RuangInvest.com, Jakarta – OMED bagikan dividen Rp4,08 per saham setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Senin, 8 Juni 2026. Keputusan tersebut menjadi salah satu agenda penting yang disahkan dalam rapat tersebut.
Pembagian dividen tunai final mencapai Rp110,4 miliar. Langkah ini menunjukkan komitmen perseroan dalam memberikan nilai tambah bagi para investor sekaligus menjaga kepercayaan pasar terhadap kinerja perusahaan.
Selain menetapkan penggunaan laba bersih, PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) juga menyetujui sejumlah agenda strategis lainnya. Perseroan menyiapkan berbagai langkah ekspansi guna memperkuat pertumbuhan bisnis sepanjang 2026.
OMED Bagikan Dividen Rp4,08 per Saham kepada Investor
Dalam RUPST, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai final sebesar Rp110,4 miliar atau setara Rp4,08 per saham. Manajemen menegaskan bahwa keputusan tersebut mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga konsistensi imbal hasil kepada para pemegang saham.
Kebijakan dividen ini juga menjadi sinyal positif bahwa kondisi keuangan perusahaan tetap solid. Selain itu, OMED masih memiliki ruang yang cukup untuk mendukung ekspansi bisnis pada tahun berjalan.
Menurut manajemen, keseimbangan antara pembagian keuntungan kepada investor dan kebutuhan pengembangan usaha menjadi fokus utama perusahaan dalam menjaga pertumbuhan jangka panjang.
Pemegang Saham Setujui Program MESOP
Selain agenda dividen, pemegang saham dalam RUPS Luar Biasa turut menyetujui pengalihan saham treasuri untuk pelaksanaan Management and Employee Stock Ownership Program (MESOP).
Program ini ditujukan bagi karyawan, direksi, dan dewan komisaris. Pada tahap awal, jumlah saham yang dialihkan maksimal mencapai 17 juta saham.
Harga pelaksanaan akan ditentukan berdasarkan nilai wajar pada tanggal pemberian atau grant date. Namun, harga tersebut tidak boleh lebih rendah dibandingkan harga buyback saham yang telah dilakukan sebelumnya.
Ada Masa Lock-Up 12 Bulan
Perseroan juga menetapkan masa lock-up selama 12 bulan. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan keterikatan para penerima program terhadap kinerja jangka panjang perusahaan.
Selain itu, pemegang saham menyetujui perubahan Pasal 3 Anggaran Dasar. Perubahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kegiatan usaha perseroan dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025.
Tiga Strategi Utama OMED Dorong Pertumbuhan 2026
Menghadapi tahun 2026, OMED telah menetapkan tiga inisiatif strategis yang akan menjadi pendorong pertumbuhan bisnis.
Strategi pertama adalah memulai produksi massal Intraocular Lens (IOL) pada kuartal IV-2026. Produk ini merupakan komponen penting dalam prosedur operasi katarak melalui penggantian lensa mata.
Langkah tersebut dinilai memiliki prospek yang menarik karena kebutuhan layanan kesehatan mata terus meningkat. Selain itu, pasar alat kesehatan dalam negeri masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar.
Strategi kedua adalah memperluas jaringan ritel omnichannel. Perseroan berencana membuka toko di berbagai kota untuk memperkuat akses pelanggan terhadap produk kesehatan.
Salah satu lokasi yang akan dibuka adalah OneMed Medicom di Purwokerto, Jawa Tengah. Kehadiran jaringan ritel baru diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar perusahaan.
Sementara itu, strategi ketiga adalah mempercepat pembangunan National Distribution Center (NDC) di kawasan Pulo Gadung, Jakarta. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2026.
Beberapa fokus ekspansi OMED meliputi:
- Produksi massal Intraocular Lens (IOL).
- Pengembangan jaringan ritel omnichannel.
- Pembukaan OneMed Medicom di Purwokerto.
- Percepatan pembangunan National Distribution Center.
- Penguatan distribusi produk kesehatan nasional.
Posisi Keuangan OMED Tetap Kuat
Di tengah gejolak nilai tukar rupiah, perseroan menilai bisnisnya relatif tidak terlalu sensitif terhadap kondisi makroekonomi. Hal ini karena sebagian besar produk yang dipasarkan merupakan alat kesehatan habis pakai yang memiliki permintaan stabil.
Selain itu, OMED memiliki basis pelanggan yang luas. Saat ini, perusahaan melayani lebih dari 2.000 rumah sakit dan klinik di berbagai wilayah Indonesia.
Loyalitas pelanggan yang tinggi menjadi salah satu faktor yang menopang pertumbuhan bisnis perusahaan. Karena itu, manajemen optimistis dapat mempertahankan kinerja positif pada tahun ini.
Dari sisi keuangan, OMED juga memiliki posisi kas yang kuat. Hingga saat ini, kas perusahaan tercatat mencapai sekitar Rp1,3 triliun.
Sementara itu, struktur neraca tetap sehat dengan rasio utang berbunga terhadap ekuitas hanya 0,01 kali. Kondisi tersebut memberikan fleksibilitas keuangan yang memadai untuk menghadapi potensi kenaikan biaya impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
Dengan kombinasi pembagian dividen, ekspansi bisnis, dan kondisi keuangan yang solid, OMED optimistis mampu menjaga pertumbuhan berkelanjutan sepanjang 2026. Langkah tersebut sekaligus memperkuat posisi perseroan sebagai salah satu pemain penting di industri alat kesehatan nasional.





