Fundamental MINE dinilai tetap kuat di tengah tekanan sektor tambang.

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – Fundamental MINE tetap kuat di tengah tekanan yang melanda ekosistem bisnis pertambangan nasional. Kebijakan baru pemerintah terkait sentralisasi ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) membuat pelaku usaha tambang dan sektor pendukung menghadapi tantangan baru.

Tekanan tersebut tidak hanya dirasakan perusahaan tambang sebagai produsen komoditas. Pelaku jasa penunjang dan kontraktor pertambangan juga mulai menghadapi dinamika yang berpotensi memengaruhi aktivitas bisnis mereka dalam jangka menengah.

Meski demikian, PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) dinilai masih mampu menunjukkan kinerja yang solid. Hal itu terlihat dari pertumbuhan pendapatan, peningkatan likuiditas, serta perbaikan struktur permodalan sepanjang kuartal pertama 2026.

Fundamental MINE Tetap Kuat di Tengah Tekanan Industri Tambang

Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan, mengatakan investor perlu lebih selektif dalam melihat emiten berbasis komoditas di tengah perubahan kebijakan dan dinamika pasar yang sedang berlangsung.

Menurutnya, pendekatan berbasis fundamental menjadi faktor penting dalam menilai prospek perusahaan. Dengan metode tersebut, MINE masih menunjukkan performa yang cukup baik dibandingkan sejumlah emiten lain di sektor yang sama.

“Dengan tantangan yang ada, memang kita perlu melihat emiten secara fundamentalnya, sebagai bentuk kehati-hatian di tengah dinamika yang sedang terjadi di pasar, terutama untuk saham-saham berbasis komoditas,” ujar Alfred dalam keterangan resminya, Jumat (5/6/2026).

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, MINE membukukan pendapatan sebesar Rp676,19 miliar pada kuartal I-2026. Angka tersebut meningkat 18,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp572,8 miliar.

Selain mencatat kenaikan pendapatan, perusahaan juga membukukan laba usaha sebesar Rp87,98 miliar. Sementara itu, laba periode berjalan mencapai Rp61,95 miliar hingga akhir Maret 2026.

Likuiditas Meningkat Signifikan

Alfred menilai kualitas pertumbuhan MINE tidak hanya tercermin dari kenaikan pendapatan. Lebih dari itu, kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas menjadi indikator penting yang menunjukkan kesehatan bisnis secara keseluruhan.

Salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah peningkatan kas dan setara kas perusahaan. Pada akhir Maret 2026, posisi kas tercatat mencapai Rp346,07 miliar.

Angka tersebut melonjak dibandingkan posisi akhir 2025 yang masih sebesar Rp169,32 miliar. Kenaikan ini memberikan ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk mendukung kebutuhan operasional maupun ekspansi usaha.

Menurut Alfred, likuiditas yang kuat sangat penting bagi perusahaan jasa pertambangan. Pasalnya, sektor ini membutuhkan modal kerja dan belanja modal yang relatif besar untuk menjaga kelancaran operasional.

Kas Kuat Jadi Penopang Operasional

Peningkatan kas yang signifikan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menjaga stabilitas keuangan. Selain itu, perusahaan juga memiliki fleksibilitas yang lebih baik dalam menghadapi potensi gejolak pasar.

Dengan posisi kas yang kuat, MINE dinilai memiliki kapasitas yang cukup untuk mendukung pertumbuhan bisnis tanpa harus terlalu bergantung pada pembiayaan eksternal dalam jangka pendek.

Struktur Modal Semakin Sehat

Selain peningkatan likuiditas, perbaikan juga terlihat dari sisi struktur permodalan. MINE berhasil melunasi pinjaman bank jangka pendek yang sebelumnya masih tercatat pada akhir 2025.

Langkah tersebut berdampak positif terhadap tingkat leverage perusahaan. Debt-to-equity ratio (DER) turun menjadi sekitar 0,67 kali pada akhir Maret 2026.

Sebagai perbandingan, DER perusahaan pada akhir 2025 masih berada di level sekitar 0,87 kali. Penurunan ini menunjukkan ketergantungan perusahaan terhadap utang semakin terkendali.

Menurut Alfred, struktur modal yang lebih sehat memberikan ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk menghadapi ketidakpastian pasar. Selain itu, risiko keuangan juga menjadi lebih terukur dibandingkan sebelumnya.

Profitabilitas dan Valuasi Masih Menarik

Dari sisi operasional, kinerja perusahaan juga tetap terjaga. EBITDA kuartal I-2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp210,6 miliar.

Sementara itu, EBITDA margin berada di kisaran 31 persen. Angka tersebut mencerminkan kemampuan bisnis inti perusahaan dalam menghasilkan profitabilitas yang solid di tengah kondisi industri yang menantang.

Tidak hanya dari sisi kinerja, valuasi saham MINE juga dinilai masih menarik. Pada harga saat ini, saham MINE diperdagangkan dengan price earnings ratio (PE) annualized sekitar 3,6 kali.

Selain itu, price to book value (PBV) tercatat sekitar 0,9 kali. Valuasi tersebut tergolong rendah untuk perusahaan yang masih mampu mencatat pertumbuhan usaha secara konsisten.

Alfred menilai kombinasi pertumbuhan bisnis dan valuasi murah menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. Apalagi, perusahaan juga telah menunjukkan komitmen dalam memberikan dividen kepada pemegang saham.

Potensi dividend yield tahun buku 2026 bahkan diperkirakan dapat berada di atas 8 persen apabila kinerja perusahaan tetap terjaga hingga akhir tahun.

Dividen Perkuat Kepercayaan Investor

Kemampuan MINE membagikan dividen setelah baru satu tahun melantai di bursa menjadi sinyal positif bagi pasar. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kapasitas arus kas yang memadai.

Di sisi lain, langkah tersebut juga memperlihatkan keseimbangan antara strategi pertumbuhan usaha dan pemberian imbal hasil kepada pemegang saham.

Alfred menegaskan bahwa kombinasi pertumbuhan pendapatan, peningkatan likuiditas, penurunan leverage, serta profitabilitas yang kuat menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan bisnis perusahaan.

Ketika perusahaan mampu menjaga laba sekaligus memperkuat neraca keuangan, profil risikonya menjadi lebih sehat. Kondisi ini umumnya menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan investor dalam menilai prospek pertumbuhan jangka panjang sebuah emiten.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu