September Effect Menghantui Pasar Saham dan Kripto, Apa Artinya bagi Investor?

Nova Indra

September Effect Menghantui Pasar Saham dan Kripto, Apa Artinya bagi Investor?
Ilustrasi: September Effect

Ruanginvest.comJakarta, September kembali menjadi perhatian pelaku pasar karena fenomena September Effect kerap muncul dalam pembahasan saham dan kripto. Pola historis ini menggambarkan kecenderungan kinerja pasar yang relatif lebih lemah selama September dibandingkan sejumlah bulan lainnya.

Namun, September Effect tidak berarti harga saham atau aset kripto pasti turun setiap September. Data historis hanya menunjukkan kecenderungan tertentu, sehingga investor tetap perlu melihat kondisi pasar secara menyeluruh.

Sementara itu, pola serupa juga muncul pada Bitcoin. Karena itu, September sering menjadi periode yang mendapat perhatian lebih besar dari investor dan trader yang memantau perubahan sentimen serta volatilitas pasar.

Apa Itu September Effect?

September Effect merupakan istilah untuk menggambarkan kecenderungan historis pasar saham mencatat kinerja lebih lemah pada September. Fenomena ini termasuk anomali pasar karena pola tersebut muncul dari pengamatan data historis tanpa hubungan sebab-akibat yang benar-benar pasti.

Dengan demikian, investor tidak dapat menggunakan fenomena ini sebagai kepastian bahwa pasar akan turun. Sebaliknya, pola tersebut lebih tepat menjadi salah satu bahan pertimbangan ketika investor menilai risiko dan kondisi pasar pada bulan September.

Salah satu gambaran terlihat pada indeks S&P 500. Berdasarkan analisis XWIN Japan, rata-rata imbal hasil S&P 500 pada September selama periode 1976 hingga 2025 berada di sekitar minus 0,8 persen. Pada periode yang sama, September berakhir negatif sekitar 55 persen dari keseluruhan pengamatan.

Namun, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa pasar tidak selalu berakhir melemah. Bahkan, beberapa periode mencatat September sebagai salah satu bulan dengan kinerja yang lebih baik. Karena itu, investor perlu membedakan antara kecenderungan statistik dan kepastian pergerakan harga.

September Effect Juga Terlihat pada Pasar Kripto

Selain pasar saham, perhatian terhadap September Effect juga berkembang di pasar kripto. Bitcoin menjadi salah satu aset yang sering masuk dalam pembahasan karena data historis menunjukkan kecenderungan kinerja yang lebih lemah selama September.

Berdasarkan data historis CoinGlass sejak 2013, September mencatat rata-rata imbal hasil Bitcoin sekitar minus 3,5 persen. Dalam periode 2013 hingga 2025, Bitcoin delapan kali mengakhiri September di zona merah.

Selanjutnya, tekanan pada Bitcoin dapat meningkatkan perhatian terhadap aset kripto lainnya, termasuk altcoin. Namun, pola tersebut tidak menjamin seluruh aset kripto akan bergerak dengan arah yang sama karena setiap aset memiliki kondisi dan sentimen masing-masing.

Oleh karena itu, investor kripto tetap perlu memperhatikan pergerakan harga, sentimen pasar, serta kondisi fundamental aset. Mengandalkan pola September saja dapat membuat keputusan investasi menjadi terlalu sederhana.

Mengapa September Effect Bisa Terjadi?

Tidak ada satu penyebab yang dapat menjelaskan September Effect secara pasti. Namun, sejumlah faktor berkaitan dengan perilaku investor, pengelolaan portofolio, serta psikologi pasar.

Menurut pakar trading sekaligus pendiri FXSV Academy, F.X. Sutjiharto, M.M., perilaku dan kebiasaan investor memiliki peran dalam munculnya fenomena tersebut. Ia menilai pergantian bulan bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi pergerakan pasar.

Salah satu faktor yang mendapat perhatian ialah aktivitas fund manager dan investor institusi setelah periode liburan musim panas. Ketika aktivitas kembali meningkat, pelaku pasar dapat mengevaluasi portofolio dan menyesuaikan strategi menghadapi kuartal berikutnya.

Selain itu, investor dapat melakukan penataan ulang portofolio. Mereka dapat mengurangi risiko, menyesuaikan komposisi aset, atau mengambil keuntungan setelah pasar mencatat kenaikan pada periode sebelumnya.

Faktor pajak juga masuk dalam sejumlah teori mengenai fenomena ini. Sebagian investor dapat menjual aset yang mengalami kerugian untuk mengelola posisi pajaknya. Aktivitas tersebut kemudian berpotensi menambah tekanan jual pada aset tertentu.

Psikologi Investor Ikut Memengaruhi Pergerakan Pasar

Di sisi lain, psikologi pasar dapat memperkuat pola historis. Ketika investor sudah mengenal September sebagai periode yang cenderung lemah, sebagian pelaku pasar dapat menjadi lebih berhati-hati ketika memasuki bulan tersebut.

Akibatnya, ekspektasi terhadap pelemahan pasar dapat memengaruhi keputusan perdagangan. Kondisi ini membuat perhatian terhadap September Effect tidak hanya berkaitan dengan data historis, tetapi juga dengan cara investor merespons pola tersebut.

Meskipun begitu, sentimen pasar dapat berubah dengan cepat. Berita ekonomi, kondisi perusahaan, kebijakan moneter, serta perkembangan pasar global tetap dapat memengaruhi harga saham dan aset kripto.

Karena itu, investor sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya karena kalender memasuki September. Pola historis dapat menjadi konteks tambahan, tetapi investor tetap perlu melihat faktor lain yang relevan dengan aset yang mereka pilih.

September Effect Bukan Sinyal Pasti untuk Menjual

Pada akhirnya, September Effect lebih tepat dipahami sebagai kecenderungan historis daripada sinyal perdagangan yang pasti. Data memang menunjukkan pola tertentu pada saham dan Bitcoin, tetapi pasar tetap dapat bergerak berlawanan dari kecenderungan tersebut.

Selanjutnya, investor dapat menggunakan informasi historis tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap volatilitas. Namun, keputusan investasi tetap membutuhkan pertimbangan yang lebih luas agar tidak bergantung pada satu pola kalender.

Bagi trader, perubahan volatilitas dapat menghadirkan peluang sekaligus risiko. Karena itu, pengelolaan ukuran posisi dan disiplin terhadap strategi menjadi penting ketika pasar bergerak lebih cepat dari biasanya.

Sementara itu, investor jangka panjang dapat menempatkan September Effect dalam konteks yang lebih luas. Mereka tetap perlu menilai kondisi aset dan tujuan investasinya, bukan sekadar mengikuti reputasi September sebagai bulan yang kurang bersahabat.

Kesimpulan

September Effect menggambarkan kecenderungan historis pasar saham dan kripto mencatat kinerja yang relatif lebih lemah selama September. S&P 500 menunjukkan pola tersebut dalam berbagai periode historis, sementara Bitcoin juga mencatat kecenderungan serupa berdasarkan data sejak 2013.

Namun, investor tidak boleh menganggap pola tersebut sebagai kepastian. Perilaku investor, penataan portofolio, aktivitas setelah liburan musim panas, faktor pajak, dan psikologi pasar menjadi beberapa faktor yang sering dikaitkan dengan fenomena tersebut.

Dengan demikian, September Effect sebaiknya menjadi pengingat untuk memperhatikan risiko dan volatilitas, bukan alasan tunggal untuk membeli atau menjual aset. Investor tetap perlu menilai kondisi pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan.

FAQ Seputar September Effect

Apakah September Effect berarti pasar pasti turun?

Tidak. September Effect hanya menunjukkan kecenderungan berdasarkan data historis. Pasar tetap dapat mencatat kenaikan pada September tertentu.

Apakah September Effect hanya berlaku untuk saham?

Tidak. Fenomena ini juga sering dikaitkan dengan pasar kripto, terutama Bitcoin yang memiliki catatan historis kinerja September relatif lemah.

Apa faktor yang dapat memengaruhi September Effect?

Perilaku investor, penataan ulang portofolio, aktivitas investor institusi, faktor pajak, dan psikologi pasar menjadi beberapa faktor yang sering dikaitkan dengan fenomena tersebut.

Apakah investor harus menjual aset pada September?

Tidak ada dasar yang menjadikan September Effect sebagai alasan pasti untuk menjual aset. Investor tetap perlu mempertimbangkan kondisi aset, strategi, risiko, dan tujuan investasinya.

Penulis :

Nova Indra

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
Penguatan Rupiah Berlanjut, Investor Asing Kembali Masuk

Penguatan Rupiah Berlanjut, Investor Asing Kembali Masuk

Kunjungi Artikel