TMAS Sesuaikan Tarif Logistik Akibat Kenaikan Harga BBM

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – TMAS sesuaikan tarif logistik seiring meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada biaya operasional sektor pelayaran dan kepelabuhanan. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus memastikan layanan kepada pelanggan tetap berjalan optimal.

Penyesuaian tarif dilakukan oleh Grup PT Temas Tbk (TMAS) melalui unit usahanya yang bergerak di bidang pelayaran peti kemas dan jasa kepelabuhanan. Langkah ini menjadi respons terhadap kenaikan biaya operasional yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Manajemen perseroan menegaskan bahwa kenaikan biaya bahan bakar masih dapat diteruskan kepada pelanggan. Dengan demikian, tekanan terhadap kinerja perusahaan dapat diminimalkan tanpa mengganggu kualitas layanan yang diberikan kepada pengguna jasa logistik.

TMAS Sesuaikan Tarif Logistik dengan Mekanisme Pass On

Direktur Utama Temas Shipping, Harry Haryanto, mengatakan perseroan hingga saat ini masih mampu meneruskan seluruh biaya tambahan akibat kenaikan harga BBM kepada pelanggan.

Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah yang lazim dilakukan dalam industri logistik dan pelayaran. Selain biaya bahan bakar, perusahaan juga akan menerapkan kebijakan serupa apabila terjadi kenaikan komponen biaya operasional lainnya.

“Terkait dampak kenaikan BBM, sejauh ini Perseroan masih mampu me-pass on seluruh biaya yang timbul akibat kenaikan bahan bakar kepada customer. Hal yang sama juga berlaku untuk kenaikan biaya lainnya yang mungkin terjadi dalam waktu dekat,” ujar Harry dalam laporan hasil public expose yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi, Jumat (5/6/2026).

Kebijakan tersebut dinilai masih dapat diterima oleh pasar. Pasalnya, biaya jasa pelayaran hanya menjadi sebagian dari keseluruhan biaya logistik yang ditanggung pelanggan.

Porsi Biaya Pelayaran Relatif Terbatas

Harry menjelaskan bahwa biaya sektor pelayaran hanya menyumbang sekitar 30 hingga 35 persen dari total biaya logistik pelanggan.

Karena itu, kenaikan tarif jasa pelayaran tidak akan memberikan tekanan yang terlalu besar terhadap keseluruhan biaya distribusi barang. Kondisi tersebut membuat ruang penyesuaian tarif masih cukup terbuka di tengah meningkatnya biaya operasional.

Selain itu, kebutuhan distribusi barang antarpulau di Indonesia masih sangat bergantung pada transportasi laut. Faktor tersebut membuat layanan pelayaran tetap menjadi bagian penting dalam rantai pasok nasional.

Di sisi lain, perusahaan terus berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan bisnis dan kepentingan pelanggan. Oleh sebab itu, penyesuaian tarif dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar.

Temas Port Lakukan Efisiensi Operasional

Sementara itu, Direktur Temas Port, Marthalia Vigita, menyampaikan bahwa perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah efisiensi guna mengurangi dampak kenaikan harga BBM terhadap operasional pelabuhan.

Salah satu strategi yang dijalankan adalah memaksimalkan utilisasi peralatan yang dimiliki. Langkah tersebut bertujuan menjaga produktivitas operasional sekaligus menekan pemborosan penggunaan energi.

Meski demikian, biaya bahan bakar yang meningkat tetap akan menjadi komponen yang diperhitungkan dalam tarif layanan kepada pemilik muatan.

“Biaya BBM kami akan pass on kepada pemilik muatan atau barang,” kata Marthalia.

Menurutnya, strategi efisiensi menjadi penting agar perusahaan tetap mampu menjaga margin usaha di tengah tantangan kenaikan biaya operasional.

Transformasi Energi Jadi Fokus Temas Port

Selain melakukan efisiensi, Temas Port juga mulai menyiapkan transformasi penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan dan hemat biaya.

Perusahaan menargetkan pengoperasian Rubber Tyred Gantry (RTG) berbasis listrik pada semester III tahun 2026. Penggunaan alat tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Marthalia menjelaskan bahwa pemanfaatan energi non-fosil akan membantu perusahaan menekan biaya operasional dalam jangka panjang. Langkah ini sekaligus mendukung upaya peningkatan efisiensi di sektor kepelabuhanan.

Penggunaan RTG listrik juga dinilai mampu meningkatkan produktivitas operasional pelabuhan. Selain lebih efisien, teknologi tersebut mendukung target keberlanjutan yang mulai menjadi perhatian utama industri logistik global.

Prospek Bisnis Logistik Tetap Positif

Meskipun menghadapi kenaikan harga BBM, prospek bisnis logistik nasional masih dinilai cukup menjanjikan. Aktivitas perdagangan domestik yang terus berkembang menjadi penopang utama kebutuhan jasa distribusi barang.

Selain itu, pertumbuhan sektor industri dan konsumsi masyarakat turut mendorong peningkatan permintaan layanan logistik. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi perusahaan pelayaran dan kepelabuhanan untuk terus berkembang.

Bagi TMAS, kombinasi antara penyesuaian tarif, efisiensi operasional, dan transformasi energi menjadi strategi penting untuk menjaga daya saing perusahaan. Dengan langkah tersebut, perseroan berharap dapat mempertahankan kinerja usaha sekaligus memberikan layanan yang optimal kepada pelanggan di tengah dinamika biaya operasional yang terus berubah.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu