Net Sell Asing Rp7,39 Triliun, IHSG Terancam Uji Level 5.500

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – Net Sell Asing Rp7,39 Triliun menjadi sorotan utama pasar modal Indonesia setelah investor asing membukukan aksi jual bersih besar-besaran di pasar reguler selama sepekan terakhir. Tekanan tersebut turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Gelombang pelepasan saham oleh investor asing terjadi di tengah meningkatnya sentimen negatif yang membayangi pasar domestik. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mengambil langkah lebih konservatif dalam mengelola portofolio investasi mereka.

Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), IHSG ditutup melemah 4,20 persen ke posisi 5.594,77. Secara mingguan, indeks terkoreksi hingga 8,69 persen dan mencatatkan posisi terendah sejak akhir 2020.

Net Sell Asing Rp7,39 Triliun Tekan Pasar Saham

Aksi jual investor asing senilai Rp7,39 triliun menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan IHSG sepanjang pekan. Mayoritas dana asing keluar dari saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang indeks.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten dengan nilai jual bersih asing terbesar. Investor asing mencatatkan net sell mencapai Rp2,29 triliun pada saham perbankan tersebut.

Sejalan dengan derasnya tekanan jual, saham BBCA terkoreksi 10,96 persen dalam sepekan. Harga sahamnya ditutup di level Rp5.075 per lembar pada akhir perdagangan Jumat.

Posisi kedua ditempati PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Emiten milik Prajogo Pangestu tersebut mencatatkan net sell asing sebesar Rp2,01 triliun.

Tekanan terhadap TPIA bahkan lebih dalam. Sahamnya anjlok 26,89 persen selama sepekan dan berakhir pada level Rp1.305 per saham.

Deretan Saham yang Banyak Dilepas Investor Asing

Selain BBCA dan TPIA, sejumlah saham unggulan lain juga mengalami tekanan jual yang cukup besar dari investor asing.

Berikut daftar delapan saham dengan nilai net sell asing terbesar selama sepekan:

  • BBCA: Rp2,29 triliun
  • TPIA: Rp2,01 triliun
  • BBRI: Rp1,03 triliun
  • BMRI: Rp399,53 miliar
  • ASII: Rp382,97 miliar
  • DSSA: Rp283,13 miliar
  • BBNI: Rp273,14 miliar
  • ANTM: Rp266,37 miliar

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net sell sebesar Rp1,03 triliun. Sementara itu, harga saham BBRI turun 7,12 persen dalam sepekan menjadi Rp2.740 per saham.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga tidak luput dari tekanan. Saham bank pelat merah tersebut melemah 5,88 persen ke level Rp3.840 setelah investor asing melakukan jual bersih senilai Rp399,53 miliar.

Di sisi lain, PT Astra International Tbk (ASII) mengalami net sell Rp382,97 miliar. Sahamnya turun 8,60 persen menjadi Rp4.570 per lembar.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turut masuk daftar dengan net sell Rp273,14 miliar. Saham BBNI terkoreksi 13,24 persen dan ditutup di level Rp3.210.

Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat net sell Rp266,37 miliar. Harga saham ANTM turun 5,17 persen menjadi Rp2.750 per saham.

DSSA Jadi Pengecualian di Tengah Tekanan Pasar

Di tengah dominasi pelemahan saham akibat aksi jual asing, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi pengecualian yang menarik perhatian pasar.

Meski investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp283,13 miliar, saham DSSA justru melonjak 23,98 persen dalam sepekan. Harga sahamnya ditutup di level Rp610 per lembar.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan saham tertentu masih dipengaruhi faktor internal perusahaan maupun sentimen sektoral yang berbeda dari kondisi pasar secara umum.

Faktor Pemicu Tekanan di Pasar Modal

Menurut Phintraco Sekuritas, tekanan jual yang terjadi dipicu oleh sejumlah sentimen domestik. Salah satunya adalah rencana revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

Pasar menilai revisi tersebut berpotensi menimbulkan kekhawatiran terhadap independensi lembaga keuangan. Karena itu, sebagian investor memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Selain itu, kondisi fiskal juga menjadi perhatian pelaku pasar. Kementerian Keuangan melaporkan realisasi APBN hingga Mei 2026 mengalami defisit Rp180,4 triliun atau setara 0,7 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Angka tersebut meningkat dibandingkan defisit Rp20,9 triliun atau 0,09 persen dari PDB pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun demikian, posisi tersebut masih jauh di bawah target defisit APBN 2026 sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.

Di pasar valuta asing, tekanan juga terlihat pada nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,46 persen ke level Rp18.049 per dolar Amerika Serikat.

Pelemahan rupiah yang berlanjut memunculkan spekulasi bahwa Bank Indonesia dapat menggelar Rapat Dewan Gubernur di luar jadwal sebelum pertemuan resmi pada 17-18 Juni 2026.

IHSG Berpotensi Uji Level 5.500 Pekan Depan

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi penting yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

Beberapa agenda ekonomi yang akan dicermati antara lain:

  • Data cadangan devisa Mei 2026 pada 8 Juni.
  • Indeks kepercayaan konsumen Mei 2026 pada 10 Juni.
  • Data penjualan ritel April 2026 pada 11 Juni.

Data-data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur kondisi ekonomi domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.

Phintraco Sekuritas menilai tekanan terhadap pasar saham masih cukup kuat. Selain minim katalis positif, sentimen negatif juga masih mendominasi pergerakan pasar.

Karena itu, Net Sell Asing Rp7,39 Triliun masih berpotensi menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan IHSG dalam waktu dekat. Jika tekanan jual berlanjut, indeks diperkirakan dapat menguji area psikologis 5.500 pada pekan depan.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu