Kamis, 29 Oktober 2026Berita Seputar Investasi Terbaru
RuangInvest.com
Berita Seputar Investasi Terbaru

Saham di Bawah Gocap Melesat, Analis Ingatkan Risiko Volatilitas

Oleh Jaya Purnama · September 29, 2026 · 2:07 am
Daftar Isi 3 bagian

Ruanginvest.com – Jakarta, saham di bawah gocap kembali mencuri perhatian ketika pasar saham berada dalam tekanan. Pada perdagangan Senin (28/9/2026), sejumlah saham berharga di bawah Rp 50 justru menguat hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA), saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,51% ke level 6.147,86.

Perubahan batas harga minimum perdagangan menjadi salah satu pemicu utama fenomena tersebut. Saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50 kini memiliki ruang untuk bergerak lebih rendah. Kondisi itu sekaligus membuka peluang kenaikan harga dalam persentase yang lebih besar.

Saham di bawah gocap melesat saat IHSG tertekan

PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU) menjadi salah satu saham dengan kenaikan terbesar. Harga TAMU naik 34,62% atau 9 poin menjadi Rp 35 per saham.

Selain itu, PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) menguat 34,38% ke level Rp 43. PT Mitra International Resources Tbk (MIRA), PT Pan Brothers Tbk (PBRX), dan PT PP Property Tbk (PPRO) juga mencatat kenaikan masing-masing 33,33%.

Pergerakan tersebut menunjukkan besarnya respons pelaku pasar terhadap saham berharga rendah. Dengan nominal harga yang kecil, perubahan beberapa rupiah dapat menghasilkan perubahan persentase yang terlihat signifikan.

Analis minta investor tidak terpaku pada harga murah

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, perubahan batas bawah harga saham menjadi Rp 50 membuat saham berharga rendah memiliki ruang pergerakan yang lebih fleksibel.

Namun, Elandry mengingatkan bahwa harga nominal yang rendah tidak otomatis menunjukkan valuasi yang murah. Investor tetap perlu menilai kondisi perusahaan secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.

Menurut dia, beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan meliputi pertumbuhan pendapatan dan laba, arus kas, posisi utang, prospek bisnis, aksi korporasi, serta valuasi emiten. Investor juga perlu mengonfirmasi pergerakan harga melalui volume transaksi dan keberlanjutan akumulasi.

Kenaikan yang sangat cepat tanpa dukungan perubahan fundamental atau likuiditas memadai, lanjut Elandry, lebih mencerminkan momentum trading. Strategi tersebut memiliki tingkat volatilitas yang tinggi sehingga pergerakannya dapat berubah dengan cepat.

Perubahan mekanisme turut memicu tekanan jual

Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project William Hartanto menilai perubahan aturan harga minimum menjadi salah satu faktor yang meningkatkan minat terhadap saham-saham recehan.

Harga yang lebih rendah membuat modal transaksi terlihat lebih kecil. Selain itu, perubahan nominal yang terbatas dapat menghasilkan persentase keuntungan yang relatif besar. Meski begitu, William menilai pasar masih berada dalam tahap adaptasi terhadap mekanisme baru.

Fenomena tersebut tidak hanya terlihat dari kenaikan. Sejumlah saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50 juga mengalami tekanan jual setelah memiliki ruang bergerak lebih rendah.

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), misalnya, turun 14% menjadi Rp 43. Saham PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG) dan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) juga sama-sama merosot 14% ke level Rp 43.

William menilai tekanan itu menunjukkan bahwa pasar masih menyesuaikan diri dengan mekanisme baru. Pada saham berharga rendah, pergerakan harga juga tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental emiten.

Elandry menambahkan, penurunan saham seperti GOTO hingga LPKR setelah tidak lagi tertahan di Rp 50 tidak serta-merta menandakan fundamental perusahaan memburuk. Perubahan batas minimum justru memberi ruang lebih luas bagi proses pembentukan harga atau price discovery ketika tekanan jual meningkat.

Dengan demikian, daya tarik saham di bawah gocap tidak semata-mata berasal dari nominal harganya. Aturan baru membuka ruang volatilitas yang sebelumnya terbatas di level Rp 50. Kondisi ini menarik bagi pelaku momentum trading, tetapi juga meningkatkan risiko pergerakan harga yang tajam.

Tag:

Chief Idea Officer • Powered by AI — Turning Ideas into Digital Products, Content & Businesses.