Penguatan Rupiah Berlanjut, Investor Asing Kembali Masuk

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – Penguatan rupiah kembali menjadi sorotan pasar keuangan nasional setelah mata uang Garuda berhasil mencatat kinerja positif sepanjang pekan ini. Di tengah berbagai tekanan global, rupiah justru menunjukkan ketahanan yang kuat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Kinerja impresif tersebut ditopang oleh sejumlah faktor domestik yang dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor. Kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), masuknya kembali modal asing, hingga membaiknya prospek ekonomi nasional menjadi pendorong utama penguatan nilai tukar.

Selain itu, sentimen positif dari lembaga internasional yang merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia turut memperkuat optimisme pelaku pasar. Kondisi ini membuat rupiah mampu mengabaikan sejumlah tekanan eksternal yang masih membayangi perekonomian global.

Penguatan Rupiah Capai Hampir 1 Persen dalam Sepekan

Berdasarkan data pasar spot Bloomberg pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah berada di level Rp17.860 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 0,72 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.989 per dolar AS.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa jika dihitung selama sepekan, rupiah berhasil menguat sekitar 0,98 persen dibandingkan posisi akhir pekan lalu yang berada di level Rp18.036 per dolar AS.

Menurutnya, tren penguatan rupiah kali ini menunjukkan fondasi yang cukup kuat karena ditopang berbagai faktor fundamental. Arus modal asing yang kembali masuk ke pasar domestik menjadi salah satu katalis utama yang mempercepat pemulihan nilai tukar.

Sementara itu, data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga menunjukkan pergerakan yang positif. Nilai tukar rupiah bergerak dari Rp18.171 per dolar AS pada awal pekan menjadi Rp17.921 per dolar AS pada akhir pekan.

Pergerakan tersebut mencerminkan penguatan struktural sebesar 1,38 persen dalam kurun waktu satu minggu. Angka itu memperlihatkan bahwa pemulihan rupiah tidak hanya terjadi di pasar spot, tetapi juga tercermin dalam indikator resmi bank sentral.

Faktor Domestik Jadi Penopang Utama

Ibrahim menjelaskan bahwa ketahanan rupiah tergolong luar biasa mengingat pasar global sedang menghadapi berbagai ketidakpastian. Namun, faktor domestik yang kuat berhasil menjaga minat investor terhadap aset Indonesia.

Salah satu faktor utama adalah langkah agresif Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Kebijakan suku bunga yang lebih ketat dinilai efektif meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik.

Selain itu, revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia turut memberikan sentimen positif. Lembaga internasional tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5,0 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya yang hanya berada di level 4,7 persen. Revisi ini menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat di tengah perlambatan ekonomi global.

“Koreksi positif terhadap fundamental makro inilah yang menjadi dinamo utama bagi investor asing untuk kembali memburu aset keuangan Indonesia dan memicu penguatan rupiah sepekan,” kata Ibrahim.

Modal Asing Kembali Mengalir

Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa penguatan rupiah mencerminkan respons positif investor global terhadap kebijakan yang diterapkan bank sentral.

Menurutnya, kombinasi antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah berhasil menjaga stabilitas pasar keuangan nasional. Karena itu, kepercayaan investor terhadap aset domestik terus meningkat.

Arus modal asing tercatat masuk ke berbagai instrumen investasi dalam negeri. Dana tersebut mengalir ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Surat Berharga Negara (SBN), hingga instrumen investasi baru milik pemerintah.

Salah satu pencapaian yang menjadi perhatian adalah keberhasilan penjualan perdana obligasi internasional Danantara yang mencapai Rp26,9 triliun. Capaian tersebut menunjukkan tingginya minat investor terhadap instrumen keuangan Indonesia.

Gejolak Global Masih Membayangi Pasar

Meskipun demikian, pasar keuangan global masih menghadapi berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang dunia.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu sumber kekhawatiran utama. Pasar mencermati perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu ketidakpastian di sektor energi global.

Di sisi lain, ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi distribusi minyak dan gas alam cair global.

Selain faktor geopolitik, investor juga mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan inflasi AS meningkat pada Mei akibat naiknya biaya energi.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa suku bunga global akan bertahan lebih lama di level tinggi. Namun, sejauh ini dampaknya terhadap rupiah masih dapat diredam oleh kuatnya sentimen domestik.

BI Optimistis Rupiah Terus Menguat

Bank Indonesia memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai langkah yang terukur. Intervensi di pasar keuangan akan tetap dilakukan untuk menjaga pergerakan rupiah sesuai fundamental ekonomi.

Selain itu, BI juga memperkuat kerja sama regional dengan People’s Bank of China dan Hong Kong Monetary Authority. Kerja sama tersebut mencakup perluasan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).

Langkah itu bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan dan investasi. Dengan demikian, stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan semakin kuat dalam jangka panjang.

Destry meyakini berbagai kebijakan yang telah dijalankan akan memberikan dampak positif terhadap pasar keuangan nasional. Karena itu, peluang penguatan rupiah masih terbuka dalam beberapa waktu ke depan.

“Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap US dollar menuju ke level fundamentalnya,” ujar Destry.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu