Saham Perbankan Berpeluang Rebound, BBCA Jadi Pilihan Utama

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – Saham perbankan berpeluang rebound setelah mengalami tekanan cukup dalam sepanjang tahun berjalan. Sejumlah analis menilai penurunan harga yang terjadi sudah melampaui pelemahan fundamental emiten perbankan, sehingga membuka ruang pemulihan harga dalam beberapa waktu ke depan.

Sentimen positif mulai terlihat dari pergerakan saham bank-bank besar yang perlahan menunjukkan tanda-tanda penguatan. Selain itu, minat beli investor domestik juga mulai meningkat seiring valuasi yang dinilai semakin menarik.

Di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi, sektor perbankan kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Beberapa analis bahkan meningkatkan rekomendasi investasi karena menilai potensi kenaikan harga saham lebih besar dibandingkan risiko penurunannya saat ini.

Saham Perbankan Berpeluang Rebound Setelah Koreksi Dalam

BRI Danareksa Sekuritas menaikkan rekomendasi sektor perbankan menjadi Overweight. Langkah tersebut diambil setelah melihat valuasi saham bank-bank besar yang kini berada di level sangat murah dibandingkan rata-rata historisnya.

Sejak awal tahun, saham-saham perbankan tercatat mengalami koreksi antara 15 persen hingga 36 persen. Namun, penurunan tersebut dinilai sudah terlalu dalam jika dibandingkan dengan kondisi fundamental perusahaan yang masih relatif kuat.

Menurut analisis BRI Danareksa, valuasi saham perbankan saat ini diperdagangkan di atas minus tiga standar deviasi dari rata-rata lima tahun terakhir. Kondisi itu menunjukkan pasar telah memasukkan ekspektasi yang sangat konservatif terhadap pertumbuhan laba sektor perbankan.

Pasar memperkirakan kontraksi laba tahun 2026 mencapai 22,8 persen untuk BBRI, 14,9 persen untuk BBCA, 12,7 persen untuk BMRI, dan 11,1 persen untuk BBNI. Namun, asumsi tersebut dianggap tidak sejalan dengan rekam jejak profitabilitas industri perbankan nasional.

Karena itu, banyak analis mulai melihat peluang pemulihan harga yang cukup menarik dalam jangka menengah hingga panjang.

BBCA dan BMRI Dinilai Punya Fundamental Terbaik

Dari sisi fundamental, BBCA dan BMRI dinilai masih memiliki kualitas franchise terbaik di industri perbankan nasional. Kedua bank tersebut dinilai mampu menjaga profitabilitas meskipun menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

Sementara itu, BBCA, BBRI, BTPS, dan BNGA diperkirakan lebih tangguh menghadapi tekanan net interest margin (NIM). Ketahanan tersebut didukung oleh struktur pendanaan yang lebih efisien dibandingkan beberapa bank lainnya.

Di sisi lain, BBTN dinilai menjadi bank yang paling rentan terhadap potensi penurunan kualitas aset. Risiko tersebut perlu dicermati investor sebelum mengambil keputusan investasi.

Keunggulan CASA Jadi Penopang Kinerja

Analis memperkirakan tren kompresi NIM masih akan membayangi sektor perbankan. Meskipun begitu, BBCA dinilai memiliki posisi yang lebih defensif berkat basis dana murah atau current account savings account (CASA) yang kuat.

Tingginya proporsi CASA membuat biaya dana BBCA relatif rendah. Kondisi ini membantu bank menjaga margin keuntungan ketika terjadi perubahan suku bunga.

Selain itu, kekuatan likuiditas juga menjadi faktor penting yang mendukung ketahanan kinerja bank-bank besar di tengah dinamika ekonomi.

Kenaikan Suku Bunga Jadi Katalis Positif

Pandangan optimistis terhadap sektor perbankan juga disampaikan pengamat pasar modal Michael Yeoh. Menurutnya, kenaikan suku bunga Bank Indonesia justru dapat menjadi katalis positif bagi bank-bank besar.

Ia menjelaskan bahwa rasio CASA bank-bank besar berada di kisaran 80 persen. Dengan biaya dana yang rendah, kenaikan suku bunga berpotensi memperlebar selisih antara bunga kredit dan biaya dana.

Akibatnya, net interest margin berpeluang meningkat dan mendorong pertumbuhan laba perusahaan. Faktor tersebut kemudian menarik minat investor domestik untuk kembali mengoleksi saham-saham perbankan.

Michael juga menilai aksi beli investor lokal berhasil menyerap tekanan jual investor asing yang sebelumnya mendominasi perdagangan saham sektor ini.

Menurutnya, pola pergerakan harga saham belakangan menunjukkan indikasi V-shape recovery. Pola tersebut menggambarkan pemulihan cepat setelah harga sempat menembus level bawah secara semu atau false break.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tren penguatan masih membutuhkan konfirmasi dari pergerakan harga dalam beberapa sesi perdagangan mendatang.

Rekomendasi Saham Pilihan dan Risiko yang Perlu Dicermati

Dalam laporan riset terbarunya, BRI Danareksa menempatkan BBCA sebagai pilihan utama atau top pick sektor perbankan. Saham tersebut mendapat rekomendasi Buy dengan target harga Rp10.900 per saham.

Selain BBCA, sejumlah saham lain juga memperoleh rekomendasi beli, yaitu:

  • BMRI dengan target harga Rp6.200 per saham.
  • BBNI dengan target harga Rp4.700 per saham.
  • BRIS dengan target harga Rp3.100 per saham.
  • BBTN dengan target harga Rp1.500 per saham.
  • BTPS dengan target harga Rp1.400 per saham.
  • BNGA dengan target harga Rp2.100 per saham.

BTPS juga menjadi salah satu saham yang menarik perhatian analis. Perusahaan tersebut dinilai memiliki profitabilitas aset yang kuat serta tingkat leverage yang relatif rendah.

Meskipun prospek sektor ini mulai membaik, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko. Beberapa faktor yang masih membayangi adalah potensi penurunan kualitas aset dan tekanan lanjutan terhadap net interest margin.

Karena itu, pelaku pasar disarankan tetap selektif dalam memilih saham. Namun secara umum, berbagai indikator menunjukkan bahwa saham perbankan berpeluang rebound setelah mengalami koreksi tajam sepanjang tahun ini.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu