Sektor Komoditas Masuk Fase Selektif, Analis Jagokan ANTM hingga BUMI

Dwi Prakoso

sektor komoditas dengan tambang batu bara, emas, timah, dan perkebunan kelapa sawit sebagai prospek investasi 2026.

RuangInvest.com, JakartaSektor Komoditas dinilai memasuki fase yang semakin selektif pada paruh kedua 2026. Meredanya ketidakpastian regulasi membuat sejumlah subsektor diperkirakan memiliki peluang memperoleh re-rating dari pasar. Namun, prospeknya tidak akan merata untuk seluruh komoditas.

Pandangan tersebut disampaikan analis Samuel Sekuritas, Juan Harahap, Fadhlan Banny, dan Ahnaf Yassar dalam riset yang diterbitkan pada 7 Juli 2026. Mereka melihat sejumlah perubahan kebijakan pemerintah mulai memberikan kepastian yang selama ini ditunggu pelaku pasar.

Selain itu, kepastian mengenai peran Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi salah satu faktor yang meningkatkan optimisme terhadap sektor pertambangan dan perkebunan. Kondisi tersebut dinilai mampu mengurangi kekhawatiran investor terhadap perubahan mekanisme perdagangan komoditas nasional.

Sektor Komoditas Berpotensi Mendapat Re-Rating

Samuel Sekuritas merekomendasikan posisi overweight pada sektor batu bara, logam, serta perkebunan kelapa sawit hulu (upstream). Sementara itu, sektor sawit hilir (downstream) dan nikel tetap dipertahankan pada peringkat neutral.

Menurut analis, membaiknya prospek sektor komoditas didorong oleh mulai meredanya ketidakpastian regulasi pemerintah. Sebelumnya, pasar sempat mengkhawatirkan peran DSI akan berubah menjadi merchant trader yang mengendalikan ekspor berbagai komoditas strategis.

Namun, kekhawatiran tersebut mulai berkurang setelah DSI menjelaskan bahwa lembaga itu tidak akan mengambil alih aktivitas perdagangan. Sebaliknya, DSI akan berfungsi sebagai platform pengawasan berbasis data yang memanfaatkan aplikasi SIMBARA.

Melalui sistem tersebut, pemerintah dapat memantau aktivitas ekspor secara lebih transparan, mendeteksi potensi anomali, serta memperkuat tata kelola perdagangan komoditas. Karena itu, mekanisme bisnis antara produsen dan pembeli diperkirakan tidak mengalami perubahan signifikan.

Selain itu, kontrak dagang yang telah berjalan tetap berlaku seperti biasa. Mekanisme harga juga masih mengacu pada harga acuan dengan batas toleransi tertentu sehingga tidak mengganggu hubungan komersial yang sudah terbentuk.

Kebijakan DMO dan RKAB Jadi Katalis Positif

Samuel Sekuritas juga menilai pemerintah tengah mempertimbangkan perubahan pada mekanisme harga Domestic Market Obligation (DMO) batu bara untuk PLN. Selain itu, penyesuaian kuota produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) juga sedang menjadi perhatian pelaku industri.

Saat ini, produsen batu bara masih diwajibkan memasok sebagian produksinya kepada PLN dengan harga tetap sebesar USD70 per ton melalui skema DMO. Apabila mekanisme tersebut mengalami perubahan, sejumlah emiten diperkirakan memperoleh manfaat yang cukup besar.

Sementara itu, penyesuaian RKAB diprediksi memberikan dampak berbeda pada masing-masing perusahaan mineral. Emiten yang masih membutuhkan tambahan pasokan bijih untuk memenuhi kebutuhan smelter diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan.

Di sisi lain, pemerintah juga membatalkan rencana kenaikan tarif royalti serta skema gross split. Kebijakan tersebut dinilai mampu mengurangi tekanan terhadap profitabilitas perusahaan tambang dalam jangka menengah.

Kombinasi berbagai kebijakan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Samuel Sekuritas tetap optimistis terhadap prospek sektor komoditas sepanjang sisa tahun 2026.

Saham Pilihan Samuel Sekuritas

Dalam risetnya, Samuel Sekuritas menjagokan beberapa saham yang dinilai memiliki prospek menarik apabila sentimen positif sektor komoditas terus berlanjut.

Daftar saham unggulan tersebut meliputi:

  • PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM)
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
  • PT Timah Tbk (TINS)

BUMI menjadi pilihan utama pada sektor batu bara. Perusahaan ini dinilai memiliki porsi penjualan domestik yang besar serta hubungan bisnis yang kuat dengan PLN sehingga berpotensi memperoleh manfaat apabila terdapat penyesuaian kebijakan DMO.

Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) diperkirakan menjadi emiten yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan DMO. Hal tersebut disebabkan tingginya porsi penjualan batu bara mereka ke pasar domestik.

Di sektor logam, Samuel Sekuritas tetap optimistis terhadap ANTM, AMMN, dan TINS. Prospek ketiga emiten tersebut didukung oleh meredanya risiko kebijakan serta potensi pertumbuhan laba yang ditopang harga emas dan timah yang masih relatif kuat.

Sawit Hulu Lebih Menarik Dibanding Hilir

Selain batu bara dan logam, Samuel Sekuritas juga melihat peluang yang cukup menarik pada sektor perkebunan kelapa sawit hulu.

Menurut analis, perusahaan sawit hulu dapat menikmati kenaikan harga crude palm oil (CPO) secara langsung sehingga potensi peningkatan pendapatan lebih besar. Kondisi tersebut berbeda dengan perusahaan sawit hilir yang justru menghadapi risiko tekanan margin akibat meningkatnya harga bahan baku.

Meskipun begitu, Samuel Sekuritas tetap mempertahankan pandangan netral terhadap sektor nikel. Pasalnya, pertumbuhan pasokan nikel Indonesia masih lebih cepat dibandingkan peningkatan permintaan dari industri baja nirkarat maupun baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Apabila kondisi kelebihan pasokan masih berlangsung, harga nikel diperkirakan akan sulit mengalami kenaikan yang signifikan dalam waktu dekat. Karena itu, potensi pertumbuhan laba emiten nikel juga diperkirakan lebih terbatas dibandingkan subsektor komoditas lainnya.

Secara keseluruhan, Samuel Sekuritas menilai sektor komoditas kini memasuki fase yang lebih selektif. Investor disarankan lebih cermat memilih emiten yang memiliki fundamental kuat, prospek pertumbuhan laba yang sehat, serta potensi memperoleh manfaat dari perubahan kebijakan pemerintah. Batu bara, logam, dan sawit hulu menjadi subsektor yang saat ini dinilai menawarkan peluang investasi paling menarik dibandingkan subsektor komoditas lainnya.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu