RuangInvest.com, Jakarta – Saham consumer goods kembali menjadi sorotan pelaku pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian pada sejumlah sektor ekonomi. Di saat risiko intervensi kebijakan meningkat, terutama pada sektor komoditas, investor mulai mencari sektor yang dinilai lebih defensif dan stabil.
Sektor barang konsumsi atau consumer goods dinilai memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan sektor lain yang sensitif terhadap perubahan regulasi. Karena itu, sejumlah analis melihat sektor ini sebagai tactical safe haven bagi investor yang ingin menjaga stabilitas portofolio.
Selain itu, valuasi saham consumer goods saat ini dinilai semakin menarik setelah mengalami koreksi cukup dalam dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut membuka peluang bagi investor untuk kembali melirik emiten-emiten konsumsi yang memiliki fundamental kuat.
Saham Consumer Goods Dinilai Lebih Aman
Analis UOB Kay Hian menilai sektor consumer goods Indonesia menjadi salah satu pilihan yang relatif aman di tengah meningkatnya risiko kebijakan pada berbagai sektor lain.
Seperti dikutip Dow Jones Newswires, pelemahan harga saham konsumer dalam beberapa waktu terakhir telah mencerminkan berbagai sentimen negatif yang membayangi pasar.
Beberapa faktor yang sebelumnya menekan sektor ini antara lain:
- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
- Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik.
- Perlambatan daya beli masyarakat.
- Ketidakpastian ekonomi global.
Namun, setelah berbagai sentimen tersebut terakomodasi dalam harga saham, valuasi sektor consumer goods kini dinilai lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Meskipun demikian, UOB Kay Hian masih mempertahankan rekomendasi market weight untuk sektor konsumer Indonesia. Artinya, investor tetap disarankan memiliki eksposur yang seimbang terhadap sektor ini.
Empat Saham Unggulan Pilihan Analis
Dalam laporan risetnya, UOB Kay Hian menjagokan empat saham consumer goods sebagai pilihan utama.
Keempat saham tersebut adalah:
- PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY)
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)
- PT Mayora Indah Tbk (MYOR)
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
Menurut analis, emiten-emiten tersebut memiliki prospek pertumbuhan yang masih menarik meskipun kondisi ekonomi global belum sepenuhnya pulih.
Salah satu saham yang paling banyak mendapat perhatian adalah CMRY. Perusahaan produsen susu dan produk makanan tersebut dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang kuat dalam beberapa tahun mendatang.
Selain memiliki merek yang kuat, CMRY juga terus memperluas jaringan distribusi ke berbagai wilayah Indonesia. Langkah tersebut dinilai mampu meningkatkan penetrasi pasar sekaligus memperkuat pertumbuhan penjualan.
CMRY Diprediksi Catat Pertumbuhan Tertinggi
Analis Nomura, Heng Siong Kong, memperkirakan laba operasional atau EBIT CMRY dapat tumbuh sekitar 22 persen hingga tahun 2028.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh dua faktor utama. Pertama, ekspansi jaringan distribusi yang terus dilakukan perusahaan. Kedua, penambahan kapasitas produksi yang sedang direncanakan untuk mendukung peningkatan permintaan.
Prospek yang positif tersebut mendorong Nomura menaikkan target harga saham CMRY menjadi Rp9.250 per saham dari sebelumnya Rp9.150.
Meski target harga dinaikkan secara terbatas, Nomura tetap mempertahankan rekomendasi buy. Hal ini menunjukkan keyakinan bahwa saham tersebut masih memiliki potensi kenaikan yang menarik dalam jangka menengah hingga panjang.
Mayora Hadapi Tantangan Pasar Ekspor
Di sisi lain, prospek PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menghadapi tantangan yang berbeda. Kinerja ekspor perusahaan diperkirakan belum pulih sepenuhnya dalam waktu dekat.
Analis CGS International memperkirakan penjualan ekspor Mayora akan cenderung stagnan sepanjang 2026. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh lemahnya permintaan dari pasar Filipina.
Selain daya beli yang belum sepenuhnya pulih, persaingan produk di pasar tersebut juga semakin ketat. Akibatnya, ruang pertumbuhan penjualan menjadi lebih terbatas dibandingkan periode sebelumnya.
Karena itu, CGS International memangkas proyeksi penjualan Mayora untuk periode 2026 hingga 2027 sebesar 4 persen sampai 6 persen.
Tidak hanya itu, target harga saham MYOR juga diturunkan menjadi Rp2.170 per saham dari sebelumnya Rp2.740 per saham.
Meskipun begitu, lembaga riset tersebut masih mempertahankan rekomendasi add terhadap saham MYOR. Dalam terminologi riset pasar modal, rekomendasi add menunjukkan potensi imbal hasil lebih dari 10 persen dalam kurun waktu 12 bulan ke depan.
Keyakinan tersebut didukung oleh proyeksi pertumbuhan laba per saham atau earnings per share (EPS) Mayora yang diperkirakan mencapai 18 persen pada 2026.
Prospek Sektor Konsumer Tetap Menarik
Secara keseluruhan, saham consumer goods masih dinilai memiliki daya tarik di tengah ketidakpastian pasar. Sektor ini menawarkan karakter defensif karena produk yang dihasilkan tetap dibutuhkan masyarakat dalam berbagai kondisi ekonomi.
Sementara itu, tekanan pada sektor lain akibat risiko kebijakan membuat investor semakin selektif dalam menentukan pilihan investasi. Karena itu, saham-saham konsumer berpotensi menjadi tujuan aliran dana ketika volatilitas pasar meningkat.
Dengan valuasi yang lebih menarik dan prospek pertumbuhan yang masih terjaga, sektor consumer goods diperkirakan tetap menjadi salah satu pilihan utama investor dalam beberapa tahun ke depan.





