Pendapatan FORE Tembus Rp1 Triliun, Laba Bersih Tetap Tumbuh

Dwi Prakoso

Pendapatan FORE mencapai Rp1 triliun pada semester I 2026 dengan pertumbuhan penjualan minuman yang kuat.

RuangInvest.com, JakartaPendapatan FORE mencatat lonjakan signifikan pada semester pertama 2026. PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) berhasil membukukan pendapatan neto sebesar Rp1 triliun hingga 30 Juni 2026. Capaian tersebut meningkat 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp662 miliar.

Kinerja ini menunjukkan permintaan terhadap produk Fore Coffee masih tumbuh kuat. Penjualan minuman tetap menjadi kontributor utama pendapatan perseroan. Di sisi lain, ekspansi gerai dan meningkatnya aktivitas operasional turut mendorong kenaikan biaya usaha.

Laporan keuangan unaudited yang dirilis pada Senin (20/7/2026) juga memperlihatkan bahwa laba bersih FORE masih tumbuh. Namun, margin keuntungan mengalami sedikit penyusutan karena beban operasional meningkat cukup tinggi seiring ekspansi bisnis.

Pendapatan FORE Didominasi Penjualan Minuman

Segmen minuman masih menjadi tulang punggung bisnis perusahaan. Pendapatan dari kategori ini mencapai Rp884,2 miliar atau sekitar 80 persen dari total pendapatan semester pertama 2026.

Selain itu, segmen makanan memberikan kontribusi sebesar Rp119,7 miliar atau sekitar 11,9 persen dari total pendapatan. Sementara itu, pendapatan dari segmen lainnya mencapai Rp6 miliar.

Dominasi penjualan minuman menunjukkan bahwa strategi perusahaan dalam memperkuat merek dan memperluas jaringan gerai masih berjalan efektif. Permintaan konsumen yang tetap tinggi menjadi faktor utama pertumbuhan tersebut.

Peningkatan pendapatan juga mencerminkan keberhasilan perusahaan menjaga momentum pertumbuhan setelah melanjutkan ekspansi di berbagai wilayah Indonesia. Dengan demikian, FORE mampu mempertahankan tren pertumbuhan penjualan sepanjang semester pertama tahun ini.

Beban Operasional Naik, Margin Laba Sedikit Menyusut

Meski pendapatan melonjak, beban pokok penjualan ikut meningkat sebesar 51,4 persen menjadi Rp382,9 miliar. Namun, laba kotor tetap tumbuh 52 persen hingga mencapai Rp622 miliar dengan margin laba kotor sekitar 62 persen.

Di sisi lain, beban operasional meningkat lebih tinggi menjadi Rp539,8 miliar atau naik 48 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut berasal dari:

  • Beban penjualan sebesar Rp446,9 miliar.
  • Beban umum dan administrasi sebesar Rp92,8 miliar.

Karena itu, laba bersih yang diperoleh perusahaan tercatat sebesar Rp56,5 miliar. Nilai tersebut masih tumbuh sekitar 34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Meskipun begitu, margin laba bersih turun dari 6,3 persen menjadi 5,6 persen. Penurunan margin ini terutama disebabkan meningkatnya biaya operasional yang mengikuti laju ekspansi perusahaan.

Secara umum, kondisi tersebut masih tergolong wajar bagi perusahaan yang sedang berada dalam fase pertumbuhan. Investasi untuk memperluas bisnis biasanya akan meningkatkan biaya dalam jangka pendek sebelum memberikan hasil yang lebih besar pada periode berikutnya.

Arus Kas Operasi Tetap Positif

Selain mencatat pertumbuhan pendapatan, FORE juga membukukan arus kas operasi yang sehat. Arus kas dari aktivitas operasi mencapai Rp156,4 miliar atau naik sekitar 19,7 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Penerimaan kas dari pelanggan berhasil menembus Rp1 triliun. Sementara itu, pembayaran kepada pemasok, karyawan, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya mencapai Rp839 miliar.

Namun, posisi kas perusahaan mengalami penurunan selama semester pertama. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa aktivitas investasi dan pendanaan, antara lain:

  • Investasi sebesar Rp107 miliar.
  • Pembayaran sewa sekitar Rp90 miliar.
  • Pembayaran bunga dan beban keuangan sekitar Rp9 miliar.

Akibatnya, kas dan setara kas per 30 Juni 2026 berada di level Rp263,9 miliar. Walaupun turun dibandingkan awal tahun, posisi tersebut masih memberikan ruang likuiditas yang cukup untuk mendukung operasional perusahaan.

Prospek FORE bagi Investor

Kinerja semester pertama memperlihatkan bahwa FORE masih mampu menjaga pertumbuhan bisnis di tengah peningkatan biaya operasional. Pertumbuhan pendapatan sebesar 52 persen menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap produk perusahaan tetap kuat.

Selain itu, laba bersih yang masih bertumbuh menunjukkan ekspansi perusahaan belum mengganggu kemampuan menghasilkan keuntungan. Investor umumnya akan mencermati apakah kenaikan beban operasional mulai melambat pada semester berikutnya sehingga margin laba dapat kembali meningkat.

Di sisi lain, arus kas operasi yang positif menjadi indikator penting. Arus kas yang sehat dapat membantu perusahaan membiayai ekspansi tanpa terlalu bergantung pada pendanaan eksternal.

Ke depan, keberhasilan FORE meningkatkan efisiensi operasional akan menjadi faktor utama yang menentukan pertumbuhan laba. Jika perusahaan mampu mempertahankan pertumbuhan penjualan sekaligus mengendalikan biaya, potensi peningkatan profitabilitas masih terbuka.

Bagi investor, laporan keuangan semester pertama ini memberikan gambaran bahwa FORE masih berada pada jalur pertumbuhan. Meski margin laba sedikit tertekan, fundamental perusahaan tetap menunjukkan perkembangan positif. Oleh sebab itu, perkembangan penjualan, ekspansi gerai, serta efisiensi biaya pada semester kedua 2026 akan menjadi aspek penting yang layak dipantau sebelum mengambil keputusan investasi.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu