Daftar Isi 3 bagian
Ruanginvest.com – Jakarta, transaksi QRIS misterius BCA senilai Rp6 juta memicu sengketa antara nasabah dan bank. Nasabah menyatakan tidak pernah melakukan pembayaran, sedangkan BCA menilai transaksi sah karena sistem mencatat penggunaan BCA ID dan PIN yang benar.
Kasus tersebut melibatkan Bambang Suryadi, yang mendapati saldo rekeningnya berkurang pada Rabu, 18 Maret 2026. Berdasarkan bukti transaksi digital myBCA, dana itu tercatat sebagai pembayaran QRIS kepada Naya Cepat Topup pada pukul 13:43:14 WIB.
Transaksi dengan nomor referensi 9527120260318134309856QRS0371247926 tersebut berstatus berhasil dan mengurangi saldo Bambang sebesar Rp6 juta. Ia kemudian mengajukan pengaduan melalui telepon pada hari yang sama dengan Request ID 1979238184.
Sengketa Transaksi QRIS Misterius BCA
Bambang menyangkal pernah melakukan pembayaran tersebut. Ia juga menyatakan pernah kehilangan dana Rp1 juta melalui transaksi misterius pada awal Februari 2026. Rangkaian kejadian itu membuat nasabah mempertanyakan keamanan transaksi perbankan digital.
Dalam surat bernomor 5919/HBS2-CRM/IV/2026 tertanggal 7 April 2026, manajemen BCA menyatakan transaksi tercatat sah. Bank menyebut pembayaran dilakukan melalui myBCA dengan BCA ID dan PIN yang benar berdasarkan data pendukung.
Perbedaan keterangan itu menjadi inti persoalan. Di satu sisi, sistem bank mencatat penggunaan kredensial yang sesuai. Di sisi lain, nasabah menyangkal pernah memberikan persetujuan atau menjalankan pembayaran tersebut.
Uchok Minta OJK Tidak Berhenti pada Imbauan
Uchok Sky Khadafi meminta OJK tidak hanya mengandalkan imbauan keamanan kepada masyarakat. Ia mendorong regulator memastikan pemeriksaan terhadap sistem digital perbankan berjalan efektif, terutama ketika sengketa transaksi tidak selesai melalui mekanisme pengaduan bank.
Menurut Uchok, risiko dalam transaksi perbankan digital tidak hanya berkaitan dengan kesalahan pengguna. Ia menyoroti kemungkinan peretasan, serangan malware, dan pengambilalihan akun yang dapat membuat transaksi berlangsung tanpa sepengetahuan pemilik rekening.
Karena itu, pemeriksaan keamanan perlu melihat lebih jauh daripada sekadar kecocokan BCA ID dan PIN. Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat menjelaskan bagaimana transaksi berlangsung dan apakah terdapat indikasi akses tidak sah pada akun nasabah.
Bank Diminta Jelaskan Bukti Teknis Transaksi
Center for Budget Analysis (CBA) menilai bank perlu mampu menjelaskan bukti teknis ketika nasabah menyangkal pernah melakukan pembayaran. Penjelasan itu penting agar penyelesaian sengketa tidak hanya bertumpu pada catatan bahwa kredensial pengguna terpakai.
Bukti teknis dapat menjadi dasar untuk memperjelas proses transaksi yang disengketakan. Dengan penjelasan yang memadai, nasabah dan regulator dapat menilai apakah transaksi berlangsung melalui akses normal atau terdapat pola yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Kasus Bambang menunjukkan tantangan dalam menjaga kepercayaan terhadap layanan perbankan digital. Sistem pembayaran yang cepat dan praktis tetap membutuhkan mekanisme pemeriksaan yang mampu menjawab sanggahan nasabah secara jelas.
Dorongan kepada OJK juga menempatkan perlindungan nasabah sebagai bagian penting dari pengawasan industri. Selain menjaga keamanan sistem, bank perlu memiliki proses penanganan sengketa yang transparan ketika catatan digital dan kesaksian nasabah menunjukkan hal berbeda.
Hingga kini, pokok sengketa berada pada perbedaan antara catatan sistem BCA dan bantahan Bambang. Pemeriksaan keamanan digital yang efektif diharapkan dapat membantu menjelaskan transaksi tersebut secara lebih menyeluruh.




