IHSG Menguat 3,14 Persen, Saham Big Cap Jadi Penopang

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – IHSG menguat pada perdagangan Rabu (10/6/2026) dan melanjutkan tren rebound yang sudah terlihat sejak sesi sebelumnya. Penguatan ini menjadi sinyal positif setelah pasar saham Indonesia mengalami tekanan cukup dalam selama beberapa hari terakhir.

Hingga pukul 09.53 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat naik 3,14 persen ke level 5.926,87. Sebelumnya, pada perdagangan Selasa (9/6/2026), indeks utama Bursa Efek Indonesia tersebut melonjak hingga 7,57 persen.

Kenaikan ini menjadi upaya pasar untuk mengakhiri tren negatif yang berlangsung selama empat hari berturut-turut pada periode 3 hingga 9 Juni 2026. Sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big cap menjadi motor utama yang mendorong penguatan indeks.

IHSG Menguat Berkat Kinerja Saham Perbankan

Sektor perbankan menjadi salah satu pendorong utama penguatan pasar. Saham bank-bank besar kompak mencatat kenaikan signifikan dan memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan indeks.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 7,28 persen ke level Rp5.525 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melonjak 8,56 persen menjadi Rp3.550 per saham.

Tidak hanya itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga menguat 3,58 persen ke posisi Rp2.890 per saham. Adapun saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) bertambah 3,18 persen menjadi Rp4.220 per saham.

Kenaikan saham-saham perbankan tersebut menjadi katalis penting bagi pasar. Selain memiliki kapitalisasi besar, sektor perbankan juga menjadi salah satu indikator utama kondisi ekonomi nasional.

Saham Konglomerasi dan Teknologi Ikut Melonjak

Selain sektor perbankan, kelompok saham konglomerasi turut memberikan dorongan signifikan terhadap IHSG menguat pada perdagangan hari ini.

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang merupakan bagian dari Grup Sinarmas melesat 20 persen ke level Rp810 per saham. Kenaikan tersebut menjadi salah satu yang tertinggi di antara saham-saham berkapitalisasi besar.

Di sisi lain, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 14,16 persen ke posisi Rp1.895 per saham. Sementara itu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menguat 5,13 persen menjadi Rp4.300 per saham.

Dari sektor teknologi dan pusat data, saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) juga mencuri perhatian. Saham yang terafiliasi dengan pengusaha Anthoni Salim tersebut melonjak 9,39 persen ke level Rp189.800 per saham.

Karena bobot kapitalisasi pasar yang besar, kenaikan saham-saham tersebut memberikan dampak langsung terhadap penguatan indeks secara keseluruhan.

Sentimen Positif Datang dari Kebijakan Bank Indonesia

Meskipun IHSG menguat dalam dua hari terakhir, posisi indeks masih berada dalam fase pemulihan. Secara mingguan, IHSG masih turun 4,25 persen.

Selain itu, indeks masih melemah 14,87 persen dalam satu bulan terakhir. Secara year to date (YTD), koreksi bahkan mencapai 31,40 persen.

Sebelumnya, pasar saham domestik menghadapi berbagai tekanan. Beberapa faktor yang membebani pasar antara lain:

  • Aksi jual investor asing atau outflow.
  • Peringatan terkait transparansi pasar dari MSCI.
  • Tinjauan FTSE Russell terhadap pasar Indonesia.
  • Pelemahan nilai tukar rupiah.
  • Ketidakpastian kebijakan domestik.
  • Meningkatnya tensi geopolitik global.

Namun, sentimen pasar mulai membaik setelah Bank Indonesia mengambil langkah stabilisasi. BI menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Menurut Phintraco Sekuritas, keputusan tersebut mendapat respons positif dari pelaku pasar. Selain itu, nilai tukar rupiah juga menguat sekitar 0,65 persen ke level Rp18.065 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan target inflasi 2026-2027 tetap tercapai.

Selain menaikkan BI Rate, bank sentral juga meningkatkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan. Kebijakan lain berupa penurunan biaya hedging swap bagi investor asing sebesar 10 persen juga diterapkan.

Tidak hanya itu, BI kembali membuka lelang instrumen repo untuk berbagai tenor serta meningkatkan operasi moneter rupiah dan valuta asing guna menjaga stabilitas pasar keuangan.

Peluang Pemulihan Pasar Masih Terbuka

Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas melihat sejumlah sinyal positif mulai muncul pada pergerakan IHSG.

Indeks berhasil kembali ditutup di atas rata-rata pergerakan 200 bulan atau MA200 monthly. Selain itu, pada grafik harian, IHSG juga berhasil berada di atas MA5 dan menutup gap yang terbentuk pada perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, indikator Stochastic RSI telah membentuk golden cross di area oversold. Kondisi tersebut sering dianggap sebagai sinyal awal potensi pembalikan arah atau rebound pasar.

Dengan perkembangan tersebut, Phintraco memperkirakan IHSG bergerak pada rentang 5.600 hingga 5.850 dalam jangka pendek.

Selain dukungan dari Bank Indonesia, pasar juga memperoleh sentimen positif dari langkah DPR yang berkoordinasi dengan sejumlah institusi besar. Beberapa pihak yang terlibat antara lain Danantara, BPJS Ketenagakerjaan, PT Taspen (Persero), serta bank-bank Himbara.

Salah satu opsi yang tengah dibahas adalah rencana buyback saham perbankan BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Langkah tersebut dinilai dapat membantu menjaga kepercayaan investor sekaligus mendukung stabilitas pasar modal nasional.

Dengan kombinasi sentimen positif tersebut, pelaku pasar kini berharap tren IHSG menguat dapat berlanjut dan menjadi awal pemulihan yang lebih solid setelah tekanan besar yang terjadi sepanjang tahun 2026.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu