saham Indonesia.

Dalam 10 tahun terakhir, IHSG mencatat rata-rata return minus 0,94 persen pada September. Namun, volatilitas tersebut juga bisa membuka peluang bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang.

Karena itu, Kiwoom melihat tekanan pasar sebagai peluang untuk melakukan re-entry pada saham dengan fundamental kuat. Strategi tersebut menempatkan katalis perusahaan sebagai pertimbangan utama ketika pasar memasuki periode volatil.

Saham Komoditas Jadi Pilihan Utama

Saham pertama dalam daftar Kiwoom adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Kiwoom menetapkan target harga INCO sebesar Rp6.300 per saham. Target tersebut menyiratkan potensi kenaikan sekitar 43 persen.

Prospek INCO mendapat dukungan dari tren harga nikel global yang masih solid. Selain itu, penyelesaian proyek smelter berteknologi high pressure acid leach (HPAL) di Morowali dan Pomalaa menjadi katalis pertumbuhan perseroan.

Selanjutnya, PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) masuk dalam daftar dengan target harga Rp4.800. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 76 persen.

Kiwoom menilai ANTM memiliki eksposur positif terhadap harga emas, nikel, dan bauksit. Bahkan, emas berpotensi menjadi salah satu pendorong pertumbuhan laba. Selain itu, potensi dividend yield turut memberikan daya tarik bagi investor.

PANI dan BBRI Masuk Daftar Saham Pilihan

Dari sektor properti, Kiwoom memilih PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dengan target harga Rp9.925. Target tersebut memberikan potensi kenaikan sekitar 65 persen.

Pengembangan NICE convention center menjadi salah satu katalis PANI. Di sisi lain, ekspansi landbank premium serta target pembukaan hotel Hilton pada 2027 turut mendukung prospek perusahaan.

Sementara itu, sektor perbankan menghadirkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Kiwoom menetapkan target harga Rp3.600 per saham. Target itu menyiratkan potensi kenaikan sekitar 29 persen.

Kiwoom menyoroti program buyback BBRI senilai Rp500 miliar. Program tersebut menjadi sinyal bahwa Kiwoom masih melihat valuasi perseroan menarik. Selain itu, posisi BBRI di segmen UMKM dan kinerja dana murah atau CASA menjadi faktor pendukung.

MTEL dan JSMR Andalkan Katalis Infrastruktur

Berikutnya, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) memiliki target harga Rp705. Target tersebut menyiratkan potensi kenaikan sekitar 44 persen.

Kiwoom melihat aksi merger antara PST dan UMT berpotensi memperluas bisnis internet service provider (ISP), Internet of Things (IoT), dan infrastruktur digital. Selain itu, program buyback saham senilai Rp2,98 triliun menjadi katalis lain bagi MTEL.

Dari sektor jalan tol, PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) memiliki target harga Rp3.850. Angka tersebut memberikan potensi kenaikan sekitar 41 persen.

Kiwoom menilai valuasi JSMR masih berada di bawah rata-rata historis berdasarkan indikator PBV dan EV/EBITDA. Sementara itu, fundamental perusahaan juga dinilai relatif defensif.

JPFA dan KLBF Punya Prospek dari Sektor Konsumer

Untuk sektor peternakan, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) masuk dalam daftar dengan target harga Rp3.140. Target tersebut menyiratkan potensi kenaikan sekitar 60 persen.

Kiwoom melihat perbaikan volume dan margin sebagai katalis bagi JPFA. Selain itu, pergerakan harga saham yang mulai stabil turut mendukung prospek perseroan.

Sementara itu, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menjadi pilihan dari sektor farmasi dan konsumer kesehatan. Kiwoom menetapkan target harga Rp970. Target tersebut menyiratkan potensi kenaikan sekitar 24 persen.

Pertumbuhan bisnis distribusi dan produk konsumer kesehatan dapat menopang kinerja KLBF. Terlebih lagi, Kiwoom mencatat valuasi perseroan berada di sekitar 9,4 kali forward P/E. Angka itu lebih rendah daripada rata-rata historis sebesar 16 kali.

BBNI Jadi Pilihan dari Sektor Perbankan

Terakhir, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) masuk dalam daftar Kiwoom. Target harga BBNI mencapai Rp4.100 per saham. Angka tersebut memberikan potensi kenaikan sekitar 26 persen.

Kiwoom memperkirakan pertumbuhan kredit BBNI tetap solid. Selain itu, net interest margin (NIM) ditargetkan berada pada kisaran 3,5-3,8 persen sepanjang 2026.

Loan to deposit ratio (LDR) BBNI juga masih berada pada level sehat sekitar 83,5 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung pandangan Kiwoom terhadap saham perbankan tersebut.

Strategi Kiwoom Menghadapi September Effect

Sembilan saham pilihan September 2026 tersebut menunjukkan strategi Kiwoom dalam menghadapi potensi volatilitas pasar. Kiwoom tidak sekadar menghindari tekanan September Effect. Sebaliknya, perusahaan memilih saham dengan katalis spesifik dan fundamental yang dinilai kuat.

Pilihan tersebut mencakup berbagai sektor sehingga investor memiliki sejumlah alternatif untuk dicermati. Namun, setiap saham tetap memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda. Karena itu, investor perlu mempertimbangkan kondisi pasar serta fundamental masing-masing emiten.

Target IHSG Akhir 2026 Tetap Positif

Di sisi lain, Kiwoom masih mempertahankan target IHSG akhir 2026 pada level 7.250-7.700. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa tekanan pada September belum mengubah pandangan jangka lebih panjang terhadap pasar saham Indonesia.

Dengan demikian, September Effect lebih dipandang sebagai potensi periode konsolidasi. Tekanan pasar justru dapat membuka peluang akumulasi ketika valuasi saham kembali berada pada level yang lebih menarik.

Investor juga perlu mencermati katalis masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan. Pergerakan harga, kinerja fundamental, serta kondisi pasar tetap menjadi faktor penting dalam menentukan strategi investasi.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
DSSA Suntik Modal Rp 8,5 Triliun, Perkuat Ekspansi Bisnis Strategis

DSSA Suntik Modal Rp 8,5 Triliun, Perkuat Ekspansi Bisnis Strategis

Kunjungi Artikel