Sektor Batu Bara Masih Undervalued, AADI dan ITMG Jadi Pilihan

Dwi Prakoso

Sektor batu bara masih undervalued dengan prospek AADI dan ITMG

RuangInvest.com, Jakarta – Sektor batu bara dinilai masih diperdagangkan di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Kondisi tersebut terjadi meski harga komoditas mulai memasuki fase normalisasi pada semester II 2026.

BRI Danareksa Sekuritas menilai pasar masih memberikan diskon terhadap emiten batu bara. Ketidakpastian kebijakan menjadi salah satu faktor yang menekan valuasi sektor tersebut.

Namun, fundamental industri dinilai mulai bergerak menuju keseimbangan yang lebih sehat. Kondisi pasokan global juga masih relatif ketat, meski tekanan permintaan mulai menunjukkan tanda normalisasi.

Dalam riset yang terbit Jumat (28/8/2026), BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor batu bara. Meski demikian, rekomendasi taktis untuk tiga bulan ke depan diturunkan menjadi netral.

Langkah tersebut mencerminkan ruang kenaikan jangka pendek yang mulai terbatas. Di sisi lain, valuasi rendah dan fundamental yang masih sehat membuat prospek sektor tetap menarik untuk investor dengan horizon lebih panjang.

Sektor Batu Bara Masih Diperdagangkan di Bawah Nilai Wajar

Dari sisi valuasi, sektor batu bara saat ini diperdagangkan pada price-to-earnings atau PE sebesar 6,1 kali. Angka tersebut berada sekitar 0,7 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, kondisi tersebut menunjukkan pasar masih memperhitungkan tingkat ketidakpastian kebijakan yang cukup tinggi. Diskon valuasi itu dinilai belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan keseimbangan fundamental.

Tekanan dari sisi pasokan juga mulai mereda. Impor batu bara China tercatat turun 3 persen secara tahunan. Sementara itu, impor India turun lebih dalam hingga 18 persen.

Namun, permintaan dari sejumlah negara Asia Timur masih memberikan dukungan. Impor batu bara Jepang tumbuh 4 persen secara tahunan. Taiwan mencatat pertumbuhan 3 persen, sedangkan Korea Selatan naik 20 persen.

Kondisi tersebut membuat pasar global tetap memiliki penopang permintaan. Karena itu, penurunan harga batu bara diperkirakan tidak berlangsung secara ekstrem.

Produksi Indonesia Menjadi Faktor Penting

Indonesia masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi ketatnya pasokan batu bara global. Produksi dan ekspor batu bara Indonesia tercatat turun sekitar 8 persen secara tahunan dalam lima bulan pertama 2026.

Penurunan tersebut membantu menjaga keseimbangan pasar. Namun, kondisi pasokan yang ketat belum sampai menciptakan supply shock.

Memasuki semester II 2026, keseimbangan antara pasokan dan permintaan diperkirakan mulai membaik. Salah satu faktornya adalah meredanya tekanan akibat perang.

Selain itu, terdapat potensi kenaikan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB sebesar 10-12 persen. Jika terealisasi, tambahan kuota tersebut dapat meningkatkan pasokan batu bara.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan harga batu bara akan mengalami normalisasi pada semester II 2026. Indeks harga batu bara Indonesia, ICI3 dan ICI4, disebut telah mencapai puncaknya pada Juni 2026.

Setelah mencapai puncak tersebut, harga mulai bergerak lebih moderat. Meski begitu, normalisasi diperkirakan tidak berubah menjadi penurunan tajam atau collapse.

Revisi RKAB Jadi Faktor yang Perlu Dicermati

Persetujuan revisi RKAB menjadi salah satu faktor penting bagi arah pasar batu bara dalam beberapa bulan mendatang. BRI Danareksa memperkirakan persetujuan tersebut dapat keluar dalam satu hingga 1,5 bulan.

Tambahan kuota produksi berpotensi meningkatkan pasokan di pasar domestik. Selain itu, ekspor juga berpeluang meningkat jika produksi tambahan dapat direalisasikan.

Namun, peningkatan pasokan tidak otomatis menjadi sentimen negatif. Dampaknya akan sangat bergantung pada pertumbuhan permintaan serta kondisi harga global.

Sementara itu, kewajiban domestic market obligation atau DMO masih menjadi risiko terhadap average selling price atau ASP. Tingginya porsi penjualan domestik dapat membuat harga jual emiten tidak sepenuhnya mengikuti kenaikan harga batu bara acuan.

Di sisi lain, risiko yang berkaitan dengan PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI diperkirakan mulai mereda. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi investor untuk kembali melihat fundamental masing-masing emiten.

Laba Emiten Batu Bara Belum Diperkirakan Melonjak

Dari sisi kinerja keuangan, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan kuartal II 2026 belum menunjukkan lonjakan laba yang signifikan bagi emiten batu bara.

Pendapatan diperkirakan membaik secara kuartalan. Namun, kenaikan ASP berpotensi tertinggal dibandingkan kenaikan harga batu bara acuan.

Perbedaan tersebut terutama dipengaruhi oleh porsi penjualan DMO yang lebih tinggi. Harga jual rata-rata emiten akhirnya tidak bergerak secepat harga acuan komoditas.

Selain itu, kenaikan biaya operasi juga berpotensi mengurangi manfaat dari perbaikan pendapatan. Salah satu tekanan terbesar berasal dari harga high-speed diesel atau HSD domestik.

Harga HSD domestik diperkirakan meningkat sekitar 35-40 persen secara kuartalan. Kenaikan tersebut menjadi beban tambahan bagi perusahaan tambang yang memiliki kebutuhan bahan bakar tinggi.

Dengan kondisi tersebut, EBITDA kuartal II 2026 diperkirakan cenderung flattish untuk PT Adaro Andalan Indonesia Tbk atau AADI. Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi pada PT Indo Tambangraya Megah Tbk atau ITMG.

Namun, pelemahan jangka pendek tersebut belum tentu mencerminkan perubahan fundamental. BRI Danareksa menilai kondisi tersebut lebih berkaitan dengan adanya timing lag antara pergerakan ASP dan biaya operasional.

Artinya, tekanan terhadap profitabilitas emiten batu bara pada periode tersebut lebih bersifat sementara. Investor tetap perlu melihat kemampuan perusahaan menghadapi normalisasi harga dan perubahan biaya produksi.

AADI dan ITMG Jadi Pilihan Utama

Di tengah normalisasi harga batu bara, BRI Danareksa Sekuritas masih melihat peluang pada emiten dengan valuasi menarik. Fundamental sektor yang dinilai tetap sehat menjadi salah satu alasan utama.

Dengan valuasi rendah dan prospek jangka panjang yang masih positif, dua emiten menjadi pilihan utama sektor batu bara. Keduanya adalah AADI dan ITMG.

AADI mendapatkan rekomendasi buy dengan target harga Rp12.400 per saham. Sementara itu, ITMG juga memperoleh rekomendasi buy dengan target harga Rp34.000 per saham.

Rekomendasi tersebut menunjukkan bahwa normalisasi harga komoditas tidak serta-merta menghilangkan daya tarik saham batu bara. Valuasi yang rendah masih menjadi salah satu pertimbangan penting.

Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko. Perubahan kebijakan pemerintah, revisi RKAB, DMO, biaya operasional, serta pergerakan harga batu bara global dapat memengaruhi kinerja emiten.

Dalam jangka pendek, ruang kenaikan saham batu bara memang dinilai lebih terbatas. Karena itu, BRI Danareksa menurunkan pandangan taktis tiga bulan menjadi netral.

Namun, untuk jangka lebih panjang, sektor batu bara masih memiliki daya tarik. Kondisi pasokan yang relatif ketat dan valuasi rendah dapat menjadi penopang apabila fundamental kembali menguat.

Investor juga perlu membedakan antara normalisasi harga dan penurunan struktural. Normalisasi berarti harga bergerak menuju tingkat yang lebih seimbang setelah periode kenaikan. Kondisi tersebut berbeda dengan kejatuhan harga akibat perubahan fundamental.

Dengan demikian, prospek sektor batu bara pada semester II 2026 akan sangat bergantung pada keseimbangan pasokan dan permintaan. Perkembangan RKAB juga menjadi katalis yang patut diperhatikan.

Jika tambahan produksi meningkat tanpa diikuti pertumbuhan permintaan, tekanan harga dapat kembali muncul. Sebaliknya, permintaan Asia yang tetap kuat dapat membantu menyerap tambahan pasokan.

Bagi investor, kondisi tersebut membuat pemilihan emiten menjadi semakin penting. Valuasi, struktur biaya, porsi DMO, volume produksi, serta kemampuan menjaga margin perlu menjadi pertimbangan.

Pada akhirnya, sektor batu bara belum kehilangan daya tarik meski memasuki fase normalisasi. Valuasi yang masih rendah menjadi alasan utama BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan pandangan overweight.

AADI dan ITMG pun tetap menjadi dua saham pilihan. Namun, investor perlu mencermati perkembangan harga komoditas dan kebijakan produksi sebelum mengambil keputusan investasi.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu