IHSG Tertekan, Phintraco Soroti Risiko Pasar Saham Indonesia 2026

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – IHSG tertekan sepanjang 2026 seiring meningkatnya ketidakpastian global dan domestik yang memengaruhi sentimen investor. Kondisi tersebut membuat pasar saham Indonesia masih bergerak dalam tekanan dan belum menunjukkan tanda pemulihan yang kuat.

Volatilitas pasar diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat serta konflik geopolitik menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah dan sejumlah kebijakan domestik turut menambah tekanan terhadap pasar keuangan nasional. Investor kini menunggu berbagai agenda penting yang berpotensi menentukan arah pasar pada semester kedua tahun ini.

IHSG Tertekan Akibat Kombinasi Sentimen Global dan Domestik

Analis Phintraco Sekuritas menilai pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan berat. Dalam laporan strategi bulanan yang dirilis pada Rabu (3/6/2026), perusahaan sekuritas tersebut menyebut kondisi global masih relatif tangguh meskipun dibayangi berbagai risiko.

Ketahanan ekonomi dunia didukung oleh harga minyak yang cenderung stabil. Di sisi lain, aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan performa yang kuat. Data sektor manufaktur dan jasa juga memperlihatkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya.

Namun, tekanan inflasi di Amerika Serikat kembali meningkat akibat naiknya biaya energi. Meski begitu, pasar tenaga kerja yang tetap solid membuat risiko resesi menjadi lebih rendah.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve atau The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Kebijakan higher for longer itu menjadi salah satu faktor yang membebani arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi sumber ketidakpastian. Gangguan aktivitas di kawasan strategis seperti Selat Hormuz sempat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas perdagangan dan pasokan energi global.

Rupiah Melemah dan BI Rate Naik

Di dalam negeri, perekonomian Indonesia sebenarnya masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik pada kuartal pertama 2026. Konsumsi rumah tangga tetap kuat dan belanja pemerintah meningkat.

Selain itu, aktivitas manufaktur yang mulai pulih turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, berbagai tekanan eksternal membuat kondisi pasar keuangan belum stabil.

Rupiah menjadi salah satu indikator yang mendapat sorotan. Pada Kamis (4/6/2026), nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp18.049 per dolar AS, yang menjadi salah satu level terlemah dalam beberapa tahun terakhir.

Arus keluar modal asing dan melebarnya defisit neraca pembayaran juga menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi. Karena itu, Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen.

Kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan risiko inflasi. Namun, kenaikan suku bunga juga berpotensi menekan aktivitas investasi dan pasar saham dalam jangka pendek.

Penurunan IHSG Jadi Sorotan Investor

Tekanan yang terjadi di pasar keuangan tercermin pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan. Phintraco mencatat IHSG telah turun 32,46 persen sepanjang tahun berjalan hingga Kamis (4/6).

Posisi indeks berada di kisaran 5.839,78 atau mendekati level terendah sejak Mei 2021. Penurunan tersebut menjadi salah satu koreksi terdalam dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Phintraco, pelemahan indeks tidak hanya dipengaruhi satu faktor. Ada beberapa sentimen yang bekerja secara bersamaan sehingga meningkatkan tekanan jual di pasar.

Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan IHSG antara lain:

  • Pelemahan nilai tukar rupiah.
  • Kenaikan suku bunga Bank Indonesia.
  • Arus keluar dana investor asing.
  • Rebalancing indeks MSCI.
  • Rebalancing indeks FTSE Russell.
  • Ketidakpastian sejumlah kebijakan pemerintah.
  • Meningkatnya risiko geopolitik global.

Karena itu, pelaku pasar masih cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

MSCI dan FTSE Jadi Agenda Penting Pasar

Perhatian investor saat ini tertuju pada sejumlah agenda pasar modal global. Salah satu yang paling dinantikan adalah hasil MSCI Global Market Accessibility Review yang dijadwalkan sekitar 18 Juni 2026.

Selain itu, MSCI juga akan merilis Annual Market Classification Review sekitar 23 Juni 2026. Keputusan tersebut dinilai penting karena dapat memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar Indonesia.

Sebelumnya, MSCI menyampaikan beberapa catatan terkait transparansi kepemilikan saham dan likuiditas sejumlah emiten. Lembaga indeks global tersebut bahkan membuka kemungkinan peninjauan status Indonesia sebagai pasar berkembang atau emerging market.

Pada April 2026, MSCI memutuskan memperpanjang masa evaluasi hingga Juni sebelum mengumumkan keputusan final. Karena itu, pasar menunggu hasil penilaian tersebut dengan penuh perhatian.

Selain MSCI, investor juga mencermati rebalancing FTSE Russell, implementasi kebijakan ekspor, serta rencana revisi tarif royalti sektor pertambangan yang dapat memengaruhi kinerja sejumlah emiten.

Sektor Saham yang Direkomendasikan

Meskipun IHSG tertekan, Phintraco masih melihat peluang investasi pada beberapa sektor yang dinilai memiliki prospek menarik.

Sektor-sektor yang direkomendasikan meliputi:

  • Perbankan.
  • Minyak dan gas.
  • Makanan dan minuman.
  • Pertambangan logam.
  • Semen.

Menurut Phintraco, sektor tersebut berpotensi mendapatkan dukungan dari pertumbuhan laba emiten yang masih positif sepanjang 2026.

Prospek Pasar Saham Indonesia Masih Terbuka

Di tengah berbagai tekanan yang terjadi, prospek pasar saham Indonesia belum sepenuhnya suram. Fundamental ekonomi domestik masih relatif kuat dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya.

Konsumsi masyarakat yang terjaga, belanja pemerintah yang meningkat, dan aktivitas industri yang membaik menjadi faktor penopang utama. Selain itu, pertumbuhan laba perusahaan terbuka masih berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar.

Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan suku bunga global, pergerakan rupiah, serta hasil evaluasi MSCI dalam beberapa pekan mendatang. Faktor-faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan IHSG pada paruh kedua 2026.

Dengan berbagai tantangan yang masih ada, pelaku pasar diharapkan tetap selektif dalam memilih saham dan menerapkan strategi investasi yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu