RuangInvest.com, Jakarta – IHSG berpeluang naik menuju fase normalisasi setelah mengalami koreksi tajam lebih dari 41 persen dari level tertingginya pada awal tahun 2026. Sejumlah indikator teknikal menunjukkan tekanan jual mulai mereda dan peluang pemulihan pasar semakin terbuka.
Riset terbaru Henan Putihrai Sekuritas menyebutkan bahwa fase penurunan atau descend yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir diperkirakan telah berakhir. Setelah menyentuh titik terendah pada awal Juni, pasar saham Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang cukup kuat.
Meski demikian, perjalanan menuju fase normalisasi masih menghadapi sejumlah tantangan. Investor tetap perlu mencermati berbagai faktor eksternal dan domestik yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar dalam beberapa bulan ke depan.
IHSG Berpeluang Naik Hingga 18,2 Persen
Dalam riset yang dirilis pada 15 Juni 2026, Henan Putihrai Sekuritas mencatat bahwa IHSG telah terkoreksi sebesar 41,72 persen dari puncaknya di level 9.134,70 pada Januari 2026 hingga menyentuh level terendah 5.324,14 pada 8 Juni 2026.
Penurunan tersebut menjadikan koreksi kali ini sebagai yang terdalam ketiga dalam sejarah pasar modal Indonesia sejak tahun 2000. Namun setelah mencapai titik terendah, IHSG langsung bangkit dan menguat sekitar 10,9 persen hanya dalam dua hari perdagangan.
Indeks kemudian ditutup di level 5.902,38. Menurut Henan, rebound yang terjadi dalam waktu singkat menjadi indikasi kuat bahwa fase penurunan telah berakhir.
Dalam kajiannya, Henan menyebut berakhirnya fase descend kali ini berbeda dibandingkan siklus sebelumnya. Jika pada periode terdahulu pemulihan sering dipicu perubahan kebijakan suku bunga, kali ini faktor utamanya adalah meredanya tekanan jual setelah aksi net foreign sell mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Berdasarkan analisis historis terhadap tujuh siklus koreksi besar yang pernah terjadi di Indonesia, pasar biasanya memasuki fase normalisasi setelah fase penurunan selesai. Pada tahap ini, indeks bergerak menuju titik tengah antara level terendah dan puncak sebelumnya.
Henan menghitung target teknikal fase normalisasi berada di level 7.229,42. Dari posisi pembukaan IHSG pada 15 Juni 2026 di level 6.118,72, indeks masih memiliki potensi kenaikan sekitar 18,2 persen.
Faktor Penentu Pemulihan Pasar Saham
Meskipun prospek pemulihan mulai terlihat, terdapat sejumlah faktor penting yang masih akan menentukan keberhasilan fase normalisasi tersebut.
Salah satu perhatian utama investor adalah keputusan MSCI terkait status Indonesia dalam indeks pasar negara berkembang atau Emerging Market. Keputusan tersebut dijadwalkan diumumkan pada 18 Juni 2026 dan dinilai dapat menjadi katalis penting bagi pergerakan pasar.
Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi indikator yang perlu diperhatikan. Rupiah yang stabil berpotensi meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan domestik.
Sementara itu, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia juga akan menjadi faktor krusial. Kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi dapat membantu memperkuat sentimen positif di pasar saham.
Tiga Indikator Utama yang Dipantau Investor
Beberapa indikator yang saat ini menjadi fokus pelaku pasar antara lain:
- Keputusan MSCI terkait status Indonesia.
- Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
- Arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
- Arus dana asing ke pasar saham domestik.
- Kondisi ekonomi global dan sentimen perdagangan internasional.
Menurut Henan, kombinasi faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama keberlanjutan pemulihan pasar dalam jangka pendek hingga menengah.
Sejarah Membuktikan IHSG Selalu Pulih
Riset tersebut juga mengungkap fakta menarik mengenai perjalanan pasar modal Indonesia selama lebih dari dua dekade terakhir. Sepanjang sejarah, tujuh siklus koreksi besar yang telah selesai selalu diikuti fase pemulihan hingga indeks mampu menembus level tertinggi sebelumnya.
Siklus pertama terjadi pada 2002 akibat dampak pecahnya gelembung saham teknologi atau dot-com bubble yang diperparah oleh peristiwa Bom Bali. Pada periode tersebut, IHSG turun sekitar 38,8 persen dalam waktu hampir enam bulan.
Koreksi terdalam terjadi pada 2008 saat Krisis Keuangan Global yang dipicu runtuhnya Lehman Brothers. Kala itu IHSG anjlok hingga 60,7 persen dalam kurun waktu sekitar 9,6 bulan.
Selanjutnya, pasar kembali mengalami tekanan pada 2011 akibat Krisis Utang Eropa dan gejolak global yang dikenal sebagai Black Monday. Meski demikian, penurunannya relatif lebih ringan dengan koreksi sekitar 22 persen.
Pada 2013, pasar menghadapi Taper Tantrum setelah bank sentral Amerika Serikat memberikan sinyal pengurangan stimulus moneter. Kondisi tersebut membuat IHSG terkoreksi sekitar 23,9 persen.
Kemudian pada 2015, devaluasi yuan oleh China memicu tekanan di pasar keuangan global dan menyeret IHSG turun 25,4 persen. Sementara itu, pandemi Covid-19 pada 2020 menyebabkan koreksi cepat sebesar 37,7 persen hanya dalam waktu 2,3 bulan.
Siklus koreksi ketujuh terjadi pada 2025 akibat kebijakan tarif perdagangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memicu ketidakpastian global. Pada periode tersebut, IHSG mengalami penurunan sekitar 24,5 persen selama 6,6 bulan.
Investor Tetap Perlu Waspada
Walaupun peluang pemulihan semakin terbuka dan target normalisasi terlihat realistis, investor tetap disarankan menjaga disiplin investasi.
Ketidakpastian pasar masih cukup tinggi, terutama menjelang pengumuman MSCI yang berpotensi memengaruhi sentimen investor secara signifikan. Selain itu, perkembangan ekonomi global masih menjadi faktor risiko yang perlu dicermati.
Namun, berdasarkan pola historis yang telah terjadi berulang kali, pasar saham Indonesia memiliki rekam jejak pemulihan yang kuat setelah melewati fase koreksi besar. Karena itu, banyak pelaku pasar mulai melihat peluang baru seiring munculnya sinyal berakhirnya tekanan jual.
Apabila faktor-faktor pendukung berjalan sesuai harapan, fase normalisasi diperkirakan dapat berlangsung antara 3,9 hingga 7 bulan. Dalam periode tersebut, IHSG berpeluang naik secara bertahap menuju target teknikal yang telah dihitung oleh para analis.





