RuangInvest.com, Jakarta – Kinerja INDY Menguat pada kuartal I-2026 seiring membaiknya profitabilitas dan semakin jelasnya arah transformasi bisnis PT Indika Energy Tbk (INDY). Perseroan mulai menunjukkan hasil dari strategi diversifikasi yang tidak lagi bergantung pada bisnis batu bara.
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas yang diterbitkan pada Kamis (23/7/2026), INDY berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp118,3 miliar pada kuartal I-2026. Capaian tersebut mencerminkan perbaikan kinerja operasional di tengah proses transformasi bisnis yang terus berjalan.
Selain mencatat kenaikan laba, perusahaan juga memperlihatkan peningkatan margin keuntungan dan EBITDA. Di sisi lain, proyek-proyek non-batubara mulai menjadi perhatian investor karena dinilai berpotensi menjadi sumber pertumbuhan jangka panjang.
Laba Bersih dan Profitabilitas Meningkat
PT Indika Energy Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp118,3 miliar pada kuartal I-2026. Nilai tersebut meningkat 27,1 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Secara tahunan, laba bersih melonjak 145,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp48,1 miliar. Peningkatan ini menunjukkan adanya pemulihan yang cukup signifikan.
Sementara itu, pendapatan perseroan mencapai Rp8,31 triliun. Angka tersebut tumbuh 2,3 persen dibandingkan kuartal I-2025. Namun, jika dibandingkan kuartal IV-2025, pendapatan masih turun sekitar 17 persen.
Meski pendapatan secara kuartalan menurun, profitabilitas justru mengalami perbaikan. Laba kotor meningkat 18 persen menjadi Rp1,25 triliun dengan margin laba kotor mencapai 15 persen.
Selain itu, EBITDA naik 40,7 persen secara tahunan menjadi Rp636 miliar. Secara kuartalan, EBITDA juga tumbuh 10,5 persen sehingga margin EBITDA meningkat menjadi 7,7 persen.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, kenaikan margin tersebut mencerminkan proses pemulihan operasional yang mulai berjalan efektif. Efisiensi biaya dan strategi diversifikasi dinilai mulai memberikan hasil positif.
Transformasi Bisnis Non-Batubara Semakin Jelas
Transformasi bisnis menjadi fokus utama Indika Energy dalam beberapa tahun terakhir. Perseroan menargetkan sekitar 50 persen pendapatan berasal dari bisnis non-batubara pada 2028.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis batu bara yang selama ini menjadi penyumbang utama pendapatan perusahaan.
Salah satu proyek strategis yang menjadi tulang punggung transformasi adalah tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan.
Hingga Oktober 2025, progres konstruksi proyek tersebut telah mencapai sekitar 43 persen. Perseroan menargetkan uji coba produksi dimulai pada akhir 2026.
Apabila berjalan sesuai rencana, produksi komersial Awak Mas akan dimulai pada kuartal I-2027. Momen tersebut diperkirakan menjadi tonggak penting dalam perubahan model bisnis INDY.
Total investasi proyek Awak Mas diperkirakan mencapai sekitar USD429 juta. Pekerjaan konstruksi utama dikerjakan oleh Macmahon melalui kontrak senilai AUD463 juta.
Sementara itu, pada 2026 perseroan mengalokasikan belanja modal sekitar Rp445 miliar untuk mendukung pengembangan bisnis non-batubara.
Dana tersebut digunakan untuk investasi sekitar USD20,4 juta pada proyek Awak Mas. Selain itu, sekitar USD5,8 juta dialokasikan untuk berbagai proyek energi hijau.
Di sisi lain, perusahaan juga tetap melanjutkan pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV) serta energi baru terbarukan (EBT). Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang menuju perusahaan energi yang lebih terdiversifikasi.
Valuasi Saham dan Prospek INDY
Dari sisi valuasi, saham INDY saat ini diperdagangkan pada price to book value (PBV) sekitar 0,81 kali. Nilai tersebut menunjukkan harga saham masih berada di bawah nilai bukunya.
Sementara itu, rasio price to earnings (PE) berada di kisaran 34 kali. Angka tersebut mencerminkan ekspektasi investor terhadap pertumbuhan laba di masa mendatang.
BRI Danareksa Sekuritas menilai kisaran target harga konsensus saham INDY berada pada level Rp3.300 hingga Rp3.750 per saham.
Menurut riset tersebut, cerita investasi INDY kini tidak lagi hanya bergantung pada bisnis batu bara. Sebaliknya, perhatian pasar mulai tertuju pada keberhasilan transformasi menuju perusahaan energi yang lebih beragam.
Proyek emas Awak Mas dipandang sebagai mesin pertumbuhan baru. Apalagi, harga emas global masih berada di kisaran USD4.000 per troy ons sehingga memberikan prospek yang menarik bagi proyek tersebut.
Meskipun PBV di bawah satu kali memberikan bantalan valuasi, tingginya rasio PE menunjukkan bahwa pasar mulai memberikan premi terhadap prospek transformasi perusahaan.
Karena itu, dimulainya produksi komersial Awak Mas pada kuartal I-2027 diperkirakan menjadi katalis utama yang berpotensi mendorong re-rating saham INDY. Jika proyek berjalan sesuai target, transformasi Indika Energy berpeluang menciptakan sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap siklus industri batu bara.










