RuangInvest.com, Jakarta – Laba Bersih PGEO Naik 15,48 persen secara tahunan pada Semester I 2026. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berhasil membukukan laba bersih sebesar USD79,62 juta, didorong pertumbuhan produksi listrik panas bumi serta peningkatan pendapatan perusahaan.
Kinerja positif tersebut menunjukkan bahwa strategi bisnis yang dijalankan perseroan mampu memberikan hasil yang konsisten. Selain itu, kondisi keuangan yang semakin sehat turut memperkuat posisi PGEO sebagai salah satu emiten energi baru terbarukan (EBT) terbesar di Indonesia.
Sementara itu, momentum pertumbuhan ini hadir ketika pemerintah terus mempercepat transisi menuju energi bersih. Dukungan kebijakan melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 juga membuka peluang pertumbuhan yang lebih besar bagi industri panas bumi.
Laba Bersih PGEO Naik Berkat Pendapatan dan Produksi
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk mencatat pendapatan sebesar USD235,027 juta pada Semester I 2026. Nilai tersebut meningkat 14,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai USD204,850 juta.
Direktur Keuangan PGEO, Fransetya Hasudungan Hutabarat, mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil dari strategi bisnis yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Menurutnya, kenaikan pendapatan didukung oleh meningkatnya produksi listrik panas bumi, keandalan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan dari selisih kurs yang positif.
Di sisi lain, total produksi listrik PGEO mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh). Angka itu meningkat 13,62 persen dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar 2.416 GWh.
Pertumbuhan produksi tersebut menunjukkan bahwa aset pembangkit yang dimiliki PGEO mampu beroperasi secara optimal. Karena itu, perusahaan berhasil meningkatkan pendapatan sekaligus menjaga profitabilitas.
Struktur Keuangan Semakin Kokoh
Selain mencatat pertumbuhan laba, PGEO juga memperlihatkan kondisi keuangan yang semakin solid.
Ekuitas perusahaan tercatat sebesar USD2,006 miliar pada Semester I 2026. Nilai tersebut mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban sekaligus menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.
Sementara itu, liabilitas turun 2,80 persen dibandingkan posisi akhir 2025 menjadi USD961,184 juta.
Penurunan liabilitas tersebut berdampak positif terhadap struktur permodalan perusahaan. Selain memperkuat neraca keuangan, langkah ini juga membantu menurunkan risiko finansial di tengah kebutuhan investasi yang terus meningkat.
Fransetya menambahkan bahwa tahun 2026 menjadi momen bersejarah karena menandai 100 tahun perjalanan panas bumi di Indonesia. Menurutnya, tonggak sejarah tersebut menjadi pengingat pentingnya inovasi dan kolaborasi dalam mempercepat pengembangan energi bersih nasional.
PGEO Optimistis Dukung Target Energi Bersih Nasional
Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menegaskan bahwa panas bumi merupakan salah satu sumber energi yang memiliki peran strategis dalam sistem kelistrikan nasional.
Menurutnya, energi panas bumi memiliki karakteristik bersih, andal, serta mampu memasok listrik secara berkelanjutan atau baseload. Karena itu, sumber energi ini dinilai sangat penting dalam mendukung transisi energi Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa perjalanan panas bumi Indonesia dimulai dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat, sekitar satu abad lalu. Kini, PGEO mengelola sekitar 70 persen kapasitas panas bumi nasional dan menjadikan Kamojang sebagai salah satu aset strategis perusahaan.
Ahmad Yani menilai satu abad perjalanan panas bumi bukan sekadar mengenang sejarah. Namun, momentum tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki sumber energi bersih yang mampu memperkuat ketahanan energi nasional pada masa depan.
Target Kapasitas Terpasang Terus Bertambah
Perkembangan sektor energi baru terbarukan juga semakin didukung oleh kebijakan pemerintah.
Dalam RUPTL PLN 2025-2034, porsi pembangkit berbasis energi baru terbarukan ditargetkan mencapai 76 persen. Dari target tersebut, panas bumi diharapkan memberikan tambahan kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW).
Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, PGEO menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 GW pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2033.
Saat ini, perusahaan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang sebesar 727 megawatt (MW). Kapasitas tersebut telah memberikan kontribusi besar terhadap pasokan listrik di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan menguasai sekitar 70 persen kapasitas panas bumi nasional, PGEO optimistis dapat menjadi salah satu motor utama pengembangan energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Prospek PGEO untuk Investor
Kinerja Semester I 2026 memberikan sejumlah sinyal positif bagi investor yang mencermati saham PGEO.
Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain:
- Laba bersih tumbuh 15,48 persen secara tahunan.
- Pendapatan meningkat 14,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
- Produksi listrik naik 13,62 persen.
- Liabilitas menurun sehingga struktur modal semakin sehat.
- Target ekspansi kapasitas hingga 1,8 GW pada 2033 membuka ruang pertumbuhan jangka panjang.
- Dukungan pemerintah terhadap pengembangan energi baru terbarukan berpotensi meningkatkan permintaan listrik berbasis panas bumi.
Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan proyek ekspansi, realisasi target kapasitas, kondisi nilai tukar, serta kebijakan sektor energi yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan ke depan.
Secara keseluruhan, hasil Semester I 2026 memperlihatkan bahwa PGEO berhasil menjaga pertumbuhan pendapatan, meningkatkan laba, serta memperkuat fundamental keuangan. Dengan prospek industri energi bersih yang terus berkembang, emiten ini masih memiliki peluang untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang apabila mampu mengeksekusi rencana ekspansinya secara konsisten.





