RuangInvest.com, Jakarta – Harga bijih nikel diperkirakan menjadi penopang utama kinerja PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) sepanjang 2026. Meski perusahaan harus menyesuaikan produksi akibat pengurangan kuota penambangan, prospek perseroan dinilai tetap menarik berkat kenaikan harga komoditas tersebut.
Kenaikan harga bijih nikel terjadi setelah pemerintah menerapkan skema baru Harga Patokan Mineral (HPM) sejak 15 April 2026. Selain itu, terbatasnya kuota penambangan bijih nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di tingkat industri turut mendorong kenaikan harga jual.
Di sisi lain, pembatasan volume produksi membuat sejumlah pelaku pasar mulai menyesuaikan proyeksi terhadap emiten nikel. Namun, pertumbuhan laba dan pendapatan DKFT pada awal tahun menunjukkan fundamental perusahaan masih berada dalam kondisi yang kuat.
Harga Bijih Nikel Jadi Penopang Prospek DKFT
Dalam riset terbarunya, UOB Kay Hian menilai implementasi skema baru HPM bersama pembatasan RKAB telah menciptakan kondisi pasar yang mendukung kenaikan harga bijih nikel.
Kondisi tersebut dinilai mampu mengimbangi dampak negatif dari penurunan volume produksi. Dengan harga jual yang lebih tinggi, margin keuntungan perusahaan berpotensi tetap terjaga meskipun jumlah penjualan lebih rendah.
Meski demikian, broker tersebut memangkas proyeksi laba bersih DKFT untuk 2026 sebesar 6 persen dan 2027 sebesar 21 persen. Penyesuaian itu dilakukan untuk mencerminkan asumsi volume penjualan yang lebih rendah akibat pembatasan kuota produksi.
Selain itu, target harga saham DKFT juga direvisi menjadi Rp820 per saham dari sebelumnya Rp900 per saham. Walau target harga diturunkan, rekomendasi beli tetap dipertahankan karena valuasi saham dinilai masih menarik dan prospek jangka menengah tetap positif.
Kinerja Keuangan Central Omega Tetap Tumbuh
Optimisme terhadap prospek DKFT tidak terlepas dari kinerja keuangan perusahaan pada kuartal I-2026 yang menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Central Omega Resources membukukan laba bersih sebesar Rp237 miliar pada tiga bulan pertama 2026. Angka tersebut meningkat 74 persen dibandingkan laba bersih Rp137 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, pendapatan perusahaan juga naik 20 persen secara tahunan menjadi Rp506 miliar dari sebelumnya Rp421 miliar pada kuartal I-2025.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan kemampuan perseroan menjaga profitabilitas di tengah perubahan regulasi industri pertambangan nasional. Selain itu, kenaikan harga jual komoditas turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan kinerja.
Direktur Central Omega Resources, Feni Silviani Budiman, mengatakan perusahaan tetap fokus meningkatkan kualitas pendapatan melalui optimalisasi bauran produk dan efisiensi biaya.
“Meskipun kami melakukan penyesuaian volume produksi mengikuti regulasi RKAB terbaru dari pemerintah, fundamental keuangan kami tetap solid dan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pemegang saham,” ujar Feni dalam keterbukaan informasi.
Saham DKFT Masih Menarik Dicermati Investor
Di pasar saham, sentimen positif terhadap kenaikan harga bijih nikel turut tercermin pada pergerakan saham DKFT.
Pada perdagangan Rabu (22/7/2026) pukul 10.13 WIB, saham DKFT menguat 0,79 persen ke level Rp635 per saham. Kenaikan tersebut menunjukkan investor masih memberikan respons positif terhadap prospek perusahaan.
Meskipun pembatasan RKAB berpotensi menekan volume produksi, kenaikan harga komoditas mampu menjadi faktor penyeimbang. Karena itu, pelaku pasar masih melihat adanya ruang pertumbuhan bagi emiten ini.
Sementara itu, kebijakan pemerintah dalam mengatur pasokan bijih nikel juga diperkirakan akan menjaga stabilitas harga di pasar domestik. Jika permintaan global tetap kuat, kondisi tersebut dapat memberikan peluang tambahan bagi produsen nikel nasional.
Bagi investor, perkembangan harga bijih nikel dan kebijakan RKAB akan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan sepanjang tahun. Selain itu, kemampuan perusahaan menjaga efisiensi operasional juga akan menentukan keberlanjutan pertumbuhan laba.
Dengan kombinasi kenaikan harga komoditas, fundamental yang masih solid, serta rekomendasi beli dari analis, saham DKFT dinilai masih memiliki prospek menarik. Meskipun target harga mengalami penyesuaian, potensi pertumbuhan perusahaan tetap terbuka apabila tren harga bijih nikel bertahan pada level yang tinggi.





