RuangInvest.com, Jakarta – PT Hero Global Investment Tbk (HGII) kembali menjadi sorotan setelah memutuskan untuk membagikan dividen kepada pemegang saham. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Kamis, 11 Juni 2026.
HGII bagikan dividen Rp2,8 miliar untuk tahun buku 2025. Pembagian dividen ini menjadi yang kedua kalinya secara berturut-turut sejak perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham (IPO) pada awal 2025.
Meski menghadapi tekanan kinerja sepanjang tahun lalu, manajemen tetap menunjukkan komitmen dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Langkah tersebut juga mencerminkan keyakinan perseroan terhadap prospek bisnis jangka panjang di sektor energi baru dan terbarukan.
HGII Tetapkan Dividen Tunai dari Laba Bersih 2025
Dalam agenda RUPST, pemegang saham menyetujui penggunaan laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp17 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar 16 persen atau senilai Rp2,8 miliar akan dibagikan sebagai dividen tunai.
Sementara itu, sebesar Rp100 juta dialokasikan sebagai dana cadangan sesuai ketentuan yang berlaku. Adapun sisa laba akan dicatat sebagai saldo laba ditahan guna memperkuat struktur permodalan perusahaan.
Pembagian dividen tersebut setara dengan Rp0,43 per saham. Jika mengacu pada harga penutupan saham HGII pada Jumat, 12 Juni 2026, maka dividend yield yang dihasilkan berada di kisaran 0,3 persen.
Namun, nilai dividen per saham tahun ini tercatat lebih rendah dibandingkan pembagian dividen sebelumnya. Pada tahun buku 2024, perseroan membagikan dividen sebesar Rp0,7 per saham.
Kinerja HGII Tertekan Akibat Musim Kemarau
Penurunan besaran dividen tidak terlepas dari melemahnya kinerja keuangan perusahaan sepanjang 2025. HGII mencatat pendapatan sebesar Rp63 miliar atau turun 34 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Di sisi lain, laba bersih perseroan juga mengalami penurunan signifikan. Laba bersih yang sebelumnya mencapai Rp38 miliar menyusut menjadi Rp17 miliar atau turun sekitar 55 persen secara tahunan.
Direktur Utama HGII, Robin Sunyoto, menjelaskan bahwa penurunan tersebut terutama dipicu faktor eksternal. Menurutnya, musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dari biasanya berdampak langsung terhadap operasional pembangkit listrik tenaga mikrohidro milik perusahaan.
Berkurangnya debit air menyebabkan kapasitas produksi listrik menurun. Akibatnya, pendapatan dan laba perusahaan ikut tertekan sepanjang tahun lalu.
Fundamental Bisnis Dinilai Tetap Kuat
Robin menegaskan bahwa tantangan yang terjadi selama 2025 bersifat sementara. Faktor cuaca yang kurang mendukung tidak mengubah kekuatan fundamental bisnis perseroan.
Menurutnya, HGII masih memiliki portofolio aset pembangkit yang solid. Selain itu, kebutuhan energi bersih di Indonesia terus meningkat sehingga membuka peluang pertumbuhan yang besar bagi perusahaan.
Karena itu, manajemen tetap optimistis terhadap prospek usaha dalam jangka menengah maupun panjang.
Tren Pemulihan Mulai Terlihat pada Akhir 2025
Meskipun kinerja tahunan mengalami penurunan, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat pada kuartal IV-2025. Pada periode tersebut, pendapatan perusahaan meningkat sekitar 62 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Selain itu, laba bersih juga tumbuh sekitar 79 persen secara kuartalan. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas operasional mulai membaik seiring kondisi cuaca yang lebih mendukung.
Tren positif ini menjadi modal penting bagi perusahaan untuk memasuki tahun 2026 dengan optimisme yang lebih tinggi. Manajemen menilai momentum pemulihan tersebut dapat berlanjut apabila kondisi operasional tetap stabil.
Fokus Ekspansi Proyek Energi Terbarukan
Memasuki kuartal I-2026, HGII terus menjalankan strategi ekspansi untuk memperluas portofolio bisnis. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengikuti berbagai tender proyek energi terbarukan di sejumlah wilayah Indonesia.
Beberapa proyek yang tengah dibidik antara lain:
- Lelang Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sumatera Utara.
- Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi di Kalimantan Barat.
- Peluang pengembangan aset energi baru dan terbarukan lainnya.
- Kerja sama strategis untuk memperkuat kapasitas produksi listrik hijau.
Selain memperluas bisnis, strategi tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan perusahaan pada masa mendatang. Di sisi lain, ekspansi ini menjadi bagian dari upaya HGII dalam mendukung transisi energi nasional menuju sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Dengan tetap membagikan dividen di tengah tekanan kinerja, HGII menunjukkan komitmennya kepada investor. Sementara itu, pemulihan kinerja pada akhir 2025 serta langkah ekspansi yang agresif menjadi faktor yang akan terus dicermati pasar sepanjang 2026.





