Kinerja UNTR Tertekan, Laba Bersih Turun 88 Persen di Semester I 2026

Dwi Prakoso

Aktivitas alat berat Komatsu milik PT United Tractors Tbk pada area pertambangan di Indonesia.

RuangInvest.com, JakartaKinerja UNTR Semester I 2026 mengalami tekanan cukup besar. PT United Tractors Tbk (UNTR), anggota Astra Group, membukukan pendapatan bersih sebesar Rp58,3 triliun atau turun 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan pendapatan tersebut berdampak langsung terhadap profitabilitas perusahaan. Laba bersih UNTR merosot tajam hingga 88 persen menjadi Rp956 miliar dari sebelumnya Rp8,13 triliun.

Selain perlambatan di sejumlah lini bisnis utama, perseroan juga harus menanggung beban non-rutin bernilai besar. Faktor tersebut membuat penurunan laba terlihat jauh lebih dalam dibandingkan penurunan pendapatannya.

Pendapatan dan Laba UNTR Tertekan Beban Non-Rutin

Dalam keterangan resmi yang disampaikan pada Kamis (30/7/2026), manajemen menjelaskan bahwa penurunan kinerja dipengaruhi berbagai faktor operasional dan pencatatan akuntansi.

UNTR mencatat pengeluaran non-recurring items sebesar Rp3,3 triliun. Beban tersebut berasal dari penurunan nilai investasi pada Supreme Geothermal Energy serta pembayaran denda terkait Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.

Namun, apabila beban non-rutin tersebut tidak diperhitungkan, laba bersih perusahaan sebenarnya mencapai sekitar Rp3,3 triliun. Meski demikian, angka itu tetap turun 48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, tekanan bisnis juga berasal dari penyesuaian alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nasional. Kebijakan tersebut memengaruhi aktivitas pertambangan batu bara sehingga berdampak pada penjualan alat berat hingga jasa kontraktor tambang.

Di sisi lain, penghentian operasional Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources ikut mengurangi volume penjualan emas sepanjang semester pertama tahun ini.

Segmen Alat Berat Turun Tajam

Segmen alat berat menjadi salah satu penyumbang terbesar penurunan kinerja.

Penjualan alat berat Komatsu tercatat hanya mencapai 1.994 unit atau turun 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan paling besar terjadi pada kategori big machine untuk sektor pertambangan. Penjualannya turun hingga 55 persen menjadi hanya 325 unit.

Kondisi tersebut dipengaruhi rendahnya alokasi RKAB batu bara nasional yang membuat permintaan alat berat ikut melemah.

Meskipun demikian, pendapatan dari penjualan suku cadang serta jasa pemeliharaan masih mampu meningkat tipis.

Rinciannya meliputi:

  • Penjualan alat berat Komatsu turun 27 persen menjadi 1.994 unit.
  • Penjualan big machine turun 55 persen menjadi 325 unit.
  • Pendapatan suku cadang dan jasa naik dari Rp5,4 triliun menjadi Rp5,5 triliun.
  • Total pendapatan segmen alat berat turun 28 persen menjadi Rp15 triliun.

Kontraktor Penambangan Masih Mencatat Pertumbuhan

Berbeda dengan segmen alat berat, bisnis kontraktor penambangan masih mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan.

Segmen ini dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) bersama PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining).

Selama semester pertama 2026, volume pemindahan tanah turun 10 persen menjadi 481 juta bcm. Produksi batu bara klien juga berkurang 3 persen menjadi 67 juta ton.

Penurunan volume tersebut mengikuti target produksi pelanggan yang telah disesuaikan berdasarkan RKAB terbaru.

Namun demikian, total pendapatan segmen kontraktor penambangan justru meningkat 4 persen menjadi Rp27,2 triliun.

Peningkatan tersebut terutama didukung penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

Selain itu, PAMA terus memperluas bisnis ke sektor mineral.

Langkah ekspansi yang sedang dilakukan meliputi:

  • Pengembangan proyek pertambangan emas.
  • Ekspansi bisnis nikel.
  • Diversifikasi portofolio di luar batu bara.
  • Penguatan fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Penjualan Batu Bara dan Emas Sama-Sama Menurun

Segmen pertambangan batu bara yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung (Turangga Resources) juga mengalami perlambatan.

Volume penjualan batu bara mencapai 6 juta ton, termasuk 1,6 juta ton batu bara metalurgi.

Angka tersebut turun sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Akibatnya, pendapatan segmen batu bara ikut turun 4 persen menjadi Rp12,9 triliun.

Sementara itu, tekanan paling berat terjadi pada bisnis pertambangan emas.

Pendapatan segmen pertambangan emas dan mineral lainnya merosot hingga 66 persen menjadi Rp2,4 triliun.

Penjualan emas bahkan turun 82 persen.

PT Agincourt Resources bersama PT Sumbawa Jutaraya hanya membukukan penjualan setara emas sebanyak 23 ribu ons hingga semester pertama 2026.

Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu total penjualan mencapai sekitar 125 ribu ons.

Di sisi lain, bisnis nikel masih menunjukkan aktivitas operasional yang berjalan.

PT Stargate Pasific Resources mencatat penjualan bijih nikel sebesar 886 ribu wet metric ton (wmt), terdiri atas:

  • 260 ribu wmt saprolit.
  • 626 ribu wmt limonit.

Selain itu, Nickel Industries Limited (NIC), yang dimiliki UNTR sebesar 20,13 persen, melaporkan penjualan nickel metal sebanyak 61.622 ton selama kuartal IV 2025 hingga kuartal I 2026 dari fasilitas pengolahan RKEF yang beroperasi di Indonesia.

Prospek UNTR Masih Didukung Diversifikasi Bisnis

Meski Kinerja UNTR Semester I 2026 mengalami tekanan signifikan, prospek jangka menengah perusahaan masih memiliki sejumlah penopang.

Diversifikasi bisnis menjadi salah satu kekuatan utama UNTR. Perseroan tidak hanya bergantung pada alat berat dan batu bara, tetapi juga memperluas portofolio ke sektor emas, nikel, serta energi.

Selain itu, ekspansi PAMA ke sektor mineral berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru ketika permintaan batu bara belum sepenuhnya pulih.

Apabila alokasi RKAB kembali meningkat dan operasional tambang emas kembali normal, pendapatan UNTR berpeluang membaik pada periode berikutnya.

Bagi investor, perhatian utama tetap tertuju pada pemulihan volume produksi batu bara, perkembangan bisnis nikel, serta kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas setelah beban non-rutin tidak lagi membebani laporan keuangan. Diversifikasi usaha yang terus dijalankan juga menjadi faktor penting yang dapat mendukung pertumbuhan kinerja UNTR dalam jangka panjang.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu