SMAR Lepas Pabrik Kelapa Sawit Rp67,6 Miliar untuk Optimalkan Aset

Dwi Prakoso

SMAR lepas pabrik kelapa sawit milik anak usaha kepada perusahaan terafiliasi.

RuangInvest.com, JakartaSMAR lepas pabrik kelapa sawit milik anak usahanya sebagai bagian dari strategi optimalisasi portofolio aset. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) melalui PT Maskapai Perkebunan Leidong West Indonesia (LWI) menjual Pabrik Kelapa Sawit Leidong West kepada PT Bumipermai Lestari (BPL) dengan nilai transaksi sekitar Rp67,6 miliar.

Langkah tersebut diumumkan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/7/2026). Transaksi dilakukan dengan pihak terafiliasi setelah perusahaan melakukan evaluasi terhadap manfaat ekonomi dan efektivitas operasional pabrik yang selama ini dikelola oleh LWI.

Manajemen menilai divestasi menjadi keputusan yang paling rasional karena tingkat pasokan tandan buah segar (TBS) dari kebun milik LWI sendiri masih sangat rendah. Akibatnya, operasional pabrik bergantung pada pasokan dari pihak lain sehingga meningkatkan berbagai risiko usaha.

Alasan SMAR Lepas Pabrik Kelapa Sawit

Dalam keterbukaan informasi, aset yang dialihkan mencakup Pabrik Kelapa Sawit Leidong West yang berada di Desa Terentang, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Selain bangunan utama pabrik, transaksi juga meliputi infrastruktur pendukung, mesin dan peralatan produksi, fasilitas kantor, laboratorium, bengkel, kendaraan operasional, alat berat, hingga persediaan yang masih dimiliki perusahaan.

Manajemen menjelaskan bahwa keputusan tersebut telah melalui kajian menyeluruh terhadap efisiensi operasional. Perusahaan mempertimbangkan apakah aset tersebut masih mampu memberikan manfaat ekonomi yang optimal dalam jangka panjang.

Namun, hasil evaluasi menunjukkan bahwa kondisi operasional pabrik sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan bisnis LWI. Karena itu, divestasi dipilih sebagai solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan aset.

Ketergantungan Pasokan TBS Jadi Pertimbangan

Salah satu alasan utama SMAR lepas pabrik kelapa sawit adalah rendahnya kontribusi pasokan TBS dari kebun milik LWI sendiri.

Saat ini, pasokan internal tercatat kurang dari 20 persen dari total buah sawit yang diolah di pabrik tersebut. Sementara itu, sebagian besar kebutuhan bahan baku dipenuhi melalui kebun milik PT Bumipermai Lestari yang berada di sekitar lokasi pabrik dengan skema titip olah.

Selain itu, perusahaan juga harus membeli TBS dari pihak ketiga untuk menjaga kapasitas produksi tetap berjalan. Ketergantungan terhadap pasokan eksternal tersebut dinilai menghadirkan sejumlah risiko.

Beberapa risiko yang dihadapi antara lain:

  • Fluktuasi harga tandan buah segar di pasar.
  • Ketidakpastian kontinuitas pasokan bahan baku.
  • Potensi gangguan terhadap kelancaran operasional pabrik.
  • Menurunnya efisiensi produksi apabila pasokan berkurang.
  • Risiko meningkatnya biaya operasional.

Di sisi lain, LWI tetap harus menanggung biaya tetap yang tidak sedikit. Biaya tersebut meliputi pemeliharaan fasilitas, tenaga kerja, hingga berbagai kebutuhan operasional lainnya, meskipun tingkat utilisasi pabrik tidak optimal.

Kondisi tersebut membuat kepemilikan pabrik dinilai tidak lagi memberikan manfaat ekonomi yang maksimal bagi perusahaan.

Divestasi Jadi Langkah Optimalisasi Portofolio

Manajemen LWI menegaskan bahwa divestasi merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mengoptimalkan portofolio aset.

Dengan melepas aset yang kurang produktif, perusahaan dapat lebih fokus mengelola aset yang memiliki tingkat efisiensi dan profitabilitas lebih tinggi.

Selain itu, hasil penjualan aset juga berpotensi memperkuat posisi keuangan perusahaan. Dana yang diperoleh dapat dialokasikan untuk kebutuhan investasi baru, peningkatan produktivitas kebun, maupun pengembangan bisnis yang memberikan imbal hasil lebih baik.

Strategi seperti ini juga umum dilakukan oleh perusahaan perkebunan besar ketika terdapat aset yang tidak lagi mendukung efisiensi operasional secara optimal.

Manajemen menyatakan bahwa keputusan divestasi diambil setelah mempertimbangkan seluruh aspek operasional dan manfaat ekonomi yang dapat diperoleh perusahaan dalam jangka panjang.

Prospek SMAR bagi Investor

Bagi investor, keputusan SMAR lepas pabrik kelapa sawit dapat dipandang sebagai langkah korporasi yang berorientasi pada peningkatan efisiensi bisnis.

Divestasi aset yang kurang produktif berpotensi membantu perusahaan mengurangi beban biaya tetap sekaligus menekan risiko operasional akibat ketergantungan terhadap pasokan bahan baku dari luar.

Selain itu, optimalisasi portofolio aset dapat meningkatkan kualitas laba apabila dana hasil transaksi dimanfaatkan untuk investasi dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi.

Meskipun begitu, investor tetap perlu mencermati perkembangan bisnis inti SMAR, terutama kinerja produksi crude palm oil (CPO), harga minyak sawit global, biaya operasional, serta strategi perusahaan dalam mengalokasikan dana hasil divestasi tersebut.

Apabila perusahaan mampu meningkatkan efisiensi dan memperkuat profitabilitas setelah transaksi ini, maka langkah divestasi berpotensi memberikan sentimen positif terhadap kinerja keuangan dalam jangka menengah hingga panjang.

Karena itu, aksi korporasi ini layak menjadi perhatian investor sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga daya saing di tengah dinamika industri kelapa sawit yang semakin kompetitif.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu