GOTO Kembali Cetak Laba Bersih pada Kuartal II 2026

Jaya Purnama

RuangInvest.com | Jakarta – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali mencatatkan laba bersih pada kuartal II 2026. Kinerja positif ini menjadi pencapaian penting karena perusahaan berhasil membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut di tengah berbagai tantangan industri digital.

Perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp252 miliar hingga akhir Juni 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan laba bersih Rp171 miliar yang diraih pada kuartal I 2026. Capaian ini memperlihatkan strategi efisiensi dan pertumbuhan bisnis mulai memberikan hasil yang konsisten.

Selain mencetak laba, GOTO juga mencatat pertumbuhan pendapatan serta peningkatan profitabilitas di berbagai lini usaha. Bisnis teknologi keuangan atau fintech menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar, sementara layanan on-demand tetap bertahan meski menghadapi perubahan kebijakan komisi.

GOTO Kembali Cetak Laba Bersih Berkat Pertumbuhan Pendapatan

Kinerja GOTO sepanjang kuartal II 2026 menunjukkan tren yang positif. Pendapatan bersih tumbuh 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp5,7 triliun.

Sementara itu, Gross Transaction Value (GTV) inti melonjak 83 persen secara tahunan hingga mencapai Rp164 triliun. Peningkatan tersebut mencerminkan aktivitas transaksi dalam ekosistem GOTO yang terus berkembang.

CEO GOTO, Hans Patuwo, mengatakan perusahaan berhasil mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut. Selain itu, EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya dan untuk pertama kalinya melampaui Rp1 triliun.

Menurutnya, bisnis fintech kini menjadi motor pertumbuhan utama perusahaan. Bahkan, profitabilitas bisnis tersebut berhasil melampaui lini On-demand Services untuk pertama kalinya.

Bisnis Fintech Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Segmen fintech yang menaungi GoPay menunjukkan performa paling menonjol sepanjang kuartal kedua tahun ini.

EBITDA yang disesuaikan dari bisnis fintech mencapai Rp481 miliar. Nilai tersebut melonjak 447 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, volume transaksi fintech juga tumbuh sangat pesat. Selama satu kuartal, jumlah transaksi mencapai 2,4 miliar atau naik 91 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut membuat manajemen menaikkan target EBITDA bisnis fintech menjadi Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun sepanjang 2026. Sebelumnya, target hanya berada di kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.

Selain itu, jumlah pengguna yang aktif bertransaksi dalam ekosistem GOTO juga terus meningkat. Annual Transacting Users (ATU) mencapai 71 juta pengguna atau tumbuh 19 persen dibandingkan tahun lalu.

Dampak Komisi 8 Persen terhadap Bisnis Gojek

Di sisi lain, perusahaan juga memberikan penjelasan mengenai dampak kebijakan komisi 8 persen terhadap layanan transportasi roda dua.

Manajemen menyebut dampaknya masih dapat dikendalikan karena layanan yang terdampak hanya memberikan kontribusi sekitar 7 persen terhadap total pendapatan grup.

Hans Patuwo menjelaskan bahwa setelah kebijakan tersebut berjalan selama sekitar satu bulan, kondisi bisnis tetap stabil. Meskipun penyesuaian tersebut tidak mudah, perusahaan yakin dampaknya masih dapat dikelola dengan baik.

Namun demikian, GOTO melakukan penyesuaian target pada lini On-demand Services (ODS) yang menaungi Gojek.

Target EBITDA yang disesuaikan untuk ODS diturunkan menjadi Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun. Sebelumnya, perusahaan menargetkan kisaran Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun.

Penyesuaian ini dilakukan sebagai langkah realistis setelah mempertimbangkan perubahan struktur komisi di layanan transportasi roda dua.

Prospek GOTO Hingga Akhir 2026

Meski melakukan revisi pada bisnis ODS, manajemen tetap optimistis terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Target EBITDA Grup yang disesuaikan masih dipertahankan pada kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun sepanjang 2026.

Optimisme tersebut didukung pertumbuhan bisnis fintech yang terus melampaui ekspektasi. Selain itu, peningkatan jumlah pengguna aktif serta kenaikan volume transaksi dinilai menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan jangka panjang.

Sementara itu, diversifikasi sumber pendapatan juga membuat GOTO tidak lagi terlalu bergantung pada layanan transportasi daring. Bisnis pembayaran digital dan layanan keuangan kini menjadi penopang utama profitabilitas perusahaan.

Ke depan, investor diperkirakan akan terus mencermati kemampuan GOTO menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pengguna, peningkatan laba, serta dampak berbagai kebijakan yang memengaruhi industri transportasi digital.

Dengan kembali mencetak laba bersih pada kuartal II 2026, GOTO menunjukkan bahwa transformasi bisnis menuju perusahaan teknologi yang lebih efisien mulai memberikan hasil nyata. Pertumbuhan pesat sektor fintech menjadi sinyal positif bagi prospek perusahaan hingga akhir tahun, meskipun tantangan pada bisnis layanan on-demand masih perlu diantisipasi secara hati-hati.

Penulis :

Jaya Purnama

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu