RuangInvest.com, Jakarta – Saham konglomerasi mencatatkan penguatan cukup solid sepanjang perdagangan pekan ini. Empat saham yang masuk dalam ekosistem bisnis pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam bahkan menempati posisi teratas.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Jumat (21/8/2026), JARR menjadi saham dengan kenaikan mingguan paling tinggi. Saham tersebut melesat 52,74 persen ke level Rp3.070 per saham.
Penguatan saham konglomerasi tersebut terjadi ketika pasar tengah menyoroti rumor terkait rencana akuisisi PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Namun, sejumlah perusahaan telah menyampaikan klarifikasi mengenai kabar tersebut.
Saham Konglomerasi Haji Isam Pimpin Kenaikan
PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) menjadi saham dengan performa terbaik dalam daftar 10 saham konglomerasi yang menguat sepanjang pekan.
JARR mencatat kenaikan 52,74 persen hingga Jumat. Pada perdagangan harian Jumat, saham tersebut masih mampu menguat 3,37 persen.
Posisi kedua ditempati PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK). Saham PACK melonjak 30,41 persen dalam sepekan menjadi Rp386 per saham.
Kinerja harian PACK juga cukup kuat. Saham tersebut menguat 9,66 persen pada perdagangan Jumat.
Selanjutnya, PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) naik 27,27 persen dalam sepekan. Harga saham TEBE ditutup di level Rp1.750 per saham.
Namun, pergerakan harian TEBE justru berlawanan. Saham tersebut terkoreksi 6,17 persen pada perdagangan Jumat.
Saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) berada di posisi keempat. Saham tersebut menguat 24,84 persen sepanjang pekan ke Rp9.550.
Meski begitu, PGUN melemah 2,55 persen pada perdagangan Jumat. Dengan demikian, empat saham yang berada dalam ekosistem Haji Isam menguasai empat posisi teratas berdasarkan kenaikan mingguan.
Rumor Akuisisi BYAN Jadi Sorotan Pasar
Penguatan sejumlah saham konglomerasi berlangsung di tengah perhatian investor terhadap rumor akuisisi BYAN.
Rumor tersebut menyebut adanya rencana pengambilalihan sekitar 62 persen saham Bayan Resources oleh Haji Isam atau pihak yang terafiliasi dengannya.
Namun, kabar tersebut belum mendapatkan konfirmasi sebagai transaksi yang akan dilakukan. Sejumlah pihak terkait juga telah memberikan penjelasan kepada BEI.
Manajemen PGUN, misalnya, menyatakan tidak mengetahui kebenaran pemberitaan mengenai rencana pengambilalihan BYAN. Pernyataan tersebut disampaikan melalui keterbukaan informasi pada Kamis (20/8).
Sebelumnya, Jhonlin Agro juga membantah adanya rencana akuisisi saham BYAN. Direktur Utama JARR Indra Irawan menyatakan perseroan maupun grup usaha tidak memiliki rencana tersebut.
Perseroan juga belum menerima konfirmasi atau pemberitahuan resmi dari pemegang saham pengendali maupun pemilik manfaat akhir.
“Perseroan maupun Grup tidak memiliki rencana untuk melakukan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN),” ujar Indra dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu (19/8/2026).
Jhonlin Group juga menyatakan belum terdapat informasi atau kejadian material lain yang belum disampaikan kepada publik. Informasi tersebut dinilai dapat memengaruhi kelangsungan usaha maupun harga saham perseroan.
Sementara itu, manajemen Bayan melalui surat kepada BEI tertanggal 18 Agustus 2026 menyatakan belum mengetahui adanya rencana pengambilalihan atau akuisisi saham perseroan.
Bayan juga belum mengetahui pihak yang terlibat, struktur transaksi, jumlah saham yang akan dialihkan, maupun nilai transaksi.
Karena itu, perseroan menyatakan belum terdapat dampak material terhadap kegiatan operasional dan kinerja keuangan. Hal tersebut lantaran belum ada transaksi yang dapat dikonfirmasi.
Saham BYAN dan Pergerakan Emiten Konglomerasi
Rumor tersebut mencuat setelah Haji Isam bersama pengendali Bayan, Dato’ Low Tuck Kwong, serta pemilik Republik Korpora Indonesia, Norman Joesoef, terlihat meninjau area operasional tambang BYAN.
Kunjungan tersebut berlangsung di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Sabtu (15/8/2026).
Meski rumor akuisisi menjadi perhatian, saham BYAN tetap menunjukkan penguatan mingguan. Saham yang dikendalikan Low Tuck Kwong tersebut naik 8,33 persen menjadi Rp15.600.
Namun, pada perdagangan Jumat, BYAN justru terkoreksi 3,55 persen. Kondisi ini menunjukkan pergerakan saham dapat berubah cepat meski sentimen mingguan masih positif.
Selain kelompok Haji Isam, sejumlah saham konglomerasi lain juga mencatatkan kenaikan.
Berikut daftar saham konglomerasi dengan kinerja mingguan yang menonjol berdasarkan data hingga Jumat (21/8/2026):
- JARR: naik 52,74 persen menjadi Rp3.070.
- PACK: naik 30,41 persen menjadi Rp386.
- TEBE: naik 27,27 persen menjadi Rp1.750.
- PGUN: naik 24,84 persen menjadi Rp9.550.
- BRMS: naik 12,10 persen menjadi Rp695.
- BYAN: naik 8,33 persen menjadi Rp15.600.
- BUMI: naik 8,29 persen menjadi Rp196.
- WIFI: naik 8,01 persen menjadi Rp2.090.
- AMMN: naik 4,92 persen menjadi Rp4.480.
- BUVA: naik 4,83 persen menjadi Rp760.
Grup Bakrie hingga Hapsoro Ikut Menguat
Setelah empat saham dalam kelompok Haji Isam, Grup Bakrie menjadi kelompok berikutnya yang mencatatkan penguatan cukup besar.
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) naik 12,10 persen dalam sepekan. Saham tersebut berakhir di Rp695 dengan kenaikan harian 1,46 persen.
Kemudian, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 8,29 persen sepanjang pekan menjadi Rp196. Pada perdagangan Jumat, BUMI kembali naik 3,16 persen.
BRMS merupakan bagian dari kelompok usaha Bumi dan memiliki keterkaitan dengan Grup Bakrie serta Salim. Pergerakan kedua saham tersebut turut menjadi perhatian investor sepanjang pekan.
Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat kenaikan 4,92 persen. Saham yang masuk dalam kelompok Salim tersebut ditutup pada Rp4.480.
Pada perdagangan Jumat, AMMN masih mampu naik tipis 0,22 persen. Kinerja tersebut menunjukkan sentimen positif masih bertahan pada saham tersebut.
Di sisi lain, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang terafiliasi dengan Hashim Djojohadikusumo menguat 8,01 persen menjadi Rp2.090.
Namun, WIFI terkoreksi 1,42 persen pada perdagangan Jumat. Pergerakan ini memperlihatkan adanya aksi ambil untung setelah kenaikan selama sepekan.
Saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dari kelompok Hapsoro juga masuk daftar. Saham tersebut menguat 4,83 persen menjadi Rp760.
Berbeda dari beberapa saham lainnya, BUVA masih mencatatkan kenaikan 2,01 persen pada perdagangan Jumat.
Investor Perlu Mencermati Risiko Volatilitas
Kenaikan saham konglomerasi sepanjang pekan menunjukkan kuatnya pengaruh sentimen terhadap pergerakan harga. Rumor korporasi dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong perhatian pasar.
Namun, investor perlu membedakan antara informasi yang telah dikonfirmasi dan kabar yang masih berupa rumor. Klarifikasi dari perusahaan menjadi informasi penting sebelum mengambil keputusan investasi.
Selain itu, kenaikan harga saham dalam waktu singkat juga dapat meningkatkan risiko volatilitas. Investor perlu mempertimbangkan fundamental, kinerja keuangan, serta prospek bisnis masing-masing emiten.
Meskipun begitu, perkembangan aksi korporasi tetap layak dipantau. Setiap keterbukaan informasi baru dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap emiten terkait.
Dengan demikian, performa saham konglomerasi pada pekan ini belum dapat menjadi dasar tunggal untuk menentukan prospek jangka panjang. Investor tetap perlu menggabungkan analisis fundamental dan teknikal sebelum mengambil keputusan.
Pergerakan JARR, PACK, TEBE, dan PGUN menjadi sorotan utama. Keempatnya mencatat kenaikan mingguan paling tinggi di antara saham konglomerasi dalam daftar tersebut.
Sementara itu, perkembangan rumor BYAN masih menjadi perhatian pasar. Sampai terdapat informasi resmi mengenai transaksi, investor perlu menyikapi kabar tersebut secara hati-hati dan mengacu pada keterbukaan informasi perusahaan.










